
Zalfa mengulang panggilan, menelepon Arkhan.
“Ya, halo!” sahut Arkhan di seberang.
“Arkhan, acara pernikahan Mas Ismail udah hampir dimulai, kamu kapan datang?”
“Hm?”
“Hm gimana?” geram Zalfa dengan suara rendah, namun ia berusaha menguasai kekesalannya supaya tidak ngamuk-ngamuk di telepon.
“Acaranya hari ini?”
Pertanyaan itu membuat Zalfa hampir saja menelan ponselnya bulat-bulat. Arkhaaaann….
“Ya ampun, Arkhan. Jadi kamu melupakannya? Apa kamu nggak ingat kalau aku udah dua malam menginap di ruamh Mas Ismail untuk urusan apa? Tentu untuk urusan pernikahannya bukan?”
Arkhan diam saja. Hanya suara nafas pria itu saja yang terdengar. Nafas yang setiap malam menjadi irama menarik di telinga Zalfa.
“Arkhan, bicaralah!”
“Aku harus bicara apa?”
Zalfa meletakkan telapak tangannya di kening. Pusing. Ia pun akhirnya malas membahas. “Aku tunggu kedatanganmu.”
“Ya, aku akan datang. Sekarang aku mandi dulu.”
Mandi? Jam segini pun Arkhan belum mandi. Lalu jam berapa lagi Arkhan akan datang jika dia baru mau mandi? Dada Zalfa rasanya penuh dan sesak. Untung saja Arkhan tidak ada di hadapannya sehingga kukunya yang sedikit tajam itu tidak mencakar wajah tampan suaminya. Di acara yang menurut Zalfa penting, Arkhan menganggapnya sepele.
“Jadi kamu belum mandi?” lirih Zalfa.
__ADS_1
“Tepatnya terbangun karena suara panggilan teleponmu.”
Zalfa memejamkan matanya sebentar. Harus memperbanyak istighfar supaya tetap bisa bersabar dan memusnahkan emosi.
“Jangan lupa ajak Mama dan Elia,” lirih Zalfa menahan kesal.
“Ya.”
Zalfa rasanya ingin menjewer telinga Arkhan, atau mengetuk hidung mancung pria itu. sejak tadi kehadirannya ditunggu, tapi dia melupakannya.
Zalfa kembali masuk ke rumah, duduk diantara para tamu menyaksikan acara. Ijab qobul dimulai sesaat setelah penghulu menanyakan, “Apakah acara bisa dimulai.” Dan semua yang bersangkutan pun menyetujui.
Tepat pada saat Ismail menjulurkan tangan dan menjabat tangan penghulu, sebuah kegaduhan membuat gerakannya terhenti.
“Stop! Stop! Jangan diteruskan!”
Suara histeris membuat sejurus pandangan mengarah ke sumber suara. Atifa menerobos masuk, berdiri di tengah-tengah ruangan dengan mata berair, wajah sembab dan dan basah.
Bisikan pun mendengung memenuhi ruangan seperti segerombolan lebah. Seluruh yang hadir mempertanyakan kehadiran Atifa.
Zalfa sontak bangkit berdiri dan mendekati Atifa, memegang erat lengan tangan wanita itu dan berusaha menyeretnya keluar. “Tinggalkan rumah ini! Jangan membuat acara ini menjadi kacau!”
Atifa tidak peduli dengan tindakan Zalfa. Sorot tatapan matanya tertuju ke arah Ismail. “Pernikahan ini nggak sah! Aku nggak mau Mas ismail menikah lagi! Kenapa kamu tega menikah lagi dengan wanita lain? Kupikir kamu masih sangat mencintaiku dan mengharap untuk kembali padaku. Aku ini istrimu, Mas.”
Ismail berdiri. Dengan tenang dia berkata, “Lebih tepatnya mantan istri. Kita sudah berpisah.”
“Mas, apa kamu udah bener-bener ngelupain aku? Sampai akhirnya sekarang kamu malah menikah dengan pembantumu ini? ”
“Tini lebih mulia dari wanita peselingkuh sepertimu. Maaf jika aku harus mengatakan ini di depan orang, kau yang memaksaku untuk mengatakannya.”
__ADS_1
“Enggak. Enggak. Pernikahanmu ini nggak sah. Aku nggak mengijinkan kamu nikah lagi, Mas. Aku masih istrimu. Aku ini istrimu.”
“Kamu nggak berhak mengatakan kalau pernikahanku dengan Tini nggak sah, kita nggak ada urusan lagi. Kita udah pisah.”
Ketegasan Ismail membuat Atifa kikuk dan wajahnya memerah seketika. Seketika itu, Atifa ambruk dan bersimpuh di depan kaki Ismail sambil menangis tersedu-sedu.
“Mbak, tolong tinggalkan rumah ini jika tujuan Mbak hanya untuk emngacaukan acara. Ini acara sacral, tolong jangan emmbuat kekacauan di sini!” pinta Ustad Bukhori.
Atifa tidak peduli dnegan ucapan Ustad Bukhori.
“Tolong, jangan tinggalin aku. Aku nggak rela kamu menikahi wanita lain. Aku masih sangat mncintaimu.” Atifa memegang kaki Ismail, membuat pria itu melangkah mundur hingga kakinya terlepas dari pegangan Atifa.
“Pak, Mas, tolong bawa perempuan ini ke luar! Dia hanya ingin mengacaukan saja!” pinta Zalfa pada beberapa orang di sekelilingnya.
“Tolong dibantu, Pak. Bawa saja mbak itu ke luar karena ini acara sakral dan tidak bisa utuk main-main,” sambung Ustad Bukhori.
Spontan beberapa orang lelaki bangkit berdiri dan menyeret Atifa ke luar.
Dengan segenap tenaga, Atifa memberontak, ingin melepaskan diri dari tangan-tangan yang menyeretnya. Dia juga berteriak-teriak mengatakan kalau dia adalah istrinya Ismail.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1
.