
Tak lama kemudian Emy muncul membawakan makanan yang berada dalam kemasan. Dia menyajikan makanan tersebut ke meja. Zalfa melarang Emy saat wanita itu akan meninggalkan ruangan utama. Zalfa meminta supaya Emy tetap tinggal di sana dan bergabung menikmati hidangan.
Arkhan muncul dan berdiri di sisi Zalfa. Arumi menyingkir saat tahu Arkhan berdiri di sisi Zalfa. Perasaannya masih berbeda saat harus beerdekatan dengan Arkhan, pria yang pernah memberi ancaman kepadanya. Dia menjauh dan memilih berdiri di sisi Tini.
“Arkhan, aku menunggumu sejak tadi.” Ismail menepuk pundak Arkhan.
“Hm. Aku baru saja bangun tidur,” jawab Arkhan sambil membuka kemasan makanan dan memakannya.
“Bangun tidur? Ayolah Arkhan, ini sudah terlalu siang untuk ukuran bangun tidur.”
“Jangan berpikir buruk dulu, subuh aku bangun dan shalat. Tidak ada salahnya aku tidur lagi setelah melaksanakan kewajibanku,” protes arkhan.
“Jangan bilang Zalfa yang menjadi penyebabmu terbangun dan shalat subuh, dia yang membangunkanmu bukan?” tebak Ismail.
Arkhan mengangkat alis. “Kau salah. Jadi kau pikir Zalfa yang lebih dulu bangun lalu dia membangunkanku untuk shalat subuh? Ya memang benar begitu.”
__ADS_1
“Ha haaa….” Sontak seisi ruangan pun tergelak. Di awal kalimat, Arkhan seakan sedang memberi penjelasan bahwa pernyataan Ismail adalah salah, tapi di akhir kalimat, dia membenarkannya.
Zalfa bahkan tidak menduga jika Arkhan bisa bergurau juga.
“Arkhan, Zalfa bermaksud ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan dengan mengundang kami kemari. Aku mengajak Soleh turut serta. Dan menurutku tidak ada kegiatan yang akan menjadi berkah jika tanpa menyebut nama Allah. Sebaiknya kita berdoa bersama-sama demi kebaikan penghuni rumah baru ini. juga untuk janin yang ada di dalam kandungan Zalfa,” kata Ismail penuh kewibawaan.
Seluruhnya mendengarkan pernyataan Ismail.
“Arkhan, kata Zalfa, kamu paham dengan bahasa Arab, kamu juga paham dengan doa-doa yang sering dibacakan oleh ustaz saat di pesantren. Maukah kamu bacakan doa sekarang?” tanya Ismail.
Arkhan kini menjadi pusat perhatian seluruh ruangan. Entah kenapa Arkhan merasa tidak nyaman dan mendadak hatinya seperti mencelos atas pertanyaan Ismail. Dia seperti dianggap memiliki ilmu lebih tinggi dibanding yang lain. Hal itu seperti menjadi sebuah tuntutan dalam jiwanya.
“Arkhan, aku percaya padamu.”
“Aku tidak seperti yang kamu duga.”
__ADS_1
“Apakah kau tidak yakin dengan dirimu sendiri? Lafaz dari ayat-ayat yang kau bacakan sangat bagus, lalu apa lagi? Kamu juga paham dengan artinya. Aku percaya kalau kamu meyakini maknanya.”
Perkataan Ismail membuat Arkhan seperti didesak hingga ia tidak bisa lagi mengelak. Lalu dengan khidmat, Arkhan pun menengadahkan tangan, melafazkan doa-doa yang baik untuk kebaikan seluruh penghuni rumah.
Kulit tubuh Zalfa meremang mendengarkan suara merdu Arkhan dalam melafazkan doa, demikian juga hati Arkhan sendiri pun bergetar saat lidahnya mengucap asma Allah. Hatinya basah.
Doa dilafazkan dengan irama yang sangat menyentuh, mirip seperti irama mengaji. Seluruh yang mendengar pun meneteskan air mata, kecuali Emy yang hanya menunduk.
Arkhan tergugu dan bahkan hampir terhenti membaca doa saat kelopak matanya sedikit terangkat dan melihat beberapa orang di sekitarnya meneteskan air mata. Hati arkhan benar-benar berubah melo hingga seperti tersengat saat menyaksikan tetes demi tetes air mata Zalfa.
Apakah sosok sepertinyakah yang mampu membuat manusia lain menangis saat berdoa? Wajahnya mendadak bimbang, hatinya seperti kebas karena merasa tidak pantas. Arkhan menyudahi doa.
BERSAMBUNG
.
__ADS_1
.
.