
Zalfa terdiam merasakan kenikmatan pijitan Arkhan. Arkhan benar-benar pintar memijit, rasanya pas sekali, pijitannya tidak terlalu kuat dan tidak pula terlalu ringan. Tangan Arkhan bergerak ke bagian atas tubuh Zalfa, menyusuri punggung Zalfa dengan pijitan yang menenangkan. Pria itu hanya menggunakan jempol untuk memijit, sedangkan empat jari kiri dan kanan terlepas begitu saja.
Tubuh Zalfa mulai menegang saat merasakan sentuhan empat jari-jari Arkhan di bagian sensitifnya. Jempol pria itu memang fokus memijit punggung, namun empat jari yang melambai mengenai bagian terlarang. Dasar Arkhan!
“Udah udah! Aku nggak terbiasa dipijit.” Zalfa menggulingkan tubuhnya ke samping menjauhi Arkhan, hingga kini menelentang.
“Apa kamu nggak menikmati pijitanku?” Tanya Arkhan.
“Pijitanmu nggak enak. Aku nggak suka dipijit,” celetuk Zalfa terpaksa berbohong. Dasar pria, memang suka nakal dan mencari kesempatan. Meski kesempatan itu dilakukan pada istri sendiri, tapi tetap saja dia mencuri-curi kesempatan. Zalfa bangun dan duduk.
“Kalau begitu kau pijit saja tubuhku!” Arkhan melepas kemejanya dengan gerakan cepat dan meletakkannya ke sisi ranjang tempat duduknya. Ia juga melepas kaos dalamnya. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di sisi Zalfa dengan posisi menelungkup.
Ugh… Dasar Arkhan, akal bulusnya begini nih. Zalfa menurunkan kakinya ke lantai hendak turun dari ranjang.
“Hei, mau kemana kamu?” Arkhan menarik lengan Zalfa hingga wanita itu setengah terbaring akibat tarikan tangan Arkhan.
“Aku mau mengambil lotion atau baby oil untuk mengurutmu.”
“Sungguh? Kau tidak sedang ingin melarikan diri dari tugasmu bukan?”
“Arkhan, kamu apa-apaan, sih? Bagaimana bisa aku melarikan diri? Kemanapun aku lari, kamu pasti menemukanku.”
__ADS_1
Arkhan tersenyum tipis dan melepas lengan Zalfa. Wanita itu menuju ke meja rias dan mengambil body lotion. Ia kembali naik ke ranjang, duduk di sisi tubuh Arkhan. Kemudian ia mulai mengolesi punggung Arkhan dengan body lotion dan memijitnya dengan gerakan lembut.
“Agak kuat!” titah Arkhan.
“Ini udah kuat.”
“Tapi sentuhanmu tidak terasa.”
“Tubuhmu terlalu keras dan berotot jadi nggak bisa merasakan sentuhanku. Aku nggak punya tenaga sekuat kamu, Arkhan. Jadi beginilah rasanya pijitanku.”
Arkhan tidak protes lagi.
Sepuluh menit berlalu, Zalfa sudah merasakan pegal pada jari-jarinya yang sejak tadi melakukan aksi pijit di punggung Arkhan. Ia mengintip mata Arkhan yang kini sudah terpejam. Sepertinya pria itu sudah tertidur. Artinya tugasnya sudah selesai. Jari-jarinya tidak perlu lagi melakukan aksi pijit.
“Apa bagian punggung udah selesai? Sekarang bagian lenganku!” Arkhan membalikkan tubuhnya dan kini dalam posisi menelentang. Ia menjulurkan lengan tangannya ke pangkuan Zalfa.
Zalfa tertegun menatap lengan kekar yang tergeletak di pangkuannya. Kirain tugasnya sudah selesai, ternyata masih ada yang baru. Zalfa pun memijit lengan keras itu tanpa menggunakan lotion.
Beberapa menit memijit, tiba-tiba tangan Zalfa melayang sesaat setelah dipegang oleh Arkhan dan diletakkan di atas perut pria itu.
Zalfa mengernyit menatap telapak tangannya yang ditempelkan ke permukaan perut Arkhan.
__ADS_1
“Bagian lengan udah selesai, sekarang perutku yang tidak nyaman. Mulailah memijit di sini!” Arkhan mengusapkan telapak tangan Zalfa di permukaan perutnya yang rata.
Entah kenapa Zalfa merasa gugup merasakan telapak tangannya yang bersentuhan dengan kulit perut Arkhan. Meski ia tidak tahu cara memijit, namun ia tetap menjalankan perintah Arkhan, memijit permukaan perut berotot itu. jemarinya bergerak-gerak asal elus. Yang penting mijit.
Zalfa mengernyit saat tangan Arkhan kembali menyentuh pergelangan tangannya. Mungkin gerakannya memijit salah, sehingga Arkhan akan membetulkan gerakannya. Namun dugaannya salah. Arkhan menuntun telapak tangannya bergerak turun, dan terus turun ke bawah.
“Arkhan!” pekik Zalfa sambil menarik tangannya yang hampir saja menyentuh ‘milik’ Arkhan.
Sudut bibir Arkhan tertarik membentuk senyum tipis. “Kenapa?”
“Jangan nakal, iiiih.” Zalfa masih merasa canggung. Mukanya pun merona.
Arkhan masih tersenyum, ia bangkit bangun dan mendorong tubuh Zalfa dengan dadanya hingga wanita itu terbaring. “Ini tidak salah, bukan? Kenapa tidak boleh?”
Zalfa ingin meninju Arkhan supaya senyuman di wajah tampan itu tidak lagi tampil. Dia memang nakal sekali. “Aku nggak mau.”
“Baiklah. Biar tanganku saja yang berjuang kalau kamu tidak mau melakukannya,” bisik Arkhan menatap wajah cantik Zalfa di bawahnya.
Satu tangan Arkhan menjulur mematikan lampu dinding. Ruangan menjadi remang-remang hanya disinari temaram lampu nakas. Tentu saja Arkhan tidak mau membuang kesempatan emas di setiap malamnya. Tidak hanya sebatas minta dipijit saja, dia harus melakukan lebih dari itu. Dan dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Terang saja, Zalfa tidak bisa libur walau hanya untuk satu malam saja.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Masih mau kasih poin untuk Arkhan gak nih? 🤗🤗🤗🤗