SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
284.


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju tempat pendaftaran dan mendapat antrian nomer tiga. Itulah untungnya pergi ke rumah sakit di pagi hari, mereka mendapat antrian di depan. Kemudian mereka pindah menuju ke kursi tunggu bagian poli kandungan Spog.


Antrian pertama sudah masuk.


Zalfa duduk di salah satu kursi tunggu. Dia menunggu dengan sabar sambil mengelus-elus perutnya. Pagi itu kondisi rumah sakit sangat padat, dipenuhi oleh orang-orang yang mengantri dengan berbagai macam penyakit. Berderet manusia memenuhi kursi tunggu. Arkhan menghela nafas melihat begitu padatnya ruangan itu. untung saja Ac di sana cukup dingin sehingga tidak membuatnya kegerahan. Arkhan masih berdiri celingukan.


“Kemarilah, duduk!” Zalfa meraih pergelangan tangan Arkhan dan menariknya pelan.


Tubuh Arkhan terbungkuk sedikit mengikuti tarikan tangan Zalfa. Pandangannya mengitari keramaian di sekitar dengan ekspresi stress. Dia terlihat kurang menyukai situasi hiruk pikuk di sekitar sana. Mulai dari kesibukan yang hilir mudik, anak-anak menangis dan berkejaran, ibu-ibu yang menangisi kondisi kandungannya, serta banyak lagi lainnya.


“Aku tunggu di luar saja,” ucap Arkhan membuat Zalfa terperangah kaget.


Sontak wajah Zalfa berubah kecewa. “Kalau kamu maunya nungguin di luar, kenapa sejak tadi ngotot mau nganterin aku ke sini? Tau gitu, mendingan nggak usah nganterin aku sampai rumah sakit, Mas Arkhan. Dengan kamu mengantarku sampai di sini lalu pergi dan menungguku di luar, kamu sama aja seperti supir, bukan suami.”


Arkhan menarik sudut bibirnya mendengar gerutuan Zalfa yang terkesan manja di telinganya. “Baiklah.” Arkhan mengalah lalu membalikkan badan hendak duduk. Sayangnya kursi di sisi Zalfa lebih dulu di duduki oleh orang lain, tak lain wanita yang kondisinya tak jauh berbeda dengan Zalfa, kemungkinan usia kehamilannya sudah Sembilan bulan.


Pandangan Arkhan mengeliling di sekitar sana, kursi sudah penuh. Baru beberapa menit saja dia berdiri di sana, kursi yang tadinya kosong melompong, kini mendadak dipenuhi lautan manusia. Beginilah kondisi rumah sakit semenjak ada program berobat gratis dari pemerintah, rumah sakit dibanjiri dengan manusia.


“Ya sudah, aku tunggu di sini saja.” Arkhan berdiri di sisi Zalfa.

__ADS_1


Panggilan untuk antrian kedua pun menggema. Suasana keramaian di sekitar membuat Arkhan menjadi seperti orang bingung. Pasalnya, suara di sekeliling riuh sekali, melebihi pasar. Apakah dia salah masuk rumah sakit? Sehingga begini keadaannya, seharusnya dia tidak memilih rumah sakit itu. Bukan Arkhan yang memilih rumah sakit itu, melainkan Zalfa. Sebab itulah satu-satunya rumah sakit terdekat serta searah dengan perjalanan Arkhan menuju acara tabligh akbar.


Arkhan menundukkan kepala saat merasakan tangannya diremas oleh Zalfa. Wanita itu meringis merasakan sesuatu dalam perutnya.


Arkhan langsung jongkok untuk menyeimbangkan pandangannya dengan Zalfa.


“Apa yang terjadi? Kamu sakit?” Tanya Arkhan menatap wajah Zalfa yang memucat.


“Perutku entah keram atau apa. Aku juga nggak tahu.”


“Akan kupanggil dokter,” kata Arkhan dengan ekspresi panik.


“Nggak usah. Kita nggak butuh waktu lama untuk mengantri, bentar lagi juga giliran kita. Mungkin ini sering terjadi pada ibu hamil.”


Benar apa kata Zalfa, antrian ketiga mendapat panggilan. Segera Arkhan merengkuh tubuh Zalfa dan membimbing wanita itu memasuki ruangan. “Perlu kugendong?” Tanya Arkhan saat Zalfa terlihat meringis memegangi perutnya.


“Enggak. Aku bisa jalan,” jawab Zalfa.


Dokter perempuan berjilbab putih tersenyum menatap kedatangan pasien.

__ADS_1


Zalfa duduk di kursi depan dokter, Arkhan menemani di sisinya. Asisten dokter tampak sibuk membersihkan peralatan dengan alcohol. Asisten lainnya setia berdiri di sisi bed.


“Selamat pagi, Nyonya! Keluhannya apa?” Tanya dokter ramah.


“Perut saya seperti keram dan janin di dalam kandungan bergerak sangat kuat sekali,” jawab Zalfa.


Kemudian dokter menanyakan kapan HPHT terakhir dan menghitung prediksi persalinan, usia kandungan Zalfa beru tujuh bulan, kemungkinan persalinan sekitar dua bulan lagi. Dokter meminta Zalfa berbaring di atas bed.


Arkhan berdiri di sisi bed menggenggam jemari Zalfa. Dia merasakan jemari itu sangat dingin.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Arkhan dengan tatapan dalam ke mata Zalfa.


Zalfa tersenyum dan mengangguk, meski nyeri dalam perutnya terasa luar biasa, namun ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Dokter melakukan pemeriksaan, baik USG dan lain sebagainya.


TBC


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2