SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
220.


__ADS_3

Pagi itu, Arkhan sedang main catur dnegan Reza. Berkali-kali main, Reza kalah terus. Arkhan akhirnya bosan, dia pun berolah raga, push up, lari-lari kecil dan angkat besi. Setelah badannya basah oleh peluh, ia pun mandi. Reza juga ikut mandi.


Saat Arkhan keluar kamar mandi, Reza sudah menunggu di depan pintu. Astaga, Reza kini seperti bayangan Arkhan, yang selalu mengikuti Arkhan kemana pun pergi.


Arkhan menuju ke ruangan makan bersama dengan Reza. Perut Arkhan sudah benar-benar lapar. Inti sari makanan kiriman Zalfa yang dia santap tadi malam, sepertinya sudah terkuras untuk berolah raga.


Antrian tidak panjang karena sebagian besar tahanan lain sudah mengambil makan dan duduk di meja pilihan masing-masing.


Ruangan luas sudah dipenuhi oleh ratusan tahanan berseragam biru yang sedang menyantap makanan. Mereka makan sambil mengobrol, bersahut-sahutan, tertawa terbahak, bahkan ada yang bicara kotor meski tidak ada alasan untuk mengucapkannya. Dan masih banyak perangai lainnya. Segala perilaku tercermin di sana. Ada yang pendiam, kalem, sangar, murah senyum, galak, sok berkuasa, dan lain sebagainya.


Arkhan mengambil piring dan menyendok makanan. Ia berjalan menuju meja-meja yang berderet rapi, yang kiri kanannya dipenuhi oleh manusia.


Praang…!


Arkhan mengepalkan kedua telapak tangan saat piring melamin berukuran besar di depannya melayang dan menelungkup di lantai, otomatis isinya pun menyentuh lantai. Meski nasi tersebut tanpa lauk, hanya dengan tumis timun dan goreng tempe, namun perut Arkhan pagi itu sudah benar-benar lapar.


Arkhan mengangkat wajah menatap sang pelaku, Beno. Setelah Reza terbebas dari perlakuan sebagai budak Beno, bahkan dengan pembebasan budak seperti sistem membeli barang, kini Beno masih saja tak henti mengganggu Arkhan. Kemarin Arkhan dipalakin dan dimintain duit lebih dari biasanya, Arkhan hanya diam dan tidak mau melawan. Kemarin juga nasi milik Arkhan yang sudah dia letakkan di depan untuk segera disantap, dirampas dan dimakan oleh Beno, namun Arkhan memilih diam dan pergi, tanpa mempedulikan Beno dan gengnya yang saat itu terbahak menertawakannya. Hari ini, sudah kelewat batas. Kesabaran Arkhan pun habis. Sepertinya Beno tidak suka jika ada sosok yang memiliki kelebihan dari dirinya.

__ADS_1


Beno dengan santai melintasi Arkhan dan duduk di dekat teman-temannya yang sudah lebih dulu duduk di sana. Kemudian ia menoleh ke arah Arkhan sambil tergelak.


Sontak kejadian itu mengundang perhatian sejurus pandangan. Ya, Arkhan kini menjadi bahan tontonan.


"Yeaaah... Liat tuh dia berani nengokin gua! Dia pikir bisa sok jagoan di kandang mcan begini. Sini lu, lap kaki gua!" Beno menyiram kakinya dengan air minum kemudian meletakkan ujung kakinya ke meja.


Gemuruh tawa terdengar riuh, menertawakan Arkhan.


Sehelai kain lap jatuh di lantai depan Arkhan setelah Beno melempar ke sana. Arkhan membungkuk memungut kain lap. Ia dengan gontai melangkah mendekati Beno. Lalu menjulurkan tangan ke arah kaki Beno.


Kreeek!


Itu suara kaki Beno yang diangkat oleh Arkhan dan ditekuk kuat-kuat sampai mengeluarkan derak. Satu tangan Arkhan meraih piring berisi makanan milik Beno di meja dan menumpahkannya ke muka Beno.


Hening.


Seketika benar-benar hening hingga terdengar suara erangan dari mulut Beno menahan sakit.

__ADS_1


“Arrrgkkhhh…” Beno sungguh tak kuasa menahan erangannya meski sudah sekuat tenaga ia menahan sejak tadi, ia malu jika harus merintih dan terlihat kesakitan di depan banyak orang.


“Mulutmu begitu busuk! Rasakan nikmatnya dianiaya seperti kau yang gemar menganiaya orang lain!” Arkhan menggertak gram. Rahangnya mengeras dan wajahnya yang putih memerah. Beberapa menit ia menahan posisi penekukan kaki Beno yang dipelintir, kemudian dia lepaskan. Otomatis tubuh Beno terjatuh ke lantai sesaat setelah Arkhan melepaskan kakinya.


Masih hening. Seluruh tahanan terdiam menyaksikan adegan tersebut, sampai-sampai semuanya menghentikan gerakan makan.


“Sekali lagi kau berani padaku, habislah kau!” ancam Arkhan dnegan tatapan muak, kemudian ia balik badan dan melangkah pergi.


Beno mengepalkan tangan, tatapan matanya mengarah ke punggung Arkhan yang berjalan menjauh dengan sorot membunuh. Dia menggerak-gerakkan kakinya yang sangat sakit setelah ditekuk dan dipelintir oleh Arkhan, kemudian dia bangkit berdiri dengan gerakan agak sulit, berlari secepat kilat mendekati Arkhan dengan raut dipenuhi amarah hingga wajahnya yang hitam pun berubah hitam padam akibat darah segar yang menyembur mengaliri permukaan wajahnya.


TBC


Next part akan ada kejutan mengenai kabar tentang Arkhan, pantengin kejutannya di instagramku @emmashu90


Bagi yang ngikutin instagramku, pasti akan dapet bocorannya 😁😁🥰😘


Jangan lupa sumbangin poin untuk Arkhan. 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2