
Bab 5. Ancaman Mafia
Bia sadar bahwa pernikahannya dengan Bustan sama sekali tidak diketahui banyak orang. Mereka menikah cukup disaksikan oleh warga sekitar di pemukiman rumah Bia saja.
Dari pihak Bustan, hanya beberapa orang yang katanya adalah keluarga dekat Bustan saja yang mengetahuinya. Katanya kedua orang tua Bustan sedang di luar kota sehingga tidak bisa hadir di acara itu. dan sekarang Bia baru tahu bahwa orang- orang yang mengaku sebagai keluarga Bustan di acara pernikahan itu hanyalah orang sewaan.
Fix, Bia menjadi istri yang disembunyikan, yang hanya dibutuhkan untuk melahirkan keturunan saja.
"Aku nggak bisa hidup bersamamu, aku mau pisah," tegas Bia.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi." Bustan mendominasi.
"Kamu nggak bisa memaksaku, Mas." Sabiya berusaha mengumpulkan keberanian. Dan benar, keberanian itu akhirnya muncul dalam dirinya. Dia tidak gentar lagi. Dia bahkan sanggup menatap mata gelap Bustan.
"Well, silakan kalau kamu mau pergi dariku. Tapi jangan harap ayahmu akan baik- baik saja."
Bia membelalak kaget. "Kamu mengancamku?"
"Tidak ada cara lain."
Bia menelan. Ya Tuhan, Bia benar- benar sudah menikah dengan mafia kejam. Bia merasa semakin asing pada Bustan. Sosok yang memiliki uang banyak, yang tentunya bisa melakukan apa saja. Termasuk membuat ayah Sabiya celaka meski Bustan duduk diam di rumah. Semuanya mudah bagi pria itu.
"Kau harus tahu bahwa aku punya segalanya, aku bisa melakukan apa pun." Bustan membenahi kerah kemejanya dengan sentakan kuat hingga malah membuat kemejanya tampil berantakan.
Bia bisa saja menolak dan membantah Bustan, tapi jika sudah menyangkut keselamatan ayahnya, apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada lagi yang ia miliki selain ayah dan adiknya.
“Carilah wanita lain, jangan aku!” pinta Sabiya.
"Kau sekarang menjadi ratu. Menikmati kekayaan. Bahkan ayahmu pun bisa kecipratan senang. Semuanya kau miliki. Mobil pun akan aku belikan. Lebih baik ikuti kemauanku! Atau… aku bisa melenyapkan siapa saja, baik kau atau pun ayahmu dalam hitungan detik. Itu mudah sekali bagiku." Bustan mengeluarkan senjata api, membuat Sabiya terkejut bukan main.
Jantung Bia pun berdetak kencang. Ia tak pernah melihat senjata api sebelumnya, dan sekarang ia melihat benda mengerikan itu ditodongkan ke arahnya. Nyawa seperti di ujung tanduk. Kulitnya meremang hebat. Andai saja pelatuk ditarik, maka tamatlah riwayatnya saat itu juga.
Bustan menurunkan senjata api dan memasukkannya ke balik kemeja. Ia lalu melewati Bia dan melangkah pergi.
Ah tidak. Bia tidak boleh termakan ancaman Bustan. Ia harus bisa memberikan keselamatan ayahnya. Jangan sampai ayahnya menjadi korban. Dialah yang harus melindungi ayahnya dari ancaman.
Bia berjalan menuju kamar, ingin mengemas semua pakaiannya dan membawanya pergi. Ah, niatnya urung. Ia tidak mau ketahuan Bustan. Jika sampai Bustan melihatnya mengemasi pakaian, pasti pria itu akan melarangnya pergi. Lebih baik ia pergi tanpa membawa apa pun.
Langkah lebar membawanya sampai ke luar. Ia menaiki taksi. Perjalanan lumayan jauh, memakan waktu hingga lebih dari setengah jam, ia sempat terjebak macet beberapa menit sebelum akhirnya ia sampai ke rumah ayahnya.
__ADS_1
Mata Bia menatap haru rumah tersebut. Baru satu malam ia meninggalkan sang ayah, rasanya ia sudah sangat merindukannya. Ingin memeluk tubuh kurus yang sudah menua itu.
Setelah Sabiya menikah, ayahnya Sabiya tinggal sendirian. Seharusnya ada Rania, si bungsu yang menemani ayahnya di rumah jika saja Rania sudah lulus dari pondok pesantren. Tapi bungsunya itu masih harus menyelesaikan sekolahnya dulu.
"Ayah!" Bia menghambur menuju ke rumah. Tangannya mengguncang handle pintu. Oh… sayangnya pintu dikunci.
Ayah kemana? Jam segini biasanya ayah duduk manis menunggu warung kecilnya. Tapi warung yang menyatu dengan rumah itu tutup. Pintu rumah pun dikunci.
Bia mencari kontak sang ayah di hape. Tak sulit mencari nama itu sebab berada paling atas sebagai nomer favorit.
Panggilan telepon tersambung sesaat ia menekan nama itu.
"Ayah!" panggil Bia setelah durasi panggilan berjalan.
"Ya, Bia? Ada apa, Nak?" sahut suara kebapakan di seberang. Suaranya menenangkan hati Bia.
"Ayah dimana? Warung ditutup?"
"Ayah sekarang sedang ada di vilanya Nak Bustan. Tadi barusan ayah dijemput supir, diajak liburan dulu. Yaa... Dikasih uang untuk liburan juga. Itung- itung, ayah kan juga butuh refreshing biar isi kepala ayah jadi segar. Ini rumahnya bagus sekali," sahut Sudirjo, ayahnya Bia.
Mendengar suara sang ayah yang bahagia, Bia terdiam. Ayahnya ternyata gembira sekali diajak liburan.
"Memangnya kenapa ayahmu disuruh pulang?"
Bukan suara Sudirjo, melainkan suara Bustan. Hp sudah berpindah tangan.
Bia tergugu di tempat. Mulutnya tak bisa bicara lagi. Jadi ayahnya sekarang sedang bersama dengan Bustan?
Ya ampun, Bustan gerak cepat. Bia ingat ancaman Bustan tadi, yang mengatakan supaya menuruti semua kemauan Bustan jika tidak mau ayahnya kenapa- napa.
Bustan melangkah menjauhi mertuanya. Kemudian ia berkata, "Percayalah ayahmu akan baik- baik saja di vilaku, selagi kamu mau ikuti suamimu. Kau masih mencintai ayahmu kan? Maka jangan kecewakan aku!"
Tubuh Bia terasa lemas. Ia terduduk di kursi teras.
Sial! Bia kalah selangkah. Bustan benar- benar nekat. Pria itu berhasil membawa ayahnya pergi. Berperang melawan orang berduit memang susah. Mereka bisa saja melakukan apa pun dengan mengandalkan uang serta kejahatannya itu. Sedangkan Bia? Membujuk sang ayah supaya menjauh dari Bustan juga akan percuma, melawan penjahat sadis seperti Bustan bukan dengan fisik, tapi kecerdasan.
Well, Bia harus main cantik.
***
__ADS_1
Bia kembali pulang ke rumah barunya. Sudah ada Bustan di rumah itu. Bustan memang seperti katak, mudah saja melompat ke sana sini. Baru saja Bustan menelepon dan mengatakan bahwa dia berada di vila bersama Sudirjo, sekarang pria itu sudah ada di rumah.
“Alangkah hebatnya kamu berpura-pura perhatian di depan ayah dan membawanya jalan-jalan. Beginikah caramu menakut- nakuti aku, Mas? Kamu bawa ayah supaya aku mencemaskannya karena beliau ada bersama denganmu? bahkan sekarang pun aku nggak tahu dia ada di mana, sedang apa, dan apakah dia baik- baik saja?” Bia mengulum senyum getir. Keberaniannya untuk bicara akhirnya tumbuh meski sebenarnya jantungnya terasa kebas. “Aku semakin merasa asing padamu!”
Bustan melangkah mendekati Bia. Ia membungkuk, kedua tangannya menapak di sisi kiri dan kanan kursi Bia. Membuat jarak pandang mereka mengikis. Tatapan mata keduanya beradu. Sorot mata itu tajam.
“Aku hanya butuh rahim mu, Bia. Aku membutuhkannya.” Bustan mengelus permukaan perut Bia.
Ya Allah… Bia sudah terlanjur menyerahkan keperawanannya kepada Bustan. Bia kalah selangkah. Entah beberapa kali Bustan melakukan terhadapnya malam itu. bahkan Bia melakukannya dengan paduan yang penuh cinta. Ia menyerahkan segenap jiwa dan raga seutuhnya. Kini, cinta itu berbaur dengan benci. Ya, benci dan cinta dirasakan secara bersamaan.
Rasanya tidak adil. Bia menyerahkan jiwa dan raganya karena cinta, namun pria itu mengambil keperawanannya karena hal lain.
Elusan tangan Bustan di permukaan perutnya membuatnya merasa kesal, namun juga kulitnya meremang. Ada gairah dan hasrat di balik semua itu.
“Kamu bingung akan mewariskan kemana hartamu itu jika nggak punya keturunan. Kamu juga malu dicecar banyak orang tentang anak. Ya, kan?” bisik Bia.
Bustan tidak menjawab. Ia mengecup pipi Bia. Kedua tangannya memeluk Bia dan mengelus punggung wanita itu.
“Lepas!” Bia memberontak, bangkit berdiri menjauh dari Bustan.
Dengan sigap Bustan, menarik lengan Bia. Mencengkeram erat lengan itu. pria dingin bak gunung everest itu menatap tajam Bia. Tubuh Bia seketika tertarik dan berbalik lalu menubruk tubuh Bustan ketika tarikan tangan Bustan menyentaknya.
“Aku sedang membutuhkanmu!” Suara Bustan terdengar datar.
Bia menghela napas. “Aku tidak.”
“Kau tau kan kalau menolak suami itu dosa?” Bustan mendominasi.
“O ya? Mengancam istri juga dosa.”
Bustan tak peduli dengan perkataan Bia. Ia mengangkat tubuh kecil itu dan melangkah mundur duduk di sofa. Memposisikan tubuh Bia duduk di atasnya dengan kedua paha Bia yang mengalung di pinggang Bustan.
Saat Bia mendorong dada Bustan hendak kabur, Bustan dengan cepat melingkarkan satu lengan kokohnya ke pinggang Bia. Tubuh mungil itu pun terseret maju.
Wajah keduanya tanpa jarak. Napas Bustan terasa hangat menampar pipi Bia.
***
Bersambung
__ADS_1