
Arkhan kembali menggeret Zalfa, tangannya menyambar kunci motor yang tergantung di dinding saat melintasi ruangan depan.
“Pakai ini!” titah Arkhan menyerahkan helm yang baru saja dia ambil dari motor.
“Ya tapi kita mau kemana?” tanya Zalfa sambil memakai helm.
Arkhan duduk di atas motor sambil memegangi stang, mesin motor sudah menyala. Helm sudah terpasang di kepalanya. “Naik saja, nanti kau juga tahu.”
Zalfa menurut, dia membonceng.
“Heeei, mau kemana kalian? Aku ikut. Ajaklah aku bersamamu, Kak Arkhan.” Elia berteriak sambil berlari mengejar motor yang dikendarai oleh Arkhan.
Arkhan menarik gas hingga motor melaju kencang. Zalfa hanya bisa menoleh dan menatap Elia yang berlari kencang mengejar motor. Hingga akhirnya gadis itu berhenti dengan bibir manyun dan sorot mata tajam.
“Elia marah lagi, tuh. Berhenti bentar, dong!” Zalfa mengguncang bahu Arkhan.
__ADS_1
“Biarkan saja dia. mau sampai kapan dia terus-terusan mengikutiku? Sudahlah, jangan pikirkan itu. Kau seperti tidak mengenal Elia saja.” Arkhan geleng-geleng kepala.
“Dia itu adikmu, cuek banget sih sama dia?”
“Aku jauh lebih paham dengan sifatnya, Zalfa. Jangan cemaskan dia. kau tahu sendiri kalau motor kita ini hanya cukup untuk berdua sjaa. Lalu dimana kuletakkan Elia jika dia mu ikut? Dia sudah SMP tapi masih saja seperti anak SD.”
Zalfa tidak tahu lagi harus berkata apa. Arkhan dan Elia sama-sama keras kepala. “Jadi kamu maunya berduaan saja denganku, begitu?” Zalfa mulai menggoda, ujung jarinya menggaruk singkat perut Arkhan.
Arkhan hanya melirik Zalfa melalui spion.
“Mas Arkhan, ini tempat apaan? Sejuk banget?” Zalfa menatap sekeliling. Pemandangan hijau yang indah, mata pun terasa segar memandangnya.
“Duduk!” Arkhan menarik kursi saat mereka sudah sampai di sebuah meja tepat di ujung jembatan yang seperti sudah dikondisikan untuk disusun di sana. Tidak ada meja lain selain meja yang sudah tersedia makanan dan dua gelas minuman di atasnya.
Zalfa duduk di kursi yang sudah ditarik oleh Arkhan. Dia menatap Arkhan yang duduk di depannya. Angin sepoi-sepoi mengibarkan baju dan jilbabnya. Sebuah payung menjadi atap tempat duduk mereka. Jarak sekitar dua puluh meter dari sana, ada sebuah warung makan yang kleihatan ramai dikunjungi orang.
__ADS_1
Zalfa bahagia sekali diajak ke sana. Sejak kapan Arkhan menjadi romantis begini? Biasanya juga cuek dan tidak mau peduli dnegan hal-hal seperti itu?
“Mas Arkhan, belajar dari mana kok bisa bikin acara beginian?” tanya Zalfa.
“Kenapa harus belajar? Apa kau pikir aku tidak bisa melakukan hal-hal spelee begini?” sungut Arkhan. “Minum?” Ia mengangkat gelas berisi sirup dan mengarahkannya kepada Zalfa.
Dengan senang hati, Zalfa melakukan hal yang sama hingga gelas mereka beradu. Lalu mereka meminum sirup masing-masing.
Eh tunggu dulu, dalam rangka apa Arkhan mengadakan acara unik begini? Zalfa mengingat-ingat momen yang mungkin saja spesial. Ah ya ampun, kenapa Zalfa bisa sampai lupa jika hari itu adalah hari pernikahan mereka. Dalam artian, Arkhan tentunya sedang merayakan hari pernikahan? Muka Zalfa tampak cerah, dia hanya tinggal menunggu Arkhan mengucapkan happy anniversary. Oke, sekarang Zalfa mendingan pura-pura lupa saja.
TBC
.
.
__ADS_1
.