
“Arkhan, aku sungguh takjub dengan perjalanan hidupmu yang tidak monoton, penuh dengan warna-warni kehidupan,” kata Soleh sambil meneguk kopinya sedikit demi sedikit. “Berawal dari sekolah di tempat yang tidak seharusnya, kemudian sekarang justru kau mencintai pendidikan yang kau dapatkan.”
“Kau salah, aku tidak mencintai pendidikan itu.” Arkhan menatap Soleh.
“Lalu?” Soleh balas menatap Arkhan. “Kau hidup dengan Zalfa sebagai muslim bukan? Lalu bagaimana bisa kau tidak mencintai ajaran yang dapatkan sebagai muslim?”
“Inilah alasannya kenapa aku tidak masuk Islam sejak dulu. Sebab mungkin hatiku masih tertutup sesuatu yang hitam dan hidayah tidak bisa tembus. Aku bahkan masih mencari-cari sesuatu yang dapat membuatku cinta kepada agamaku. Setelah sebagian besar pelajaran dalam agama kupelajari, sepertinya semua itu tidak kupraktikkan karena hanya menjadi sebatas ilmu lalu saja. Tapi sekarang aku sudah menemukan apa yang membuatku merasa cinta kepada agamaku.”
__ADS_1
Soleh mendengarkan dengan seksama.
“Aku tidak mengenal siapa Tuhan, bagaimana aku bisa cinta kepada Tuhan? Bagaimana aku bisa mencintai agamaku? Tapi itu tidak kupertanyakan lagi, dan sekarang aku merasa sangat mencintai Islam, sebab aku sudah tahu kalau Allah itu ada saat Zalfa kembali hamil. Ini sebuah kekuasaan.”
Soleh tersenyum.
“Luar biasa.” Soleh mengangguk. “Kisah cintamu ini patut dibukukan. Aku juga sempat terkejut saat mendengar pemberitaan mengenai peretasan itu. Tapi aku yakin kau akan menjadi pria baik seperti tuntunan yang kau pelajari. “Soleh menghela nafas. “Arkhan, aku juga pernah merasakan jatuh cinta pada seorang wanita.” Soleh tidak mau menyebutkan nama wanita yang dia maksud itu adalah Zalfa. Dia harus mengubur dalam-dalam karena hitu hanyalah masa lalu. “Lalu tiba-tiba wanita yang aku cintai menikah dnegan orang lain. Aku sempat berpikir bahwa aku harus menikah dnegan wanita itu tanpa peduli bahwa dia sudah menikah dnegan orang lain. Aku meyakini kalau dia akan berpisah dengan suaminya dan kemudian menikah denganku. Dan setelah itu aku menyadari satu hal, bahwa aku sedang diuji oleh yang maha Kuasa, aku tidak boleh mendahului Tuhan dengan memastikan kalau wanita itu adalah jodohku. Intinya, iman manusia naik turun. Tinggal manusianya yang mesti menjaga hati supaya istiqomah.”
__ADS_1
Kali ini Arkhan yang tersenyum. Selalu kata-kata hebat yang keluar dari lisan sahabatnya.
“Kau jaga Zalfa baik-baik, jaga kandungannya. Ini adalah amanah besar dalam hidupmu. Kau akan merasaka sesuatu yang jauh lebih agung saat bayimu lahir nanti. Percayalah!” pesan Soleh.
“Tentu.”
Setelah mengobrol panjang lebar, Soleh pun akhirnya berpamitan pulang.
__ADS_1
BERSAMBUNG