
Seseorang berlari-lari kecil memasuki pekarangan rumah dari arah jalan, sisi jalan depan rumah telah dipadati roda dua yang terparkir, membuat gadis itu memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah, tepat di penghujung parkiran motor.
“Arumi!” panggil Zalfa menatap gadis cantik berkebaya itu dengan senyum. Ia sengaja mengundang tetangganya itu untuk menghadiri acara keluarga. Zalfa memang baru mengenal Arumi, namun Zalfa merasa langsung akrab dengan Aumi sesaat setelah mereka mengobrol banyak hal saat di mobil menuju pulang dari kafe. Bahkan Zalfa merasa langsung dekat seperti sudah lama mengenal gadis itu.
Arumi merapikan sanggulnya dengan kedua tangannya. “Maaf, aku telat. Aku ke salon dulu tadi. Apa acaranya masih berlangsung?”
“Aku seneng banget kamu bisa hadir. Belum telat, kok. Acara masih berlangsung. Masuklah!” Zalfa mempersilakan dan membimbing Arumi memasuki ruangan dan duduk di tempat yang agak lapang, tepatnya di dekat ustad Bukhori.
Arumi mengambil ponsel dan mengabadikan ijab qobul yang sedang berlangsung. Dia belum menikah, wajar saja ingin mengabadikan momen pernikahan.
Acara begitu khidmat dan hening. Kemudian keheningan berubah setelah ustad Bukhori melafazkan doa yang diaminkan oleh para hadirin.
__ADS_1
Sepanjang doa, dalam hati Zalfa memohon pada Tuhan agar pernikahan ismail kali ini diberkahi, dinaungi kasih sayang, dan diberi jalan seluas-luasnya untuk meraih kebahagiaan dalam berumah tangga. Atifa adalah masa lalu bagi Ismail, smeoga saja masa lalu Ismail tidak akan menjadi masalah di masa depan. Setiap orang memiliki masa lalunya masing-masing. Dan masa lalu bukanlah untuk dipermasalahkan, tapi untuk dijadikan pengalaman sehingga setiap manusia bisa bercermin dari masa lalu.
Usai berdoa, Zalfa maju dan bersalaman dengan Ismail. Dia mencium punggung tangan kakaknya sangat lama, penuh takzim. Air matanya menetes di punggung tangan itu. hatinya basah menyaksikan pernikahan kali ini.
“Semoga Mas meraih kebahagiaan, semoga rumah tangga mas diberkahi, dan semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Selamat menempuh hidup baru, Mas. Jadilah imam yang baik untuk Tini.” Zalfa tidak bisa berkata banyak, hanya itu yang dia ucapkan sebab lehernya terasa tercekat. Entah kenapa, untuk mengatakan hal itu di saat hari pernikahan begini, rasanya benar-benar mengharukan.
“Terima kasih, Zalfa! Kamu jangan menangis. Kalau pun di sini ada yang seharusnya menangis, itu adalah aku. Sebab akulah yang merasa bangga padamu, sudah banyak yang kamu korbankan untukku. Bahkan aku sebagai kakakmu, tidak bisa menjagamu dengan baik.”
“Jangan katakan itu, Mas udah sangat sempurna menjadi kakakku. Aku bangga memiliki kakak sepertimu.”
“Justru aku yang makasih sama Mas Ismail dan juga kamu. Karena kalian udah mau menerima aku,” singkat Tini malu-malu.
__ADS_1
“Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.” Zalfa memeluk Tini sebentar, kemudian mencium pipi kiri dan kanan wanita yang sekarang telah resmi menjadi kakak iparnya itu. Perasaan Zalfa sangat lega karena akhirnya kakaknya menikah dengan wanita baik-baik.
Zalfa bangkit berdiri, melangkah pergi melewati banyaknya orang yang sedang menikmati makanan ringan.
TBC
KLIK LIKE DI SETIAP CHAPTER 🤗 Biar Arkhan naik ranking
.
.
__ADS_1
.
..