
Pagi ini Zalfa ingin sekali memasak rendang. Meski masakan itu seharusnya dihindari untuk para pecinta langsing, namun entah kenapa untuk sementara waktu Zalfa mengabaikan keinginannya dalam rangka menghindari makanan berlemak. Berat badan Zalfa dalam sebulan terakhir naik beberapa kilo. Dan Zalfa sebenarnya ingin mengurangi berat badannya agar tetap dalam jalur ideal. Tapi keinginan tetaplah keinginan, Zalfa pokoknya ingin memasak rendang.
Zalfa membelalak sesaat melihat isi kulkas kosong melompong. Ia lupa kalau seminggu terakhir, dia tidak berbelanja. Terkadang semangatnya dalam berkutat di dapur mendadak lumpuh saat tidak ada Arkhan. Eh, ternyata keberadaan Arkhan di rumah mungil itu berpengaruh besar. Terbukti Zalfa jadi kurang bersemangat memasak, berbelanja dan berdandan saat tidak ada Arkhan. Akhir-akhir ini Arkhan jarang berada di rumah karena harus disibukkan dengan kegiatan yang Zalfa sendiri tidak tahu kesibukan apa itu.
Semangat Zalfa yang berniat untuk memasak rendang tidak pudar meski bahan-bahannya tidak tersedia. Dia harus ke pasar sekarang. Tapi ia berpikir sebentar, tidak enak jika dia berbelanja sendirian saat kebutuhan dapur menumpuk, artinya dia harus berbelanja dalam jumlah besar. Dia harus membawa seseorang untuk membantunya di pasar nanti. Tapi siapakah yang bisa diajak ke pasar? Zalfa merasa segan jika mengajak Maria, mertuanya itu sudah tua, tentu tidak sopan jika Zalfa mengajak Maria berbelanja.
“Elia!” Zalfa tersenyum di pintu kamar Elia seat setelah membuka pintu kamar itu.
Elia yang saat itu sedang menggoyang-goyangkan kepala mendengarkan musik yang dia putar melalui speaker, mengangkat wajah dan menatap Zalfa. “Ada apa?”
“Ayuk ke luar sebentar.”
“Apa?” Elia mengarahkan kupingnya kepada Zalfa sebagai isyarat kalau dia tidak mendengar perkataan Zalfa.
“Kecilin volume musiknya!” pinta Zalfa. Tapi percuma, Elia tidak mendnegar kata-kata Zalfa karena suara musik lebih keras dibanding suara Zalfa.
Elia tampak asik menggoyang-goyangkan kepala tanpa mengabaikan Zalfa yang komat-kamit entah mengatakan apa.
Zalfa masuk lalu mengecilkan volume musik.
“E eeeh… Apaan sih Kak Zalfa ngegangguin aja, deh,” kesal Elia dengan muka cemberut. “Nggak bisa bangte melihat orang seneng.”
“Bukan begitu, aku mengajakmu bicara dan kamu nggak denger.”
__ADS_1
“Ya udah, ngomong apaan? Cepetan!”
“Anterin kakak ke pasar, yuk!”
“Hah? Ke pasar?” Elia membelalak kaget. “Yang bener aja? Seumur hidup, aku nggak pernah diajakin mama ke pasar.”
“Dulu memang kamu hidup mewah dan tempat yang dipijak adalah restoran elit, tapi kan sekarang hidup kita udah berubah.” Zalfa berbicara dengan nada lembut dan senyum lebar supaya Elia tidak tersinggung.
“Ya udah, ke supermarket aja deh.” Elia memberi ide yang menurutnya cemerlang, namun sangat buruk di telinga Zalfa.
“Harganya mahal.” Zalfa mengibaskan tangan ke udara.
“Terus ini kak Zalfa serius mau ngajakin aku ke pasar? Tempat yang bauk dan padat banyak emak-emak itu, kan? Banyak cabe, daging, bawang dan macem-macem sayuran. Haduuuh… Enggak banget, deh.” Elia berfgidik ngeri membayangkan pasar yang sumpek.
“Enggak! Aku nggak mau.”
Duh, gini mat punya adik ipar manja yang demennya Cuma menginjak lantai bersih dan tempat-tempat berkelas. Zalfa jadi merasa harus bekerja sendirian.
“Kakak pergi aja sana sama Kak Arkhan. Dari pada kerjaan Kak Arkhan molor melulu, mendingan dia dikasih kegiatan tuh. Mentang-mentang hari libur begini, Kak Arkhan bangun siang dibiarin.” Muka Elia cemberut.
Zalfa tersenyum mendengar ide Elia, kali ini ide bocah itu lumayan jenius.
“Kak Arkhan udah kayak bayi gede aja, dimanjain sama Kak Zalfa. Cinta banget apa ya sama Kak Arkhan? Walau cinta, nggak mesti dibiarin gitu dong bangun siang-siang begini,” celetuk Elia sok ngerti.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Elia, Zalfa pun geleng-geleng kepala. Elia tahu apa coba mengenai urusan cinta-cintaan orang dewasa? Haduh, anak sekarang memang unik.
“Hus, tau apa kamu soal cinta? Ck ck ck…” Zalfa melepas nafas panjang. “Kak Arkhan tidurnya molor karena dia kecapean. Dia kan juga jarang di rumah, bisa seminggu sekali dia pulang, wajar kan kalau pulang-pulang mesti banyak istirahat?”
“Eh, Kak, kemarin kak Arkhan bilang mau bikinin keponakan untukku, loh? Itu melalui kakak, kan?”
“Hus! Kamu tuh ya!” Kepala Zalfa lama-lama bisa pusing mendengar ucapan Elia. Bocah seusia Elia apa ya mungkin tidak paham dengan hal-hal speerti itu? dan memang Elia ini polos sekali.
“Kok, hus sih?”
Zalfa tidak bisa berkomentar lagi. Dari pada semakin bocor kan malah kacau. Lagian, Arkhan juga nyeleneh, bisa-bisanya ngomong begitu kepada Elia, berabe jadinya kan. Zalfa juga yang jadi bingung saat mendapat pertanyaan dari elia tentang keponakan. Hadeeeuh…
“Ya udah, kakak pergi ke pasar dulu.” Zalfa melenggang keluar kamar Elia. Tujuannya kali ini adalah kamarnya sendiri.
TBC
KLIK LIKE DULU SEBELUM NEXT 😘
.
.
.
__ADS_1