
Sesampainya di rumah, Zalfa melenggang menaiki anak tangga, namun langkahnya terhenti di tengah-tengah anak tangga ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke lantai bawah dan mendapati Elia berdiri di sana.
“Kak Zalfa, aku ingin belajar melukis sekarang,” seru Elia dengan senyum tipis. Wajahnya mendongak demi bisa menangkap wajah Zalfa yang berada di atas.
Zalfa menoleh ke arah Arkhan yang berdiri di sisinya. Pria itu menatap Zalfa seperti mengetahui maksud tatapan Zalfa yang sedang meminta pendapat. Kemudian ia berkata, “Penuhi saja permintaan Elia, dia bisa menggigitmu kalau ditolak terus-terusan.”
Elia memelototkan matanya mendengar uacapan Arkhan, sayangnya Arkhan tidak melihat ekspresi sangar Elia sebab tatapan mata Arkhan kini tertuju ke wajah Zalfa.
“Pergilah ke kamar bawah, tempat belajarnya di sana!” titah Arkhan.
Zalfa mengnagguk namun kemudian pandangannya tertuju ke barang-barang perbelanjaan di tangannya. “Bolehkah aku meminta tolong?”
Arkhan mengangkat dagu sebagai isyarat menanyakan apa yang bisa dia lakukan untuk membantu Zalfa.
__ADS_1
“Bawain belanjaan ini ke kamar,” ujar Zalfa sambil menunjukkan barang-barang belanjaan di tangannya.
Manik mata Arkhan bergerak tertuju ke paper bag di tangan Zalfa.
“Eh… Ya sudah biar aku aja yang bawa ke atas.” Zalfa mendadak tidak enak hati karena merasa telah memerintah suaminya.
Arkhan menarik lengan Zalfa saat wanita itu memutar tubuh hendak melangkah ke atas. Pria itu mengambil alih barang-barang belanjaan di tangan Zalfa kemudian melenggang membawanya ke kamar atas.
Zalfa tersenyum tipis melihat kepergian Arkhan.
Zalfa malah tersenyum melihat kekesalan Elia, ia bergegas menuruni anak tangga dan mengikuti Elia menuju sebuah kamar.
Zalfa disambut dengan pemandangan unik saat memasuki kamar tersebut. Begitu banyak lukisan dengan tema pemandangan alam, binatang dan lautan. Zalfa tersenyum mengamati beberapa gambar yang dipajang di dinding. Gambar masih harus diperbaiki karena terlihat belum sempurna. Meski secara tekhnis, Elia sudah mendapatkannya.
__ADS_1
“Apa lukisanku jelek?” Tanya Elia sembari menatap wajah Zalfa yang menghadap lukisan buatannya.
Zalfa menggeleng sambil tersenyum. “Bagus. Tapi aku akan bantu lukisanmu supaya kelihatan seperti real.”
“Asik.”
Zalfa meminta agar Elia menyiapkan peralatan melukis, yaitu cat air, kuas satu set, serta kain putih. Kemudian ia mulai mengajari Elia melukis. Bukan hanya teori saja yang dia ajarkan, meliankan juga tekhnis melukis. Baik mengarsir, mebentuk gelap dan terang, cara agar gambar terlihat berbeda antara jauh dan dekat, serta banyak hal lainnya. Untungnya, Elia begitu cepat menangkap apa yang dia ajarkan sehingga tidak butuh waktu banyak untuk Zalfa menerangkan. Zalfa mempraktikkan cara melukis di lembaran kain miliknya, dan Elia juga mempraktikkannya di lembaran kain yang berbeda. Hasilnya menakjubkan, Elia mampu meniru apa yang dipraktikkan oleh Zalfa. Tidak sia-sia mulut Zalfa berbuih mengajarkan tekhnis melukis pada Elia.
“Kamu udah paham?” Tanya Zalfa saat lukisan sudah selesai dan hasilnya memuaskan.
“Aku paham. Tapi aku akan sering memintamu mengajariku supaya hasil karyaku memuaskan,” jawab Elia merasa bangga pada hasil lukisannya. Ia tak bosan memandangi lukisan miliknya yang ternyata sangat indah.
“Kamu gemar melukis, apa Kakakmu nggak punya hobi yang sama sepertimu?”
__ADS_1
“Enggak. Dia hobinya nyari duit.” Pandangan mata Elia masih terfokus ke arah lukisannya.
TBC