
Zalfa bergegas mengenakan mukena putih dan menggelar sajadah di lantai. Tepatnya dua sajadah. Satu sajadah untuk Arkhan, dan sajadah lainnya untuk Zalfa. Ya, Zalfa memiliki banyak sajadah dan dia sengaja mempersiapkan untuk Arkhan.
Sembari menunggu Arkhan, Zalfa duduk di atas sajadah sambil bersalawat dan berzikir. Kemudian ia menoleh saat sudut matanya menangkap kaki Azlan yang berjalan mendekat ke arahnya. Senyum Zalfa melebar menatap penampilan Arkhan, pria itu tampak semakin tampan mengenakan baju koko putih, sarung biru dan kopiah hitam di kepala.
Ya Tuhan, ternyata Arkhan sudah memiliki pakaian islami. Bahkan kopiah di kepala menambah kesan menawan dalam diri Arkhan. Pria itu menatap sajadah yang sudah terbentang untuknya, kemudian pandangannya tertuju ke sajadah yang tersampir di lengannya.
“Aku udah persiapkan sajadah untukmu,” ujar Zalfa.
Arkhan balik badan, mengembalikan sajadah ke lemari. Kemudian ia berdiri di sajadah yang sudah dipersiapkan. Zalfa berdiri dengan tatapan menuju ke sajadah. Sekujur tubuhnya meremang saat mendengar suara Arkhan menyerukan takbir. Bahkan saat tiba pada bacaan Al Fatihah, Zalfa meneteskan air mata mendengar lantunan merdu suara Azlan saat melafazkannya. Tajwidnya tidak diragukan lagi, iramanya bagus, suaranya merdu dan bacaannya sangat indah. Zalfa terharu.
Ya Tuhan, terimakasih. Setelah semua ujian yang Engkau berikan, Engkau tunjukan keagungan-Mu dengan menunjukkan sosok suami yang begitu hebat dalam melantunkan ayat-ayat-Mu. Seorang mu’alaf mampu membaca ayat-ayat Al Qur’an dengan begitu indahnya, betapa bahagianya telinga yang mendengar. Setelah ini, kumohon tunjukkanlah kebesaran-Mu dengan melunakkan hati suamiku, agar dia menjadi suami yang baik dan soleh, yang hatinya bersih dari segala dosa, yang selalu berusaha untuk mendekatkan diri pada-Mu. Zalfa berdoa dalam hati saat sujud panjang yang dilakukan oleh Arkhan.
Usai salam, berzikir dan berdoa, Zalfa mencium punggung tangan Arkhan penuh takzim.
Zalfa mengangkat wajah, menatap Arkhan yang juga tengah menatapnya. Hati Zalfa berdesir mendapat tatapan teduh dari Arkhan.
“Arkhan!” panggil Zalfa dengan lirih.
“Ya?”
__ADS_1
“Makasih, ya!”
“Makasih untuk apa?”
“Udah jadi imamku,” jawab Zalfa.
“Berarti kamu akan mengucapkan puluhan kali kalimat yang sama saat aku menjadi imam shalatmu berkali-kali.”
Celetukan Arkhan mengundang tawa renyah Zalfa. Hingga tanpa sadar Arkhan memperhatikan tawa itu dengan seksama. Tawa itu membuatnya terdiam dan memaku, entah kenapa tawa renyah Zalfa mampu membuatnya seperti sedang memikul beban. Pria sepertinyakah yang menjadi sumber kebahagiaan Zalfa?
“Ya sudah, kita turun, yuk!” ajak Zalfa sambil melepas mukena dan melipatnya.
“Aku akan masak sop untukmu, kamu mau sarapan kan?” tawar Zalfa.
“Aku tidak suka sop,” jawab Arkhan berusaha mengelak supaya ia tidak menghabiskan waktu bersama Zalfa.
“Kalau begitu aku akan masak yang lain. Apa makanan kesukaanmu?” Zalfa melipat sajadah miliknya kemudian meraih sajadah yang diduduki Arkhan hingga pria itu menggeser duduknya. Zalfa kemudian melipat sajadah itu.
“Aku makan di luar saja.” Arkhan berdiri dan melepas pakaian kemudian mengganti dengan kemeja dan celana panjang.
__ADS_1
“Apa kamu nggak mau mencicipi masakanku?” Zalfa mengikuti Arkhan yang kini berdiri di depan meja.
“Lain kali saja.” Arkhan mengambil ponsel dari nakas dan mengantonginya, lalu meraih dompet dari dalam laci meja dan memasukkannya ke kantong yang lain.
“Aku sedang ingin menghabiskan waktu bersamamu.” Zalfa mengikuti Arkhan sampai ke pintu.
“Aku sedang ada kerjaan.”
“Kerjaan apa?”
“Apakah aku harus menyebutkan secara detil padamu?” Arkhan mengancing ujung lengan kemejanya.
“Nggak perlu. Aku ikut saja denganmu.” Zalfa berdiri di depan Arkhan hingga membuat langkah Arkhan terhenti beberapa centi sebelum sempat Arkhan menabrak tubuh Zalfa yang mendadak memotong jalannya.
“Zalfa!” Arkhan menyebut nama itu dengan gigi mengerat akibat kesal. Namun anehnya, ia tidak bisa memuntahkan emosinya saat menatap wajah istrinya itu. seketika lidahnya menjadi kaku seperti papan.
“Kamu marah?” Ekspresi Zalfa langsung berubah sedih.
TBC
__ADS_1