
Sore itu, Zalfa dan Tini memasak bersama di dapur. Zalfa sengaja menghabiskan waktu di sana bersama Tini untuk membicarakan banyak hal, tak lain tentang Ismail. Hanya topik mengenai Ismail-lah yang mereka bicarakan hingga sampai mereka selesai memasak.
“Kamu kan udah tahu selera makannya Mas Ismail, jadi nggak akan canggung lagi untuk ngelayanin dia. He hee…” celetuk Zalfa sambil meletakkan hasil masakan ke meja makan.
“Kakak bisa aja,” tini tersipu malu.
“E eeh… Besok kalau udah merit sama Mas Ismail, jangan panggil aku kakak lagi. Sebab kamu jadi kakak iparku, dan aku yang jadi adikmu. Semuanya bakalan kebalik, akulah yang panggil kamu kakak.”
Tini hanya tersenyum.
“Memangnya, gimana awal-awalnya Mas Ismail nembak kamu?” seloroh Zalfa.
“Jangan Tanya-tanya itu lagi, deh. Malu aku tu.”
“He heeee… Masak sama-sama cewek aja malu, sih?”
Tini menggeleng sebentar sambil terus tersenyum.
Pandangan Zalfa dan Tini kini tertuju ke Ismail yang baru saja memasuki ruangan.
“Hmm… Kalian memang pinter untuk urusan masak,” ujar Ismail sambil mengamati meja makan yang terlihat menarik oleh empat macam lauk.
__ADS_1
“Ini calon istrimu yang masak, Mas. Aku Cuma ngebantuin aja,” celetuk Zalfa sambil menyenggol lengan Tini.
Yang disenggol hanya tersenyum.
“Tini, kamu nanti panggil Soleh kemari, ya! Ajak dia makan malam bersama! Mumpung ada Zalfa juga,” ujar Ismail yang baru saja memasuki ruangan makan dan melihat Zalfa sedang menyusun lauk-pauk ke meja makan bersama dengan Tini.
Tini mengangguk.
Zalfa terdiam. Sebenarnya ia ingin berpamitan pulang saat itu juga, namun mendengar Ismail berkata demikian, ia pun mengurungkan niatnya. Ia tidak mau membuat Ismail kecewa.
“Zalfa, kamu udah bilang ke Arkhan belum kalau malam ini kamu pulang agak telat?” Tanya Ismail sambil meneguk air mineral. Kondisi tubuhnya sudah sedikit membaik setelah minum obat.
“Ooh… Iya.” Zalfa kembali tertegun. Ia tadi sudah mengabari Arkhan mengenai kepergiannya ke rumah ismail, apakah masih perlu ia berpamitan pada Arkhan kalau ia akan pulang telat? Arkhan sepertinya tidak membutuhkan kabar apapun tentangnya, terbukti pria itu tampak cuek pada semua pesan dan telepon darinya.
Tak lama kemudian Soleh muncul. Pria itu mengucap salam dan dijawab oleh Ismail.
Soleh mengambil posisi duduk di sisi ismail, smeentara Zalfa dan Tini bersebelahan.
“Apa aku telat?” Tanya Soleh.
“Enggaklah,” jawab ismail.
__ADS_1
“Wow, menarik sekali. Aromanya menggugah selera,” ujar Soleh. “Ini siapa yang masak?”
“Tini.”
“Kak Zalfa.”
Serentak Tini dan Zalfa menjawab. Kemudian keduanya tergelak.
Kemudian mereka yang menghuni meja makan pun mulai menyantap hidangan.
Baru saja Zalfa membuka mulut untuk suapan pertama, ia mengangkat wajah saat mendengar suara langkah kaki menuju ke ruangan makan.
Seisi meja makan saling pandang mendengar langkah kaki tersebut.
“Seperti ada orang masuk rumah. Apa kau kemari bersama orang lain?” Tanya Ismail pada Soleh.
Soleh menggeleng. “Aku sendirian.”
Sejurus pandangan tertuju ke ambang pintu saat melihat sosok yang kini berdiri di sana. Tak lain Arkhan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Poin dong poin. Aku tu lelet ngetiknya karena poinnya menipis. Hiks hiks. Dukung cerita ini dengan memberikan poin ke novel ini dong. Biar aku kembali bangkit dan semangat update setiap hari lagi