SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
221.


__ADS_3

Bruk!


Tubuh Beno terjerembab jatuh ke lantai sesaat setelah ia melayang terbang bak pendekar di film laga berusaha untuk memberi hadiah tendangan ke punggung Arkhan. Namun dalam hitungan sepersekian detik, Arkhan dengan gesit mengelak hingga tendangan hanya mengenai udara.


Indera pendengaran Arkhan masih sangat tajam untuk bisa menangkap suara di sekitarnya, termasuk langkah kaki Beno meski tanpa sandal yang berlari menuju ke arahnya.


Sebentar saja Beno meringis sesaat setelah bok*ngnya terbanting di lantai. Detik berikutnya ia bangkit bangun dan kembali menghadiahi terjangan dan tendangan bebas ke arah Arkhan.


Tentu saja Arkhan tidak mau tinggal diam. Ia membela diri. Mengerahkan tangkisan dan perlawanan kepada Beno. Tubuh Beno yang ambruk mengenai meja-meja dan kursi-kursi membuat benda-benda itu terdorong dan berserakan. Bahkan makanan di atas meja panjang pun tumpah.


Perkelahian sengit menjadi tontonan.


Beberapa kali Arkhan mendapat pukulan di wajah dan lengan, namun tidak sebanding dengan pukulan yang didapatkan oleh Beno. Entah sudah berapa kali Beno tersungkur mencium lantai, ambruk ke meja-meja, dan jatuh nungging menelungkup di baskom berisi kuah, namun Beno tidak mau mengaku kalah. Sudah babak belur wajahnya, ia tetap bangkit dan terus memburu Arkhan.

__ADS_1


Sampai akhirnya Beno tersungkur sesaat setelah mendapat tendangan kaki Arkhan. Dia sudah sangat tidak berdaya. Pelipisnya mengeluarkan darah segar, bibirnya jontor, pipinya lebam kebiruan, mencuat darah segar dari sudut bibir. Entah luka apa lagi di balik badannya yang tertutup pakaian.


Kepala Beno tergeletak di lantai, matanya masih nanar menatap Arkhan yang berdiri di jarak dua meter darinya. Arkhan mengusap tetesan darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Deru nafasnya terdengar keras. Peluhnya membanjiri sekujur tubuh, mengalir di dada bidangnya. Sorot matanya tertuju ke wajah Beno.


“Cuh!” Beno meludah. “Akan kupotong kejantananmu, hei pengecut! Tunggulah kematianmu, Biad*b! Kau tidaka kan pernah merasakan nikmatnya surga dunia setelah ini, Anj*ng!” lirih Beno dnegan suara serak menahan sakit di sekujur tubuhnya. Bahkan sudah hampir mati pun, Beno masih bisa menyumpah-nyumpah dan mengancam.


Nafas keras Arkhan semakin keras, giginya menggertak keras. Tangannya mengepal. Dada Arkhan terasa panas sekali. Emosinya naik. Dasar manusia picik, masih sempat menaruh dendam meski sudah hampir ****** begini. Arkhan melangkah maju dan langsung menginjak dada Beno sangat keras, beberapa kali. “Mampuslah kau!”


“Bang, Arkhan! Sudah, Bang! Jangan teruskan! Sudah, bang!” Reza memegangi lengan Arkhan berusaha menarik tubuh berotot itu supaya menjauh dari Beno. Namun sudah kepalang emosi, Arkhan tidak menghiraukan ucapan Reza dan terus melakukan aksinya kepada Beno di bawah. Tak peduli meski Beno sudah mengeluarkan darah dari mulutnya, hingga akhirnya Beno di bawah sana tidak lagi bergerak.


Satu tetes peluh Arkhan menetes di dada Beno yang polos, dada berkulit hitam itu tampak lebam.


Suasana mendadak riuh, ramai oleh dengungan orang-orang yang berbicara sahut-sahutan seperti segerombolan lebah.

__ADS_1


Arkhan menatap Beno yang sudah terkulai lemas dengan mata terpejam, tidak bergerak.


“Bang!” Reza menatap Arkhan ketakutan, matanya berair.


Nafas Arkhan masih menderu hebat. Hingga beberapa orang berseragam datang berteriak dan menghardik dengan nada tegas. Pandangan Arkhan tidak berubah, masih tertuju ke arah Beno. Arkhan merasakan lengannya ditarik oleh pria-pria berseragam dan ia mengikuti pasrah.


Beno ditandu dan segera dilarikan ke rumah sakit penjara, segera ditangani oleh pelayanan medis.


TBC


KLIK LIKE HAYOOO..


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2