SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
249.


__ADS_3

Arkhan segera mengunci pintu kamar. Dia balik badan dan menatap kasur dengan mata membelalak. Zalfa menghilang. Jelas-jelas tadi Arkhan meletakkan tubuh Zalfa di kasur itu, tapi baru ditinggal sebentar saja sudah menghilang. Ini baru ditinggal mengunci pintu, bagaimana jika ditinggal ke luar kota selama beberapa hari?


Pandangan Arkhan mengedar, berkeliling mencari keberadaan Zalfa, namun tidak menemukan wanita itu. kemana dia pergi? Secepat itukah Zalfa menghilang? Apakah mungkin di kamar mandi?


Arkhan menuju ke kamar mandi, mengecek ruangan sempit itu. Tidak ada siapa-siapa di sana.


“Zalfa!” panggil Arkhan.


Tidak ada jawaban.


Arkhan kembali ke ruangan kamar dan mengedarkan pandangan ke jendela. Situasi jendela masih sama, tidak ada yang berubah. Jendela tertutup rapat. Tidak mungkin Zalfa keluar dari jendela.


Praang!!


Arkhan terkejut dan sontak menoleh mendengar dentingan keras benda terjatuh, tak lain rantang. Benda itu terguling bebas di lantai. Arkhan mengernyit melihat Zalfa tampak kesulitan membawa kue tart berukuran sangat besar dengan lilin-lilin kecil menyala di atasnya.


Arkhan mengangkat alis melihat tingkah Zalfa. Dan rantang itu, entah bagaimana bisa menggelinding dan Arkhan juga tidak tahu apa fungsi dari rantang itu.


“Itu rantangnya untuk alas pegangan kue tadi, tapi malah jatuh.” Zalfa cengengesan sambil menatap ke arah rantang yang menjadi pemandangan Arkhan.


“Aku tidak penasaran dengan rantang dan kuemu itu, yang membuatku bingung, kemana kamu tadi bersembunyi?”


“Di sisi lemari. He heee…” Zalfa cengengesan.

__ADS_1


“Itu artinya tadi kau tidak tertidur?”


“Soal ketiduran itu benar, aku nggak berbohong. Aku mengantuk sekali saat menunggumu pulang, sampai-sampai ketiduran di sofa depan.”


Arkhan mengangguk.


Zalfa tersenyum lebar Kemudian berteriak, “Surprise! Ini kue ulang tahum untukmu. Happy birth day, sayang!” Zalfa antusias menunjukkan kue di tangannya.


Arkhan geleng-geleng kepala. Apa begini mayoritas wanita? Selalu gemar dengan segala sesuatu yang berbau keromantisan, kejutan dan segala bentuk kasih sayang. Arkhan tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dia bukan tipe model pria yang gemar dengan hal-hal demikian. Namun, meski begitu ia tetap mendekati kue tersebut untuk memberi respon menyenangkan bagi Zalfa. Arkhan mendengarkan suara merdu Zalfa yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan penuh kesetiaan.


“Bagaimana kau tahu kalau hari ini adalah hari kelahiranku?” Tanya Arkhan dengan dahi emngernyit.


“Mama Maria yang mengatakannya.”


“Ayo, sekarang tiup lilinnya!” pinta Zalfa dengan suara seperti mendesak. Kedua tangannya merasa keberatan membawa kue berukuran besar itu.


“Aku tidak terbiasa meniup lilin, aku hanya terbiasa meniupmu.”


“Mas Arkhan, ayo cepetan tiup!” desak Zalfa. “Ini tanganku …”


Plak!


Kue terjatuh dan numplek di lantai sebelum Zalfa menyelesaikan kata-katanya.

__ADS_1


Arkhan dan Zalfa bertukar pandang beberapa detik lamanya sampai akhirnya Zalfa memegang kepalanya dengan kedua telapak tangannya sambil menatap kue yang menelungkup di lantai, otomatis lilin-lilin kecil pun padam semua. Zalfa tampak sangat kecewa.


“Ya ampun, aku udah pesen kuenya dan minta supaya kue dihias dengan bagus banget. Udah gitu, aku juga bayar mahal untuk kuenya. Tapi malah numplek begini. Kamu juga lama banget niup lilinnya.”


“Tidak masalah. Kita bisa makan begini saja.” Arkhan jongkok kemudian mencuil kue dengan jari-jarinya, lalu mengunyahnya begitu saja.


Zalfa terbelalak. “Mas Arkhan, ini bukan masalah makan kuenya. Aku kan sengaja bikin acara ini spesial, eeh malah begini jadinya. Bahkan kita belum sempet ngerayain ulang tahunmu, loh. Batal jadinya kan?”


Arkhan berhenti memakan kue, dia menatap Zalfa dengan tatapan heran. “Aku semakin tidak mengerti dengan wanita. Hanya karena kue jatuh saja dipersoalkan. Bukankah kita bisa makan bagian kue yang tidak tersentuh lantai? Apa masalahnya?”


Zalfa tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya. Zalfa mmebutuhkan momen acara romantis saat Arkhan merayakan hari kelahirannya meski hanya berdua, tapi Arkhan sepertinya tidak mengerti akan hal itu.


“Apa kau mau makan kuenya?” Tanya Arkhan.


Zalfa menggeleng malas.


“Ya sudah, itu nanti saja diurusin. Kemarilah, aku ingin tidur denganmu.” Arkhan menuju kasur dan duduk di sisinya. Dia kemudian menepuk kasur di sisinya.


Acara ulang tahun yang diharapkan Zalfa telah batal, dan sekarang dengan entengnya Arkhan mengajaknya tidur. Meski tidak mengerti dengan jalan pikiran pria, Zalfa tetap mendekati Arkhan. Dia tidak duduk di sisi Arkhan seperti yang diperintahkan pria itu. melainkan duduk di pangkuan Arkhan.


Ooh… Zalfa benar-benar sudah mulai menantang dan berani sekarang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2