
“Mas Arkhan!” panggil Zalfa yang saat itu merebahkan tubuh ke kasur.
Arkhan yang sedang sibuk menggeser-geser mouse dengan tatapan fokus ke laptop, tidak mengalihkan pandangan meski dia mendengar panggilan Zalfa. Untuk panggilan yang kedua, Arkhan pun menjawab, “Hm.”
“Kita kan udah punya rumah baru,mobil baru dan semuanya baru. Bagaimana kalau kita mengundang Mas Ismail dan Mbak Tini kesini?”
“Mereka disuruh ngapain?” tanya Arkhan masih memusatkan pandangan ke laptop.
“Bukannya disuruh ngapa-ngapain. Aku ingin mengadakan syukuran, kita makan bersama, berdoa bersama-sama gitu deh,” jawab Zalfa.
Arkhan diam saja.
“Akhir-akhir ini, semenjak kamu sibuk dengan pekerjaanmu, dan aku juga sibuk dengan kafeku, aku jarang menemui Mas Ismail. Terakhir bertemu dnegannya saat di klinik dokter. Sebelum itu, selama tiga bulan aku nggak berkunjung ke sana. Sampai-sampai aku nggak tahu kalau Mbak Tini hamil, Mbak Tini juga nggak bilang kalau dia sedang mengandung saat terakhir kali aku berkunjung ke rumahnya. Sepertinya Mbak Tini itu malu untuk mengatakan kehamilannya. Maklum saja, dia masih terlalu muda, mungkin merasa enggan untuk mengakuinya. Disaat perutnya sudah membesar, barulah dia berani mengatakannya.”
“Ah, sial!” Arkhan menepuk meja dengan sorot mata yang tidak lepas dari layar laptop. Dia tidak menanggapi ucapan Zalfa.
“Mas Arkhan, apanya yang sial?” Zalfa mendekati Arkhan, berdiri di sisi kursi suaminya sambil memperhatikan layar laptop. Dia penasaran apa yang membuat Arkhan tampak panik. “Jadi, sejak tadi kamu nggak mendengarku? Aku capek-capek bicara panjang lebar dan kamu cuekin aku.”
“Ini… Aku sedang membuat akun tapi tidak berhasil.” Arkhan melipat laptop lalu menoleh ke arah Zalfa, kepalanya sedikit mendongak menatap wajah cantik di sisinya.
“Akun apa?” Tanya Zalfa.
“Sudahlah, tidak penting.” Arkhan melingkarkan lengannya ke pinggang Zalfa. “Kamu bicara apa tadi?”
“Aku nggak bisa mengulangnya. Butuh waktu untuk mengulang kalimat yang tadi.”
Arkhan hanya tersenyum emndengar pengakuan Zalfa. Dia menarik pinggang wanitanya itu supaya menempel ke arahnya, lalu ia mendaratkan kecupan ke perut Zalfa yang berlapis kain. Dia merasa seperti sedang dalam penantian panjang sekarang. Janin dalam kandungan Zalfa adalah alasannya.
“Baiklah, sekarang aku mendengarmu. Katakana apa yang ingin kamu bicarakan!” ucap Arkhan.
“Aku ingin mengadakan syukuran, aku ingin mengundang Mas Ismail dan Istrinya. Bagaimana menurutmu?”
__ADS_1
“Ooh… Terserah padamu saja.”
“Kok, terserah? Kamu setuju apa enggak?”
“Keputusanmu sudah menjadi keputusanku juga. Lakukanlah jika menurutmu itu baik.”
Zalfa tersenyum senang. “Aku juga akan mengundang Arumi, ya?”
“Whatever!” Arkhan bangkit berdiri.
“Acaranya seminggu lagi. Seenggaknya aku akan masak enak untuk mereka.”
Arkhan mengangguk. “Suruh saja pembantu baru itu mengerjakan semuanya. Atau mungkin lebih baik kamu memesan makanan dari restoran.”
“Ide bagus. Makasih.” Zalfa menghambur mendekati Arkhan lalu mengalungkan lengannya ke leher Arkhan. Sedikit berjinjit, dia mengecup pipi suaminya.
Arkhan tersenyum dan membalas kecupan itu dengan mencium pipi Zalfa. “Sama-sama, sayang!” bisiknya membuat pipi Zalfa merona merah. Panggilan sayang masih saja mendebarkan hati Zalfa.
“Aku pergi dulu, ada pekerjaan,” kata Arkhan dan diangguki oleh Zalfa. “Jangan makan sembarangan! Teliti terlebih dahulu makanan yang kau makan, sebab sekarang ada bayi dalam kandunganmu.” Arkhan mengelus singkat permukaan perut Zalfa.
Arkhan melenggang ke luar melewati pintu yang terbuka dan ia berpapasan dengan Emy di pintu. Tatapan Arkhan tertuju ke susu di gelas yang dibawa menggunakan nampan oleh Emy.
“Ini untuk Nona Zalfa!” ucap Emy dengan naggukan sopan.
Arkhan tidak merespon, dia melenggang pergi sambil memakai jaket.
Emy melangkah masuk kamar. Senyum Zalfa menyambut kedatangannya.
“Eh Emy, kamu membawakan susu untukku?” Zalfa menatap gelas berisi susu putih.
“Iya, Nona! Kata Nyonya Maria, saat ini Non Zalfa sedang mengandung, alangkah lebih baik Nona memakan makanan bergizi dan dilengkapi dnegan susu supaya janin dalam kandungan tetap sehat,” jawab Emy dengan sopan.
__ADS_1
“Kamu perhatian banget. Makasih loh udah anterin susu sampai ke kamar. Seharusnya kamu nggak usah mengantar sampai ke kamar, aku bisa ke bawah, kok.”
“Baiklah, lain kali saya taruh susunya di bawah saja. Ini susu khusus ibu hamil, Nona. Silahkan diminum!” Emy menyodorkan nampan ke arah Zalfa.
Zalfa mengambil gelas dan meneguk isinya. Zalfa tidak menyukai rasanya karena sedikit amis dan baunya tidak enak. Mungkin efek kehamilan sehingga indera penciumannya terganggu. Zalfa saat ini hanya menyukai aroma sabun, selebihnya dia kurang menyukai.
Zalfa kembali meletakkan gelas ke atas nampan.
“Apa Nona membutuhkan sesuatu? Saya akan melakukannya untuk Nona,” ucap Emy.
“Enggak. Nggak ada yang kubutuhkan. Aku akan memanggilmu kalau aku perlu sesuatu,” jawab Zalfa.
“Baiklah. Saya permisi.” Emy balik badan.
Namun terjadi benturan saat Emy melakukan putaran tubuhnya. Elia yang berlari masuk ke dalam kamar, terpaksa harus bertabrakan dengan Emy.
Gelas di atas nampan pecah di lantai.
Elia membelalak dan menatap Emy dengan kesal. “Hati-hati dong kalau jalan. Meleng aja sih matamu!”
Emy menunduk. “Maaf, biar saya beresin.”
“Elia, kamu yang nabrak kok malah kamu yang marah, sih?” tegur Zalfa geleng-geleng kepala.
“Dia tuh yang muterin badan nggak lihat-lihat,” ketus Elia semakin kesal.
“Saya ambil pel dulu.” Emy berlalu pergi.
BERSAMBUNG
.
__ADS_1
.
.