
Zalfa memiliki ide, ia ingin membuatkan kopi khas buatannya untuk Arkhan. Ia yakin Arkhan akan merasa senang mendapat perhatian darinya. Dengan langkah semangat, ia menuju ke dapur, namun ia berpapasan dengan Maria saat melintasi ruangan keluarga.
“Mama!” sapa Zalfa.
“Apa Arkhan sudah pulang?” Tanya Maria.
“Iya, udah, Mama,” jawab Zalfa dengan raut gembira.
Maria mengamati ekspresi wajah Zalfa yang berubah seratus delapan puluh derajat sejak terakhir kali bertemu dengannya. Kini, wajah cantik itu tampak cerah bersinar dihias senyuman manis.
“Apa ada kabar baik?” Maria memperhatikan ekspresi Zalfa.
“Iya. Aku udah bicara dengan Arkhan. Dan dia bilang akan bersedia meninggalkan pekerjaannya itu. aku bahagia sekali, Mama.”
Maria tersenyum. Namun kemudian ia mengernyit dan berpikir. “Apa kau yakin?”
“Yakin bagaimana maksud mama?”
“Apa kau yakin Arkhan akan benar-benar meninggalkan pekerjaannya itu?”
__ADS_1
Raut wajah Zalfa langsung berubah. Muncul kebimbangan di wajah itu.
“Jangan sampai Arkhan mengatakan hal itu hanya untuk membuatmu percaya saja, namun pada kenyataannya dia tetap masih melakukan pekerjaannya itu,” ucap Maria.
“Apa Mama meragukan Arkhan?”
“Aku hanya waspada. Mungkin aku terlalu luas memberi kebebasan hidup pada Arkhan. Sampai-sampai kesehariannya pun kuberi kebebasan yang penuh. Dia bebas melakukan kegiatan apapun tanpa aku harus mengawasinya. Dan inilah yang terjadi. Dia berbuat jahat tanpa sepengetahuanku. Jika saja aku mengetahui lebih awal, dan aku juga mengontrol kegiatannya, mungkin kejadian ini tida akan terjadi.”
“Mama jangan menyalahkan diri mama sendiri. Semuanya udah terjadi. Kita hanya perlu memikirkan solusi ke depannya.”
“Apa menurutmu aku perlu membicarakan masalah ini dengan Arkhan?”
“Baiklah. Aku percayakan semuanya padamu. Semoga Arkhan akan benar-benar berubah dan menjadi suami terbaik untukmu.”
“Makasih, Mama.” Zalfa tersenyum.
Maria mengangguk kemudian meninggalkan Zalfa.
Zalfa membuat kopi spesial di dapur dan membawanya ke kamar. Ia menaruh kopi tersebut di meja kamar. kepalanya menoleh ke arah Arkhan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aroma sabun yang segar dan menyejukkan menguar di ruangan kamar.
__ADS_1
Arkhan mengucek rambutnya yang basah dengan handuk. Ia bertelanjang dada saja dan hanya mengenakan celana selutut warna cokelat. Bulu-bulu halus di kakinya yang berotot seperti hiasan yang menarik pemandangan Zalfa.
Zalfa kemudian menatap Arkhan dan berkata,” Aku bikinin kopi untukmu. pengganti kopi yang tumpah tadi. Ini aromanya sedap dan nikmat sekali.”
Arkhan tidak menjawab. Ia menatap Zalfa dengan kaki melangkah mendekati wanita itu.
“Apa ini awal mula dari proses kesediaanmu mendampingiku setiap saat? Kau sediakan minuman untukku, kau selalu di dekatku dan ....”
“Iya. Aku mau selalu di dekatmu,” potong Zalfa. Ia berharap akan bisa menjadi pengawas Arkhan jika selalu berada di sisi pria itu. anggap saja ia adalah cctv berjalan untuk Arkhan.
“Kau memang istri yang cerdas. Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan didampingi wanita sepertimu.”
Zalfa tersenyum dan menunduk. Duuuh... Arkhan bikin malu aja.
Dengan tatapan mata yang masih tertuju ke mata Zalfa, tangan Arkhan menjulur mengambil kopi yang terletak di belakang tubuh Zalfa. Gerakan tangannya yang ingin meraih gelas membuat tubuhnya maju dan menempel di permukaan tubuh Zalfa yang berdiri di hadapannya.
Arkhan meneguk kopinya lalu kembali meletakkan gelas ke tempat semula.
TBC
__ADS_1