SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
194.


__ADS_3

Heloow.. aku balik lagi nih.


Hari minggu adalah hari liburku dari semua aktifitas. jadi aku gk update cerita apapun. aku libur ngantor, libur nulis, juga libur apa aja. Hari minggulah waktuku untuk refreshing biar pikiran seger dan nulis pun lancar.


Hari ini aku baru mulai nulis lagi.


Happy reading.


----------------


Arumi masih setia mengarahkan kamera ponselnya kepada objek yang menarik pemandangan, tak lain Azlan yang sedang memulai dengan membaca ta’awuz, kemudian dilanjutkan dengan membaca basmallah.


Baru saja Arkhan membaca basmallah dengan suara yang merdu, sleuruh hadirin merasa merinding. Sungguh iramanya memiliki seni yang seperti lahir dalam rohaninya.


‘Alhamdu lillaahillaziii anzala ‘alaa ‘abdihil kitaaba wa lam yaj’al lahuu ‘iwajaa…’


Masyaa Allah… indah sekali lantunan itu.


Suasana riuh yang sejak tadi mendengung memenuhi ruangan, mendadak senyap seketika.


Hening.


Hanya suara merdu Arkhan yang terdengar memenuhi ruangan. Syahdu.


Zalfa menunduk menikmati merdunya suara Arkhan dalam membaca Al Qur’an. Kulitnya terus meremang. Dadanya terasa sejuk. Dan jantungnya seperti bergetar. Entah perasaan apa yang dia alami sekarang. Tapi sungguh Arkhan telah mengubah situasi rumah menjadi nyaman hanya dalam seketika waktu. Hati Zalfa dipenuhi rasa syukur dan kalimat hamdallah bertubi-tubi.


Beberapa ibu-ibu di sisi Zalfa, meneteskan air mata menyaksikan mualaf yang sanggup membaca ayat suci Al Qur’an dengan begitu indahnya.


Usai membaca Al Qur’an dan disudahi dengan salam, Arkhan meninggalkan mike dan kembali kepada Zalfa.


Ustad Bukhori kembali maju dan mengambil alih mikrophone, beliau mengucapkan terima kasih kepada Arkhan.

__ADS_1


Zalfa tersenyum cerah menyambut kedatangan Arkhan di sisinya. Kekesalan dalam diri Zalfa seketika lebur oleh bacaan Arkhan barusan. Bagaimana mungkin ia masih merasa kesal setelah suaminya memberi hadiah berupa suara merdu dalam bacaan ayat suci? Zalfa tidak bisa marah. Dia pun mengusung senyum dan tatapan penuh cinta.


“Kamu luar biasa,” bisik Zalfa.


“Ustad Bukhori yang membimbingku,” jawab Arkhan.


“Ya, beliau gurumu. Sebelum tidur, aku minta kamu bacakan ayat-ayat itu untukku. Mau kan?”


“Ya.”


“Oke, kita temui Mas Ismail. Yuk!” Zalfa melenggang menuju ke ruangan sebelah dimana Ismail tampak sedang duduk mengobrol dengan sanak saudara Tini, ada Tini juga di sana.


Arkhan dan Ismail bertukar pandang. Sesaat keduanya hanya diam. Hubungan mereka tidak begitu baik sejak awal pertemuan, setiap kali pertemuan mereka hanya diwarnai dengan perdebatan dan perkelahian. Namun itu dulu, saat Ismail selalu mempersalahkan Arkhan dan menuntut Arkhan untuk menikahi Zalfa. Setelah pernikahan antara Arkhan dan Zalfa, keduanya belum pernah bertukar pikiran atau hanya sekedar mengobrol ringan. Wajar saja jika kini hubungan keduanya terlihat kaku.


Arkhan melangkah maju, mendekati Ismail. Sontak Ismail yang tengah duduk pun langsung bangkit berdiri. Arkhan menjulurkan tangan dan Ismail langsung menyambut uluran tangan itu. Mereka berjabatan tangan.


“Selamat atas pernikahanmu!” ucap Arkhan dan langsung diangguki oleh Ismail dengan senyum.


“Aku akan menjaga Zalfa dengan sangat baik. Kau tenang saja.”


“Hm, ya.”


Arkhan melirik Zalfa, kemudian ia berkata, “Baiklah, aku pergi.”


“Sudah makan?” Ismail malah bertanya demikian.


“Aku masih kenyang sejak sarapan di jalan.”


Ismail mengangguk. Arkhan mengedarkan pandangan ke arah orang-orang di sekeliling, Tini dan sanak keluarganya. Arkhan menganggukkan kepala singkat dan dibalas dengan anggukan pula. Ia kemudian kembali ke ruangan tadi sesaat setelah melirik Zalfa, Zalfa mengikutinya.


“Apa kamu mau pulang sekarang?” Tanya Zalfa.

__ADS_1


“Ya.” Arkhan hendak menuju pintu, namun tubuhnya memaku di tempat saat mendapati sosok pria yang berdiri di ambang pintu, tak lain Faisal.


Faisal yang baru saja hadir, menatap Zalfa sebentar, kemudian pandangannya beralih kepada Arkhan yang saat itu tengah menatapnya juga.


Arkhan menoleh ke arah Zalfa. “Kau juga mengundangnya?”


Suara Arkhan yang terdengar geram dipadu dengan ekspresinya yang horror, membuat Zalfa paham kalau Arkahn sedang murka. Entah kenapa Arkhan selalu kesal setiap kali melihat Faisal, sosok yang dinobatkan sebagai mantan Zalfa.


“Di acara ini, aku hanya mengundangmu, mama, Elia dan Arumi. Selebihnya adalah tamu undangan Mas Ismail,” jawab Zalfa berusaha menekankan kalau kedatangan Faisal adalah atas undangan Ismail.


Faisal sudah berdiri di hadapan Arkhan dan Zalfa. Pria itu tampak sedikit canggung. “Aku datang untuk memberi ucapan selamat kepada Mas Ismail.”


“Ismail ada di dalam. Kau boleh langsung masuk menemuinya,” tegas Arkhan tanpa basa-basi.


“Oke. Terima kasih.” Tatapan mata Faisal beralih kepada Zalfa. “Apa kabarmu, Zalfa?”


“Baik,” singkat Zalfa.


Faisal kembali menatap Arkhan. “Arkhan, bolehkah aku bicara sebentar pada Zalfa?”


“Bicaralah!” tegas Arkhan.


Meski mendapat jawaban yang kurang bersahabat, Faisal tetap tidak mau melewatkan kesempatan ijin dari Arkhan untuk bisa berbicara dengan Zalfa.


“Zalfa, aku minta maaf atas kejadian di retsoran waktu itu,” ujar Faisal penuh penyesalan. Meski peristiwa waktu itu merupakan kejadian yang disebabkan oleh ibunya, namun nalurinya tetap berkata bahwa ia wajib untuk meminta maaf.


“Apa yang perlu kumaafkan darimu? Kamu nggak salah apa-apa. Ibumulah yang seharusnya datang padaku dan meminta maaf. Ah, ya sudahlah, lupakan saja. Semua udah berlalu.” Zalfa tampak kesal mengingat kejadian di restoran waktu itu.


“Keluargakulah yang memulai keributan itu, aku yang mewakili untuk meminta maaf. Semua ini…” Sebelum Faisal menyelesaikan ucapannya, terdengar suara keras perempuan memenuhi ruangan, membuat sejurus pandangan tertuju ke sumber suara.


TBC

__ADS_1


__ADS_2