
Di kamar, Zalfa membaca aplikasi Al Qur’an di ponselnya. Surat An Naba’ terlantun indah. Dia duduk di sisi ranjang. Sudah hampir setengah jam dia menghabiskan waktu membaca Al Qur’an setelah selesai mandi dengan penampilan cantik. Gamis warna biru membalut tubuhnya, jilbab warna senada membungkus kepalanya.
Zalfa menyudahi bacaan dan melirik Arkhan yang masih tertidur pulas dengan posisi menelentang dan tanpa baju. Pria itu semalaman tidak mengenakan baju saat tertidur hingga tubuh kekarnya terekspos. Selimut menutup sampai ke perut. Setelah shalat subuh, Arkhan kembali menuju ranjang dan tertidur pulas.
Sebenarnya Zalfa ingin melarang kegiatan itu, tapi dia memahami kondisi Arkhan yang mungkin merasa lelah dan letih setelah berbulan-bulan berada di tahanan. Tidur di tahanan tentu saja berbeda dengan tidur di rumah. Kenyamanan suasana di kamar membuat Arkhan dengan nikmatnya tertidur dengan pulas.
Zalfa melihat jam di ponselnya, sudah jam setengah delapan. Dia mengangkat tangan dan menjulurkannya ke arah Arkhan hendak membangunkan pria itu, dia menyentuh lengan Arkhan, menempelkan pipinya ke dada Arkhan, kemudian mengusap-usap pelan dada pria itu.
“Mas Arkhan, ini udah bukan saatnya lagi untukmu tidur. Ayo bangun, sayang!” Zalfa menatap mata Arkhan yang terpejam erat.
Tak ada respon dari Arkhan. Tubuh itu bahkan sama sekali tak bergerak, hanya nafasnya saja yang menunjukkan kalau pria itu hidup.
“Halo, Mas Arkhan!” Zalfa mengelus dada bidang Arkhan dengan elusan yang sedikit lebih kuat, tapi tetap saja tidak menghasilkan apa-apa. Arkhan tetap terlihat nyaman dan tidak merasa terganggu.
Aha… Zalfa ada ide. Jika semua usaha tidak membuahkan hasil apa-apa, maka dia harus membangunkan Arkhan dengan cara yang lebih jitu.
__ADS_1
Zalfa mendaratkan bibirnya ke dada Arkhan dan mulai memberikan kecupan lembut. Tidak butuh lama, Arkhan menggerakkan kepala, tangannya terangkat dan meraba-raba. Sudut bibirnya tertarik sedikit saat telapak tangannya menemukan separuh tubuh Zalfa di atasnya. Dia melingkarkan satu lengan kokohnya di punggung Zalfa dan balas mengelus.
Lihatlah, Arkhan masih memejamkan mata meski dia sadar dengan apa yang dia lakukan, memeluk Zalfa dan bahkan mengelus punggung Zalfa. Kelopak matanya seakan terasa berat untuk terbuka.
“Hentikan!” pinta Arkhan saat bibir Zalfa sudah berada di lehernya. Dia memutar posisi tubuhnya miring ke kiri sehingga tubuh Zalfa dalam pelukannya pun terangkat dan ikut terbaring di sisinya, masih dalam pelukan Arkhan. “Kau yang bilang kalau saat ini kau belum boleh disentuh, tapi kau memancingku lagi,” gumam Arkhan dengan suara tak jelas akibat kantuk yang menyerang.
“Aku hanya membangunkanmu. Habisnya, kamu dibangunin nggak bangun-bangun sejak tadi.”
Arkhan tidak menjawab. Dia seperti malas menanggapi dan kembali tertidur lagi.
“Mas Arkhan! Ayo bangun!” Zalfa menepuk lengan yang melingkar di perutnya.
“Ini udah mau siang.”
“Hmm..” Arkhan kembali menggumam.
__ADS_1
“Ya udah deh aku bangun sendiri aja. Aku mau masak. Sejak tadi aku belum masak.” Zalfa ingin bangkit bangun, namun lengan kokoh Arkhan yang melingkar di tubuhnya itu memeluk dengan erat. “Mas Arkhan, lepasin! Niatku mau bangunin kamu malah diajakin tidur lagi.”
Sudut bibir Arkhan kembali tertarik meski dengan kelopak mata yang masih terpejam erat. Dia pun mengangkat lengannya dan melepaskan lingkaran lengannya itu dari tubuh Zalfa.
Gemas melihat Arkhan yang masih asik memejamkan mata, Zalfa pun mendaratkan bibirnya ke bibir Arkhan sementara satu tangannya mencubit perut keras Arkhan. Cubitan tidak menghasilkan respon apa pun dari Arkhan, namun ciuman Zalfa langsung disambar oleh Arkhan.
Zalfa pun menjauhkan dirinya dari Arkhan sesaat setelah Arkhan membalas ciumannya. Dia turun dari ranjang dan meninggalkan kamar sambil tertawa kecil, membiarkan Arkhan yang masih melanjutkan tidurnya.
Zalfa ke dapur. Dia memasang celemek dan menuju kulkas untuk mengambil bahan-bahan yang akan dimasak. Dia tertarik untuk mengambil ikan dan sosis, serta cabe dan bahan lainnya.
TBC
.
.
__ADS_1
.
.