
Arkhan tidak lagi bicara, ia menunggu saatnya Zalfa tertidur. Detik demi detik berjalan dan Arkhan masih betah berdiam menanti saatnya istrinya pulas.
Sepuluh menit berlalu, Arkhan menatap kelopak mata Zalfa yang terpejam. Ia menarik lengannya yang menjadi alas kepala Zalfa dengan gerakan pelan supaya tidurnya Zalfa tidak terganggu. Saat ini tujuannya hanyalah mencari mangsa untuk meredam kemurkaan yang sejak tadi dia pendam. Tak lain menemui Bu Fatima.
Arkhan menurunkan kedua kakinya ke lantai, kemudian mengangkat tubuhnya hendak pergi. Tubuhnya tidak sempurna berdiri karena ada yang menahannya. Ia menatap dua lengan mungil yang melingkar di perutnya.
“Katamu mau menemniku tidur, tapi kenapa pergi?” suara Zalfa terdengar kurang jelas akibat mengantuk.
Arkhan menghela nafas. Kemudian kembali terduduk. Ia merasakan pergerakan tubuh Zalfa yang bangkit dan perlahan bangun lalu menempelkan pipi ke punggungnya. Dia memaku di tempat.
“Aku tidak mengantuk,” ucap Arkhan.
“Arkhan, aku merasa takut kalau kamu pergi sekarang,” lirih Zalfa.
“Takut? Jangan bercanda. Tidak ada hantu di sini.”
Bibir Zalfa tersenyum meski matanya masih terpejam erat. “Bukan takut hantu.”
“Lalu?”
“Aku mencemaskanmu. Demi Tuhan aku mencemaskanmu. Jangan langkahkan kakimu keluar jika tujuanmu untuk sebuah maksiat, kemurkaan dan kebencian.”
Arkhan mengernyit. Bagaimana bisa Zalfa mengetahui niatnya? Yang dimaksud Zalfa pasti adalah kecemasan akan menyakiti Bu Fatima. Apakah begini firasat seorang istri soleha, yang sangat tahu niat suami dalam hal buruk? Arkhan melihat telapak tangan Zalfa yang bergerak mengelus-elus dadanya, gerakan itu berhenti tepat di posisi jantung Arkhan.
__ADS_1
“Aku merasakan detakan jantung yang nggak normal di sini,” lanjut Zalfa.
Arkhan tahu kalau saat itu wajah Zalfa dalam keadaan tersenyum, sebab senyuman itu menimbulkan tonjolan di pipi Zalfa dan Arkhan merasakan setiap gerakan wajah Zalfa melalui sentuhan di punggungnya.
“Aku hanya ingin satu hal dari hubungan kita, yaitu kebahagiaan. Kalau kamu dendam pada orang lain, bagaimana aku bisa bahagia?” sambung Zalfa.
“Apa kaitannya dendamku dengan kebahagiaanmu?”
“Dendam itu datengnya dari setan. Bagaimana aku bisa bahagia hidup bersama suami yang hatinya mudah terhasut setan?”
“Aku muak dengan kelakuan wanita tua Bangka itu, Zalfa. Dia seperti tidak puas-puasnya menjatuhkanmu. Dia sudah melakukan kejahatan sejak awal, tapi sampai sekarang masih saja terus mengganggumu. Apa masih belum cukup perbuatan keji yang dia lakukan ke kita? Sepertinya dia sudah bosan hidup,” kesal Arkhan mengenang perilaku Bu Fatima. Dia seperti sudah tidak kuasa memendam dan menyembunyikan kemarahannya itu di depan Zalfa. Percuma emosinya disimpan, toh Zalfa tetap dapat mengetahuinya. Entah bagaimana cara Zalfa membaca kekesalannya itu, padahal ia sudah memendamnya dengan baik tanpa sedikit pun memperlihatkan kemurkaan di hadapan Zalfa.
“Bu Fatima melakukan hal itu semata-mata hanya karena ingin aku jauh dari Faisal.”
Zalfa ingin tertawa mendengar kalimat bernada emosi suaminya. Tuhan Maha segala-galanya, tidak ada kata lupa pada dzat yang maha agung. Lupa adalah sifat yang dimiliki manusia, tidak untuk Tuhan.
“Arkhan, Bu Fatima memang sudah melakukan kesalahan besar pada kita, tapi kamu percaya kan kalau Tuhan itu ada? Serahkan saja urusan ini pada Tuhan.”
Arkhan melepaskan lingkaran lengan Zalfa di perutnya, ia berdiri sambil melepas dua kancing kemeja yang dia kenakan, membuka kancing di kedua pergelangan tangannya lalu menarik naik lengan bajunya ke atas. Ia menyambar gelas yang baru saja dituang air minum ke dalamnya lalu meneguknya dengan degupan keras. Dia letakkan gelas tersebut ke meja dengan hentakkan kuat pula. Kedua telapak tangannya menapak di meja.
“Jika kita diam, wanita tua itu akan menganggap kita lemah dan dengan senangnya menginjak-nginjak kita. Apa kau mau itu terjadi?” Arkhan menatap muak pada meja.
“Kita hanya perlu berdoa, semoga Tuhan membalas segala perbuatan manusia sesuai dengan amal baik dan buruknya. Sebab segala perbuatan manusia pasti ada ganjarannya. Percayalah! Tuhan Maha adil.”
__ADS_1
Arkhan kini terdiam mendengar penutruran Zalfa. Entah terbuat dari apa hati istrinya itu hingga saat sudah diperlakukan dengan sangat buruk pun, Zalfa masih bisa bersabar.
“Aku belajar ikhlas,” sambung Zalfa.
Ikhlas? Begitu mudahnya Zalfa mengucap kata ikhlas. Sementara sampai detik ini Arkhan masih menaruh dendam kesumat pada Bu Fatima. Bagaimana mungkin Arkhan akan sangat mudah mengatakan ikhlas sedangkan perbuatan Bu Fatima sungguh di luar batas kewajaran, terlebih dia adalah seorang wanita tua. Menurut Arkhan, perbuatan terkutuk Bu Fatima hanya pantas dibalas dengan tangan Arkhan sendiri. Tapi berbeda dnegan Zalfa, wanita itu benar-benar mengagumkan, yang masih bisa berkata ikhlas. Sungguh wanita yang Arkhan nikahi adalah wanita luar biasa.
“Biarlah Tuhan yang menghakimi. Aku percaya Tuhan Maha Adil.” Zalfa mengulang kalimatnya.
Kalimat itu terdengar sangat dalam di telinga Arkhan, sampai hatinya pun terenyuh mendengarnya. Sungguh jahat dan kejinya perbuatan Bu Fatima pada Zalfa, namun Zalfa bersikap demikian.
TBC
Sebelum next, KLIK LIKE. AWAS KALO ENGGAK 😲😲
.
.
.
.
.
__ADS_1