SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
298.


__ADS_3

“Cepetan ya! kasihan Shanum! Entar kehausan lagi.” Elia menjerit lagi, kemudian terdengar suara langkah kaki berlari menjauh dari pintu. Pertanda Elia sudah pergi.


Zalfa menghambur ke kamar mandi, menyelesaikan aksi siram dengan kilat. Meski kilat, bukan berarti tidak melaksanakan sunah dalam hal mandi wajib. Lalu segera ia keluar dan memasang pakaian.


“Emm… Jangan nakal!” ucapnya saat merasakan pelukan dari belakang. Dia sedang sibuk memasang jilbab dan Arkhan malah mengganggunya sehingga dia kesulitan bergerak, memasang jilbab pun jadi serba salah.


Zalfa melirik Arkhan yang hanya mengenakan handuk di pinggang. Pria itu tampak nyaman di posisinya itu. Kedua lengan kokoh yang melingkar di tubuhnya itu pun terasa erat seakan tidak mau dilepaskan.


“Shanum tidak mau punya adik. Dia selalu menangis saat kita melakukan proses,” kata Arkhan.


Zalfa tersenyum. “Kamu ada-ada aja. Shanum tentu ingin punya adik laki-laki, yang nantinya akan menjadi teman bermainnya.” Zalfa memasang bros dengan gerakan sulit akibat pelukan Arkhan.


“Aku akan menghukumnya nanti, akan kubuatkan kamar khusus untuknya.”


“Hei, mana bisa begitu. Untuk saat ini Shanum tetap harus tidur bersama kita, sebab dia masih minum ASI.” Zalfa meletakkan kedua lengannya ke belakang tubuhnya, tapi gerakannya tertahan akibat lengan Arkhan yang melingkar di tubuhnya. “Aku mau menaikkan resleting bajuku.


“Naikkan saja!” Arkhan seperti tanpa dosa.


“Lah, resletingnya ada di belakang dan kamu menghalangiku.”


“Oh.” Arkhan melepas pelukannya. Lalu memundurkan tubuh untuk memberi jarak, dia menyentuh pakaian belakang Zalfa, lalu menaikkan resleting baju wanita itu.


Zalfa tersenyum, kulitnya meremang merasakan sentuhan tangan Arkhan di punggungnya. Entah kenapa sampai sekarang Zalfa masih saja merasakan getaran setiap kali bersentuhan dengan Arkhan meski mereka sudah melakukan hal yang jauh lebih intim dari sekedar menaikkan resleting baju.


“Makasih,” ucap Zalfa sambil menoleh, kemudian ia melenggang. Namun langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya disentuh oleh Arkhan, tubuhnya berputar dan langsung menubruk dada bidang Arkhan saat tenaga kuat tangan Arkhan menyentak tubuh wanita itu.


Arkhan menaikkan alis menatap wajah di dekatnya. “Katamu mau menemui Shanum? Kenapa malah memlukku?”


“Mas Arkhan! Kamu iiiiih… mulai lagi.” Zalfa memasang muka gemas. Arkhanlah yang menarik tubuhnya hingga membuatnya berada di posisi seperti sekarang, tapi Arkhan juga yang protes. Dia sengaja menggoda, membuat Zalfa jadi salah tingkah.


“Ya sudah, pergilah! Mau berapa lama kau di posisi begini?” lagi-lagi Arkhan menggoda.

__ADS_1


Zalfa buru-buru menjauhkan diri dari Arkhan. Kemudian melangkah pergi.


Hup!


Kaki Zalfa tersandung dan hampir saja wajah cantiknya mencium lantai jika tangan arkhan tidak gesit menangkap tubuh Zalfa. Untuk kedua kalinya, Zalfa kembali berada di dalam pelukan Arkhan.


Duuuh… mimpi apa dia semalam? Bisa sampai mengulang-ulang dipeluk suami begini?


“Apa masih belum puas berada di pelukanku? Kau bermimpi menjadi putri raja yang berharap pangeran akan menangkapmu saat akan terjatuh, begitu?” Arkhan menaikkan alis lagi.


Zalfa tahu jika suaminya itu sedang menggodanya sekarang.


“Sayangnya kau tidak sadar jika tadi kakimu tersandung oleh kakiku.” Arkhan tertawa setelah mengatakan hal itu.


Sontak Zalfa membelalak karena baru sadar kalau ternyata dia dikadalin buaya. Kaki Arkhanlah yang menjadi penyebab tubuhnya hampir terjatuh, dan sekarang pria itu juga yang bertingkah seakan menjadi penyelamatnya. Arkhan Arkhan… Pria itu kini jauh lebih romantis, juga nakal.


“Shanum sudah terlalu lama menangis, cepat temui dia!” titah Arkhan seakan Zalfa sengaja berlama-lama di sana.


Arkhan dapat melihat senyuman Zalfa dari arah samping melalui pipi wanita itu yang membentuk senyuman.


Zalfa menuruni anak tangga.


Di lantai bawah, Shanum berada di dalam gendongan Emy. Wanita itu menepuk-nepuk pelan paha Shanum sambil bersenandung.


Tidak terdengar lagi tangisan Shanum, bayi dalam gendongan Emy itu diam saja sambil mengamati gerakan mulut Emy.


Maria berdiri mengamati sikap Emy terhadap Shanum.


Zalfa mendekati Emy, tersenyum menatap bayinya yang menggerak-gerakkan bibirnya seperti sedang kehausan.


“Sini! Berikan Shanum padaku!” Zalfa mengambil alih tubuh Shanum dari tangan Emy. Senyum Zalfa tertarik lebar menatap Emy. “Aku lihat sejak tadi kamu malah ngurusin Shanum. Kamu pasti belum sarapan. Pergilah ke belakang dan sarapan dulu.”

__ADS_1


“Baik, saya permisi.” Emy melangkah pergi sambil menoleh sebentar ke arah Shanum.


Zalfa duduk dan menyusui Shanum dalam pangkuannya.


Maria ikut duduk di sisi Zalfa. Dia mengelus-elus kepala mungil yang sudah ditumbuhi rambut cukup lebat itu.


“Dia lucu sekali,” ucap Maria yang kelihatan gemas terhadap Shanum. “Jika dia besar nanti, apa yang kau harapkan dari anakmu yang cantik ini? Cita-cita apa yang kau harapkan kelak untuknya?”


Zalfa tersenyum menatap mata putrinya yang bulat dan menggemaskan. “Aku tidak mengharapkan cita-cita yang muluk-muluk untuk anakku, cukup dia menjadi anak yang salihah, yang akhlaknya baik dan mencintai kedua orang tuanya. Aku yakin, Tuhan pasti akan memberikan cita-cita yang jauh lebih tepat dibanding dengan harapan manusia.”


Maria tergugu mendengar jawaban Zalfa. Dia menganggukkan kepala.


“Kata Mas Arkhan, dalam waktu dekat ini dia akan membawa aku dan Shanum jalan-jalan ke Singapura. Mama ikut, yuk!” ajak Zalfa.


“Tidak, Zalfa. Aku dulu sudah sering ke luar negeri hanya untuk sekedar shoping dan jalan-jalan. Sekarang adalah waktumu bersama Arkhan. Aku tidak mau mengganggumu. Elia juga tidak usah diajak. Singapura bukanlah tempat baru baginya, dulu dia sudah sering ke sana. Kau pergilah bersama Arkhan. Kau bawa saja Emy bersamamu, aku yakin kau akan sangat membutuhkan orang untuk mengasuh Shanum di sana nanti.”


“Lalu, jika aku membawa Emy, bagaimana dengan rumah ini? siapa yang akan mengurus rumah nanti saat Emy pergi bersamaku?”


“Kau jangan cemaskan hal itu. aku bisa mengurusnya. Kami juga bisa makan di luar jika tidak ada yang memasak di rumah.”


“Mama yakin?” Zalfa ingin memastikan.


“Yakin.” Maria mengangguk.


BERSAMBUNG


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2