SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
252.


__ADS_3

Zalfa melihat Arkhan sedang tertidur memeluk bantal guling. Pria itu benar-benar seperti bayi gede dengan posisinya yang tidur miring.


“Mas Arkhan!” Zalfa mengelus lengan Arkhan dengan lembut. “Ayo, bangun, sayang!”


“Hm!” gumam Arkhan masih dnegan mata terpejam.


“Ayo bangun, dong! Plis!” Zalfa mengguncang bahu Arkhan agak kuat. Dia sudah kesiangan jika harus menunggu agak lama lagi.


“Kenapa?” Arkhan akhirnya membuka mata. Dia mengucek matanya yang memerah sebentar. Lalu menatap Zalfa.


“Ayo, bangun, ini udah siang.”


Arkhan mengangguk. Sekilas dia melihat ke arah jendela yang terbuka, sinar mentari sudah menyingsing. Zalfa benar, sudah tidak pagi lagi untuk ukurannya tertidur pulas. Tapi bagaimana lagi, Arkhan tidak tertidur tadi malam karena pulang ke rumah jam dua dini hari. Setelah itu dia bercinta dengan Zalfa dan baru bisa tertidur jam tiga. Tubuhnya terasa lelah. Tapi ia tetap bangun dan duduk, tangannya menyibakkan selimut ke samping hingga bulu halus di kaki kokohnya terekspos karena dia hanya mengenakan celana selutut.


“Mas Arkhan, kamu ada kegiatan apa hari ini?” Tanya Zalfa dengan wajah berbinar.


“Tidak ada.” Arkhan berjalan ke kamar mandi. Tak lama, terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Zalfa sibuk mengambilkan kaos dan celana jeans selutut milik Arkhan. Dia letakkan pakaian ganti itu di kursi.


Tak lama kemudian Arkhan keluar dari kamar mandi. Pria itu benar-benar terlihat seksi dengan keadaan tubuhnya yang basah. Tetes-tetes air masih mengalir di tubuh six pack Arkhan meski tadi dia sudah mengelapnya dnegan handuk. Biasalah, pria memang tidak begitu sabar saat mengelap tubuh sehingga sekenanya saja saat mengelap badan.


“Aku lapar sekali. Kamu masak apa?” Tanya Arkhan.


“Waduh, aku belum masak.” Zalfa nyengir.


Arkhan mengernyit heran. Tumben Zalfa belum masak jam segini. Padahal perut Arkhan benar-benar sangat lapar sekali. Tadi malam Arkhan tidak sempat makan karena disibukkan dengan pekerjaan. Sampai di rumah, dia pun sudah malas ke meja makan karena lelah dan mengantuk. Tapi untuk urusan pekerjaan ranjang, tentu dia masih rela meluangkan waktu sebentar. Dan pagi ini, tidak biasanya Arkhan bergegas bangun saat dibangunkan, dan pagi ini dia langsung bangun saat dibangunkan oleh Zlafa karena ingin segera menyantap sarapan. Tapi hasilnya nihil.


“Peace!” Zalfa mengangkat dua jari ke atas. “Kamu nggak laper banget kan?”


“E eh, memangnya kamu mau pakai baju yang mana?” Zalfa menghadang Arkhan yang menghadap lemari.


“Celana panjang dan kemeja.”


“Kamu kan nggak ada kegiatan, ya udah pakai baju yang kusiapkan aja. Ayo, pakai!” Zalfa mnyodorkan pakaian yang sudah disiapkan.

__ADS_1


Melihat Zalfa antusias, Arkhan pun tidak lagi menolak. Dia langsung memakai pakaian itu.


Arkhan mengamati dirinya melalui pantulan tubuhnya di cermin. “Lihatlah, dengan memakai pakaian seperti ini, aku kelihatan seperti mau ke pasar saja.”


“Nah, memang itu tujuanku. Kita ke pasar. Ayuk!” Sebelum Arkhan menjawab, Zalfa sudah menarik lengan kokoh Arkhan keluar kamar.


Ke pasar? Arkhan hanya bisa mengikuti Zalfa tanpa perlawanan. Dia mlihat Zalfa menyodorkan kunci motor saat mereka sudah sampai di halaman rumah. senyum lebar di wajah Zalfa seprti hipnotis yang membuat Arkhan tanpa sadar mengambil kunci dari tangan wanita itu. Ya, senyuman Zalfa bnar-benar seperti sihir baginya hingg kini dia sudah berada di atas motor yang mlaju, menuju pasar. Tunggu dulu, ini serius Arkhan mau pergi ke pasar?


Arkhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat kakinya sudah menginjak pasar. Riuh, ramai, berdesakan, pengap dan bermacam-macam aroma berbaur menjadi satu.


BERSAMBUNG.


.


.


KLIK LIKE YUK

__ADS_1


.


.


__ADS_2