SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
129.


__ADS_3

Pria itu masuk ke kamar mandi sementara Zalfa duduk di kursi depan meja rias. Ia melepas jilbabnya, melepas ikatan rambutnya, lalu menyisir rambut lurus hitamnya yang sepanjang pinggang. Manik matanya melirik ke samping saat mendengar suara pintu kamar mandi dibuka. Arkhan keluar dari kamar mandi, pria itu juga melirik ke arah Zalfa.


Jantung Zalfa berdegup dua kali lebih cepat saat langkah kaki Arkhan mendekat ke arahnya. Cepat-cepat Zalfa megalihkan pandangan ke cermin.


Arkhan berdiri di belakang Zalfa, pria itu sedikit membungkukkan badan supaya wajahnya berada sejajar dengan Zalfa yang berada di posisi duduk, lalu ia meletakkan kedua telapak tangannya ke sisi kiri dan kanan tempat duduk Zalfa. Kursi yang belakangnya tanpa sandaran itu membuat Zalfa dapat merasakan sentuhan dada Arkhan di punggungnya. Pria itu menatap wajah cantik yang terpantul di cermin, sebaliknya Zalfa melirik wajah tampan yang juga terpantul di cermin yang sama. Jantungnya berlarian mendapat tatapan nanar dari suaminya. Entah kenapa ia masih saja merasa canggung padahal Arkhan sudah entah berapa kali berada di posisi yang jauh lebih intim dari posisi saat ini.


Arkhan memiringkan wajahnya kemudian menciumi aroma wangi rambut Zalfa. Ia layaknya orang sedang mabuk menikmati candu narkoba, begitu juga dengan rambut Zalfa yang aromanya memiliki ciri khas hingga membuat Arkhan seperti kecanduan. Zalfa meremang merasakan sentuhan bibir Arkhan di pipinya.


“Apa kamu belum mau tidur?” bisik Arkhan sambil melingkarkan lengan tangannya ke perut Zalfa.


“Iya, ini aku mau tidur.”

__ADS_1


Arkhan tersenyum tipis melirik pipi mulus yang hanya berjarak beberapa centi dari hadapan matanya.


“Wangi sekali tubuhmu,” ujar Arkhan sambil menciumi rambut Zalfa. “Apa kau terlalu banyak menggunakan parfum?”


“Enggak. Ini… Ini mungkin aroma sabun mandi yang masih lengket di kulitku. Aromanya memang kuat,” jawab Zalfa agak kikuk merasakan sentuhan Arkhan.


“Katamu mau tidur, kenapa masih di sini?”


“Iya. Ini mau tidur. Kamu membuatku nggak bisa bergerak.” Zalfa memegang lengan Arkhan yang melingkar di perutnya.


Arkhan kembali membuka mata saat beberapa detik terpejam dan Zalfa belum menyusulnya ke ranjang. “Ayo, kemarilah!” Pria itu menepuk kasur di sebelahnya.

__ADS_1


Zalfa tersenyum samar. Ia kemudian melangkah mendekati kasur dengan perasaan tak menentu. Entah sampai kapan ia harus merasa secanggung itu? Apakah perasaan canggung itu akan berubah menjadi leluasa seiring berjalannya waktu? Ya, mungkin saja Zalfa merasa gugup karena belum terbiasa. Ia menyusul naik ke ranjang dan berbaring.


Arkhan memiringkan posisi tidurnya dan menghadap Zalfa, ia letakkan lengannya ke atas dada wanita itu. “Detakan jantungmu kuat sekali,” bisik Arkhan. Lengannya yang tergeletak di atas dada Zalfa membuatnya merasakan detakan tidak normal itu.


“Ah, masa?” Zalfa pura-pura bodoh.


Arkhan tersenyum tipis. “Pejamkan matamu!”


Zalfa menoleh dan membelalak. Pejamkan mata? Untuk apa?


“Aku memintamu untuk memejamkan mata, kenapa malah membelalak?” protes Arkhan.

__ADS_1


“Eh, iya.” Zalfa sontak memejamkan matanya meski ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu.


TBC


__ADS_2