SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
159.


__ADS_3

Senyum Zalfa tidak memudar meski mendapat sambutan buruk dari Elia. Pandangan Zalfa tertuju ke lantai tepat di bawah kaki meja belajar, teronggok sebuah mangkuk kecil dengan ukiran bunga.


Zalfa ingat, dia pernah membuat sop yang sempat dia tinggalkan di meja makan. Kemudian sop dalam mangkuk tersebut menghilang setelah ia tinggal sebentar menyiram bunga di taman. Hm… ternyata ini jawabannya. Bibir Zalfa tertarik membentuk senyum lebar. Mangkuk kotor tersebut bahkan sudah kering akibat terlalu lama di letakkan di sana. Wajar saja Mbak Yen tidak mengangkat mangkuk dari kamar Elia, sebab Elia tidak mau kamarnya dibersihkan oleh orang lain, Elia membersihkan kamarnya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Ia tidak mau ada orang lain menyentuh barang-barang miliknya.


“Ayolah, makan bersama! Aku yakin kamu akan ketagihan saat menikmati lauk mala mini. Diantara sepuluh pelanggan di kafeku, kesepuluhnya mengatakan kalau mereka suka dengan masakanku. Tentu kamu juga akan menyukainya,” bujuk Zalfa masih dengan senyum.


“Enggak! Aku bilang enggak! Keluar sana! Aku jijik dengan masakanmu?”


Zalfa menunduk dan mengambil mangkuk kotor. “Ayolah, kamu pasti akan menghabiskan makanan sama seperti kamu menghabiskan sop ini.” Zalfa melenggang keluar membawa mangkuk tersebut.


Zalfa dapat melihat muka merah Elia yang merasa seperti kena skak matt melalui sudut matanya. Gadis kecil itu hanya diam saja dan kini menunduk.


Zalfa berhenti saat sudah sampai di pintu. Ia menoleh kemudian berkata, “Gadis cantik, kenapa kamu semarah ini padaku?”


Elia mengangkat wajah, tampak sedikit enggan menatap wajah Zalfa. “Kau masih bertanya? Lihatlah Kak Arkhan sekarang semakin menjauh dariku. Dia membenciku. Dia menyingkirkanku. Itu semua karena kau.”

__ADS_1


Zalfa tersenyum tipis. “Arkhan yang melakukan itu padamu, lalu kenapa kamu marah padaku? Bukankah aku selama ini terus bersikap baik kepadamu? Congratulations, kamu menang lomba melukis. Aku bangga. Kamu luar biasa. Lanjutkan prestasimu, dan tetep semangat, yah!” Zalfa kemudian melangkah pergi. Ia menuju meja makan dan duduk di sisi Arkhan. Ia melihat kea rah Arkhan dan maria yang belum memulai makan malam. Mereka terlihat sedang menunggu.


“Maaf, agak lama,” ucap Zalfa merasa bersalah telah membuat mereka menunggu agak lama.


“Kau tidak berhasil membujuk Elia untuk duduk di sini?” tanya Arkhan sambil mengambil makanan dan meletakkannya ke piring miliknya.


Maria juga mulai menyiduk makanan.


“Dia mungkin belum lapar.” Zalfa berusaha menutupi kemarahan Elia.


“Biarkan saja dulu. Dia nanti akan baik sendiri saat butuh uang,” tukas Arkhan.


Arkhan tersenyum tipis.


“Kenapa malah tersenyum? Kamu menganggap masalah ini lelucon,” ucap Zalfa sambil mengunyah makanan yang sudah dia ambil.

__ADS_1


“Aku sudah terbiasa dengan kelakuannya itu,” jawab Arkhan.


Zalfa menatap Maria. “Mama, bagaimana menurut Mama? Elia marah kepada kami sejak kemarin. Sampai sekarang belum baik juga.”


“Terserah padamu saja, Zalfa. Aku yakin kamu bisa mengatasi anak itu,” jawab Maria tenang.


Zalfa tertegun mendengar jawaban maria. Mertuanya itu sepenuhnya mempercayainya.


“Masakanmu sangat lezat. Aku menyukainya.” Maria terlihat menikmati makanannya. Ia kemudian menyudahi makan dengan memakan buah. Lalu meninggalkan raung makan.


Arkhan meletakkan sendok dan garpu ke piring kosong. Ia sudah selesai makan.


Zalfa menoleh ke arah Arkhan yang melenggang pergi. Ia buru-buru menyudahi makan dengan meneguk air mineral. Langkahnya menuju ke ruang depan mengikuti aroma tubuh Arkhan yang sangat ia kenal.


Mobil Arkhan melesat meninggalkan garasi, melintasi gerbang.

__ADS_1


Arkhan pergi. Zalfa membatin.


BERSAMBUNG


__ADS_2