SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
222.


__ADS_3

Arkhan tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Sebab kini dia sudah berada di dalam sel isolasi yang katanya akan berakhir setelah dua kali dua puluh empat jam. Dia hanya bisa duduk menghadap dinding yang jarak pandangnya sangat dekat dengan mukanya. Ruangan bawah tanah itu sangat sempit, gelap dan sesak, lebih tepat dikatakan seperti kuburan untuk manusia bernyawa. Ukurannya hanya cukup untuk satu badan saja. Lebih tepatnya ukuran panjang dua meter dan lebarnya kurang lebih hanya dua jengkal saja. Bergerak pun sulit. Posisinya hanya berdiri, atau duduk selonjor saja. Pandangan matanya kini hanya dinding, dinding dan dinding. Pengap. Lembab. Bernafas pun sesak. Tidak ada ventilasi, apa lagi jendela. Sungguh-sungguh lembab dan Arkhan hanya bisa menghirup udara tidak sehat, nafas yang dia keluarkan, kembali dia hirup.


Inilah sel isolasi. Arkhan harus mendekam di sana. Dia tidak tahu bagaimana kondisi Beno sekarang setelah terakhir kali Arkhan melihatnya dalam kondisi tidak bergerak. Apakah Beno masih bernyawa?


Banyak rumor beredar mengenai sel isolasi yang mengerikan karena bernafas di sana hanya akan membuat seseorang seperti merasa di dalam kuburan, tempat itu sering dikaitkan dengan penyiksaan dan gangguan mental. Namun tidak bagi Arkhan. Baginya sel isolasi justru menarik dibandingkan hidup bersama pelaku kriminal paling mengerikan di dunia. Arkhan di sana merasa lebih tenang. Tapi hanya satu yang menjadi beban pikirannya, Reza. Entah bagaimana nasib Reza saat harus berjauhan dengannya. Apakah dia baik-baik saja?


Satu hal yang membuat Arkhan kesal, awalnya dia dinyatakan akan masuk sel isolasi selama dua kali dua puluh empat jam, namun nyatanya semua itu bohong. Seperti ada yang sentimen dengannya, hingga hukuman untuknya seperti tak berujung, sesaat setelah dia dikeluarkan dari sel isolasi, dia dikembalikan lagi ke sel isolasi yang sama.


Arkhan tidak bisa dibesuk siapa pun sekarang. Bayangannya tertuju pada Zalfa. Apa kabar, Zalfa? Sedang apa dia? Arkhan sangat merindukannya.


***


Zalfa duduk di kursi tunggu sebentar setelah berbicara pada resepsionis dokter SPOG. Ia kini berada di sebuah klinik tempat praktik dokter keluarganya. Zalfa sudah membuat janji dan ia hanya perlu menunggu beberapa saat saja untuk masuk ke ruang pemeriksaan setelah pasien di dalam keluar.


Zalfa mengamati beberapa pasang wanita yang duduk di sana, semuanya ditemani suaminya masing-masing.


Diantara berpasang-pasang suami istri di sana, Zalfa tertarik pada wanita berbaju gamis warna biru yang duduk di hadapannya. Sang suami tampak tersenyum mendampingi istri yang kehamilannya mungkin sudah menginjak usia delapan bulan.

__ADS_1


“Ada yang ngilu?” Tanya sang suami pada istrinya penuh perhatian.


“Enggak, Cuma pegel banget udah lama nunggu di sini,” jawab istri manja.


“Sini, nyender aja di pundakku.” Suami meletakkan telapak tangannya ke kepala istrinya, membimbing kepala istrinya supaya menyandar di pundaknya. “kamu kuatlah, kayak jagoan kita ini, dia juga kuat.” Sang suami sekilas mengelus permukaan perut istrinya.


Zalfa mengalihkan perhatian saat pandangannya bertemu dengan pandangan sang istri. Mendadak saja Zalfa merasa seperti cctv yang menjadi pengamat, lebih baik berpaling saja.


“Mbak, sendirian aja?” Tanya wanita berbaju biru itu mencoba untuk mengembalikan perhatian Zalfa.


“Suaminya mana?”


Zalfa harus menjawab apa? Sekilas pikirannya langsung terbayang Arkhan di dalam tahanan.


“Nggak dianterin suami?” sambung wanita itu ramah, sekedar hanya untuk berbasa-basi.


“Beginilah kalau sibuk sendiri-sendiri. Saya pun harus cek kandungan sendiri.” Zalfa berusaha memberi jawaban tanpa harus berbohong. Dia kemudian bangkit berdiri saat namanya disebut di speaker.

__ADS_1


“Saya duluan,” ucap Zalfa pada wanita berbaju biru yang langsung diangguki. Kemudian Zalfa masuk ke ruangan pemeriksaan.


Tak lama setelah pemeriksaan usai, Zalfa keluar dan langsung menuju ke mobilnya yang diparkir di depan klinik. Baru saja kandungannya berusia dua bulan, dia sudah bolak-balik ke dokter untuk melakukan cek kesehatan janinnya. Syukurlah, kondisi janinnya sehat.


Setelah urusan cek kesehatan, Zalfa menyetir mobil menuju ke KFC yang lokasinya lumayan jauh dari kediamannya. Entah kenapa mendadak saja dia menginginkan gorengan hasil masakan KFC yang itu. Ya sudahlah, dia pergi sendiri ke sana.


Sial! KFC tutup. Jauh-jauh dia ke sana, sudah ada tulisan close di pintu kaca. Zalfa memutar arah mobilnya. Dia memilih untuk pulang.


TBC


KLIK LIKE DULU HAYOO.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2