
Kepala Zalfa menggelayut manja di dada bidang Arkhan. Dia senang sekali mendengar perkataan suaminya barusan. “Aku sekarang berbicara mengenai sebuah kebaikan, kemuliaan dan kesempatan yang bisa saja tidak datang dua kali. Siapa yang tahu umur manusia, siapa yang tahu kejadian di hari esok. Andai saja masih ada kesempatan untuk menjadi qori di acara yang sama, mungkin kamu bisa memilih untuk lain kali saja menerima tawaran ini. Tapi jika sudah tutup usia, mana mungkin kesempatan baik ini bisa dijalankan.”
“Kau memikirkan amalku sampai ke sana?”
“Tentu. Aku yakin kamu pasti nggak akan melewatkan kesempatan baik ini. aku bangga padamu jika kamu menerima tawaran dari ustad Bukhori, ini sebuah kehormatan besar. Ustad Bukhori benar-benar berharap kepadamu, sebab kamu dianggap sebagai mualaf yang dijadikan tauladan bagi yang lain. Seorang mualaf saja mampu membaca Al Quran sefasih dirimu, lalu bagaimana dengan saudara muslim yang tidak memiliki niat dalam menuntut ilmu? Jika ada satu orang saja yang terinspirasi dan termotivasi untuk membaca Al Quran karenamu, maka amal mengalir untukmu. Lalu bagaimana jika ada sepuluh, seratus atau seribu orang melakukan hal yang sama? Jangan sia-siakan kebaikan ini.”
“Baiklah. Aku akan menghadiri acara itu.”
“Sungguh?” Zalfa tertawa girang.
“Ya.”
“Kalau begitu biar aku informasikan ke ustad Bukhori.”
Arkhan mengamati keceriaan istrinya. Senyum Zalfa membuatnya merasa benar-benar turut senang.
Zalfa segera menelepon ustad Bukhori. Lengan Arkhan menahan tubuh Zalfa saat akan berdiri dari pangkuannya. Zalfa tersenyum melihat lengan suaminya melingkar di pinggangnya.
Kemudian terjadi perbincangan antara Zalfa dan Ustad Bukhori yang diawali dnegan salam.
“Ustad, Mas Arkhan bersedia menjadi qori, dia akan datang ke acara itu,” kata Zalfa.
__ADS_1
“Alhamdulillah. Baiklah, kalau begitu saya akan suruh asisten saya mencatat nama Arkhan sebagai qori,” jawab ustad Bukhori.
“Itu saja informasi yang saya sampaikan.”
“Terima kasih, Zalfa. Pukul Sembilan acara dimulai. Saya tunggu!”
Zalfa dan ustad Bukhori menutup pembicaraan dengan salam. Tiba-tiba Zalfa mengaduh dan memegangi pinggangnya. Dia mengelus-elus pinggang yang terasa ngilu.
“Zalfa, apa yang terjadi/” Arkhan tampak cemas menatap Zalfa meringis.
“Pinggangku ngilu. Rasanya panas gitu.” Zalfa mengusap-usap pinggangnya dengan telapak tangannya.
Tanpa sadar, tangan Arkhan terjulur dan turut mengusap pinggang Zalfa. “Dimana yang sakit?”
“Sudah tidak sakit lagi?” Dahi Arkhan mengernyit.
“He’em.” Zalfa mengangguk.
“Zalfa, aku akan pergi ke acara itu tapi dengan satu syarat,” kata Arkhan.
“Syarat apa?” Zalfa mengernyitkan dahi.
__ADS_1
“Aku harus mengantarmu ke dokter terlebih dahulu, setelah itu barulah aku ke acara itu. kau juga ingin menyaksikannya secara langsung bukan? Maka kau harus menurutiku.” Arkhan melepas lingkaran lengannya di pinggang Zalfa.
Zalfa turun dari pangkuan Arkhan.
Segera Arkhan bangkit berdiri dan mengambil kunci mobil.
“Loh, bagaimana kalau nanti kamu telat? Kita sedang menjalankan amanah, aku harap kamu jangan sampai telat.”
“Zalfa, aku mengerti dnegan kondisi ini. tapi aku ingin menjaga dirimu, juga kandunganmu. Kondisimu sejak kemarin kurang baik, bagaimana aku bisa menunda untuk mengecek kandunganmu?”
“Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang pergi cek kandungan. Kamu pergi aja ke acara itu. Aku takut kamu telat dan tentunya malah bikin malu. Ini acara besar, setidaknya kamu menjalankannya dnegan penuh amanah.”
“Acara dimulai jam Sembilan. Dan qori tentunya akan ditampilkan setidaknya satu jam kemudian. Bisa jadi jam sepuluh aku baru tampil. Artinya aku masih ada waktu cukup lama untuk membawamu ke dokter. Lihatlah, sekarang baru jam setengah enam. Kita berangkat ke dokter jam tujuh saja.”
“Jam tujuh dokternya belum datang ke tempat praktik. Jam delapan dokternya baru datang."
"Lalu maksudmu?" tanya Arkhan.
"Bagaimana kalau kamu malah terjebak macet sementara waktu yang kamu butuhkan hanya sebentar untuk perjalananmu menuju ke acara itu? Sudahlah Mas Arkhan, aku pergi cek kandungan sendiri saja. Setelah itu aku menyusul ke tempatmu untuk menyaksikan secara langsung.". Zalfa menawarkan dengan senyum lebar.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Sekali lagi aku kabarin, follow instagramku @emmashu90 supaya kalian gak ketinggalan info tentang novel-novelku. Tengkyuh