SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
181.


__ADS_3

Spontan Zalfa teringat nama yang disebutkan di dalam chat untuk Arkhan.


“Salam kenal,” ucap Zalfa dengan seulas senyum. Dalam hati ia menilai betapa cantik gadis yang duduk di hadapanya itu.


Arumi mengangguk. “Sebelumnya, aku nggak pernah melihatmu di rumah Arkhan. Kamu siapa di sana?”


“Aku istrinya.”


“Oh… Aku nggak tahu jika Arkhan sudah menikah.”


Fix, kehidupan komplek sekitar perumahan Arkhan memang saling tidak mengenal satu sama lain. Lihatlah, Arumi bahkan sampai tidak tahu kapan Arkhan menikah dan dengan siapa, padahal mereka bertetangga.


Seorang pelayan meletakkan makanan pesanan ke meja dan berlalu pergi setelah pekerjaannya selesai.


“Silahkan dinikmati!” tutur Zalfa.


Arumi mengangguk canggung. Kedua tangannya mulai menyentuh sendok dan garpu, lalu menyantapnya. “Ayo, makan!” tawarnya ramah sebagai basa-basi.


Zalfa hanya tersenyum menanggapi. “Aku ingin bicara sedikit privat padamu, maaf jika ini mengganggu makanmu.”


“Enggak. Bicaralah!”


“Apa kaitanmu dengan Arkhan? Apakah kalian ada hubungan pekerjaan? Atau apa?”

__ADS_1


“Kenapa kamu bertanya begitu?”


“Sebab aku melihat ada yang menyebut namamu dalam pesan yang diterima suamiku. Artinya kalian ada kaitan. Bisakah jelasin ke aku?”


Wajah Arumi tampak memucat. Tatapannya terlihat gusar.


“Arumi, jangan takut! Bicaralah! Aku dan kamu sama-sama wanita, kuharap kamu bisa memahami aku yang ingin tahu tentang hal ini.”


“Kenapa kamu nggak tanyakan hal ini pada suamimu?”


“Aku akan tanyakan kepadanya setelah menanyakannya kepadamu, apakah jawaban antara kamu dan dia sama?”


“Maaf, kamu tanyakan saja kepadanya.” Arumi bangkit berdiri seperti ingin melarikan diri. Namun ujung gamisnya yang panjang membuatnya kesulitan bergerak saat hedak mengeluarkan kakinya dari celah antara meja dan kursi, ujung bajunya itu terjepit. Dan saat ia berusaha menarik ujung gamis yang terjepit antara kaki meja dan kaki kursi yang dia duduki, saat itulah Zalfa menarik lengan Arumi dengan lembut.


“Enggak enggak. Kamu tanyakan aja langsung ke Arkhan.


“Arumi, kenapa kamu setakut ini? Bukan masalah besar jika kamu mengatakannya padaku kan?”


“Aku nggak mau terlibat lebih dalam lagi. Aku takut akan terjadi hal buruk padaku jika aku mengatakan banyak hal tentang Arkhan kepadamu.”


Zalfa mengulas senyum lebar. “Arkhan itu manusia. Dia sama kayak kita, sama-sama makan nasi, lantas apa yang bikin kamu takut begini? Ayo, duduklah, bicarakan semua ini padaku. Aku akan membantumu,” ujar Zalfa dengan tatapan teduh.


Melihat tatapan teduh serta tutur kata yang lembut, Arumi akhirnya menghempaskan kembali ke kursinya. Ketakutan di wajahnya sedikit memudar.

__ADS_1


“Aku ini istrinya Arkhan, bukan algojonya. Arkhan juga manusia biasa, jangan takut padanya,” ucap Zalfa berusaha menanangkan.


Arumi meneguk jus untuk membasahai tenggorokannya yang kering. Setelah terasa basah, ia pun berkata, “Aku pernah menginap di hotel saat perjalananku menuju Bandung, hotel Tirtayasa.”


Persis, nama hotel yang sama dengan hotel yang disinggahi Zalfa dulu.


“Ada kejadian yang membuatku bingung saat di sana,” lanjut Arumi. “Saat aku baru saja masuk ke kamar hotel, seseorang tiba-tiba ikut menyusup masuk di belakangku. Aku takut sekali waktu itu melihat sosok laki-laki yang menyusup masuk ke kamarku.”


Zalfa mendengarkan cerita itu dengan seksama. Sambil mengaduk-aduk jus dengan sedotan, Arumi menceritakan kejadian di hotel.


TBC


KLIK LIKE YAPS


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2