
Arkhan masuk ke rumah dan berhenti saat sudah berada di tengah-tengah ruangan utama. Ia melirik Zalfa yang melintas di sisinya.
“Zalfa!”
Panggilan Arkhan membuat Zalfa menghentikan langkah kemudian menoleh. “Ya?”
Arkhan mendekati Zalfa. Tatapannya yang teduh membuat hati Zalfa mendadak dingin. Sungguh, kejadian yang diciptakan Bu Fatima di rumah Ismail seperti tak berbekas jika sudah menerima sikap selembut itu dari Arkhan. Kelembutan Arkhan sudah cukup mewakili segalanya.
Arkhan memasukkan ujung tangannya ke kantong celananya. “Wanita tua Bangka tadi sudah cukup membuatku muak, rasanya aku ingin mencintang tubuhnya. Jadi jangan ingat-ingat dia lagi.”
Meski bahasa Arkhan dalam menggambarkan kekesalannya terhadap Bu Fatima cukup mengerikan, namun Zalfa merasa bangga atas pembelaan suaminya itu.
“Aku nggak akan mengingatnya,” jawab Zalfa dengan senyum.
“Kalau begitu, tersenyumlah!” Arkhan mengangkat satu tangannya dan menyentuh pipi Zalfa dengan telunjuk jari, lalu menarik pipi tersebut dengan jarinya itu, memaksa agar tampil senyuman di wajah itu.
Zalfa terkekeh. “Bukan begitu caranya memaksaku untuk tersenyum. Melihat sikapmu begini, aku dan hatiku udah bisa tersenyum dengan sendirinya.”
Arkhan mengangguk dan mengembalikan ujung tangannya ke kantong celana.
"Kamu mau minum teh? Biar aku bikinin." Zalfa melangkah ke dapur.
Tak butuh lama untuk Zalfa membuat teh dan membawanya ke hadapan Arkhan. Ia menyerahkan segelas teh hangat pada suaminya.
Arkhan meraih gelas dan meneguknya lalu mengembalikan ke atas tatakan gelas di tangan Zalfa.
"Kamu mau mandi? Biar segar setelah tadi kamu kepanasan dan keringetan. Biar aku siapin air dingin dan pakaian di kamar."
Arkhan menghela nafas melihat sikap Zalfa. Ia diperlakukan seperti raja oleh istrinya. Entah kenapa, baginya sikap itu terlalu berlebihan menurutnya. mungkin karena ia tidak terbiasa. Zalfa bahkan lebih suka melakukan hal itu sendiri meski ada pembantu yang bisa mengerjakannya dengan alasan ingin mengais ladang pahala.
"Tidak perlu, Zalfa. Aku belum ingin mandi."
__ADS_1
“Ya udah, kalau gitu Aku ke kamar dulu!” pamit Zalfa kemudian naik ke atas setelah meletakkan gelas ke meja.
Arkhan menghela nafas. Kembali benaknya terbayang kedatangan Bu Fatima di kediaman Ismail. Dadanya menggemuruh penuh emosi. Sungguh-sungguh ia ingin mencincang Bu Fatima yang begitu kejam dan pandai bersilat lidah. Setelah apa yang dia lakukan terhadap Zalfa, sekarang wanita itu masih belum puas dengan perbuatan biadabnya. Justru kian menjadi dan menjengkelkan.
Arkhan mengacak rambutnya kasar. Tangannya mengepal dan langkahnya lebar menuju pintu keluar.
“Arkhan!”
Panggilan Zalfa membuat Arkhan menoleh ke atas, menatap Zalfa yang berdiri di balkon memegangi pagar balkon.
“Mau kemana?” tanya Zalfa.
“Ke tempat kerjaan.”
“Apa nggak bisa ditunda?”
“Ada apa?”
Arkhan membalikkan badan, berjalan naik ke lantai atas. Zalfa tersenyum melihat Arkhan melangkah mendekatinya.
“Ayo!” ajak Arkhan saat ia sudah sampai di lantai dua dan Zalfa masih terdiam di tempat.
Zalfa pun menghambur mengikuti Arkhan ke kamar. Ia melewati Arkhan yang menghentikan langkah di tengah-tengah ruangan, lalu duduk di sisi ranjang.
“Kau merasa pusing?” Arkhan mendekati Zalfa dan berdiri di hadapan wanita itu.
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Baru saja.” Zalfa senang sekali mendengar pertanyaan berbau perhatian dari Arkhan. Baru saja Arkhan menunjukkan perhatian seringan itu, namun perasaan Zalfa serasa berbunga-bunga. Jantungnya mendesir. Tapi kenapa Arkhan tidak memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’ lagi, ayolah keluarkan panggilan itu lagi. Zalfa sangat mengharapkannya.
__ADS_1
Arkhan meletakkan punggung telapak tangannya di kening Zalfa. “Tidak panas.”
Sentuhan telapak tangan Arkhan seperti sengatan listrik di tubuh Zalfa.
“Aku hanya pusing, bukan demam,” celetuk Zalfa terkekeh.
Arkhan menyandarkan punggung ke sandaran ranjang dengan posisi setengah berbaring. “Kemarilah!” Arkhan merentangkan satu lengannya.
Tanpa berpikir panjang, Zalfa merangkak mendekati Arkhan dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke lengan suaminya. Arkhan mendekap tubuh Zalfa dengan satu lengan kokohnya. Nyaman sekali berada di pelukan Arkhan.
“Kau bilang ingin beristirahat bukan? Tidurlah!” Arkhan menatap wajah di dekatnya itu.
Zalfa mengangguk dan memejamkan mata.
“Kau begitu sabar menghadapiku, Zalfa. Aku pria pemarah, kasar dan brutal. Tapi kau masih setia padaku dan bahkan melayaniku selayaknya,” bisik Arkhan dengan pandangan ke sembarang arah.
Zalfa tetap memejamkan mata, tanpa membalas ucapan Arkhan.
BERSAMBUNG
POIN DONG POIN UNTUK ARKHAN MANA? 🤧🤧
.
.
.
.
.
__ADS_1