SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
153.


__ADS_3

Zalfa masih duduk dan tak bergerak dari posisinya. Ia enggan menoleh pada pria di sisinya. Ketika akhirnya suasana menjadi sepi akibat tidak ada yang membuka suara, Zalfa akhirnya melirik Arkhan. Jantungnya seperti diestrum saat pandangannya bertemu dnegan mata Arkhan. Pria itu mengangkat alis.


“Kenapa?” tanya Arkhan melihat Zalfa yang menoleh ke arahnya.


“Maaf, aku menumpahkan minuman untukmu,” ucap Zalfa lirih.


Arkhan diam saja. Ia menurunkan punggungnya hingga kini posisinya setengah duduk.


“Apa perlu kubuatkan minum lagi untukmu?” Tanya Zalfa berhati-hati, takut Arkhan menjadi kesal akibat ulahnya.


“Tidak,” singkat Arkhan.


Sunyi.


Keduanya diam membisu.


Zalfa kembali melirik Arkhan yang memejamkan mata. Pria itu masih berpenampilan yang sama seperti saat pergi meninggalkan rumah.


“Arkhan!”


“Hm.”


“Semalam kamu pergi kemana?” lirih Zalfa dengan penuh kelembutan. Ia tidak ingin memancing kekesalan Arkhan seperti yang sudah-sudah.


“Tidak kemana-mana. Hanya ingin menenangkan diri saja,” jawab Arkhan masih dnegan mata terpejam.


“Reza itu anak buahmu, kan?”

__ADS_1


“Hm, ya.” Arkhan membuka mata dan menatap Zalfa.


“Dia tersandung masalah dan polisi tadi sedang mencari keberadaan Reza. Lihatlah, apa yang terjadi dengan Reza. Dia menjadi incaran polisi. Lalu bagaimana denganmu? Lambat laun, pihak yang berwajib akan mendata namamu sebagai salah satu komplotan Reza jika mereka menemukan bukti.” Zalfa berbicara dengan raut cemas.


“Tenanglah, kecemasanmu tidak akan terjadi.” Arkhan masih tetap tenang.


“Kamu bilang tenang?” Zalfa semakin merasa khawatir melihat sikap Arkhan yang tak peduli dengan nasibnya yang berada di ujung tanduk. “Arkhan, polisi sangatlah cerdas dan memiliki trik jitu dalam menangkap sasaran. Apa kamu pikir kamu akan tetap aman? Seberapa lama kamu akan menyembunyikan masalahmu ini? Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, pasti baunya akan tercium juga.”


“Lalu maumu bagaimana?” Tanya Arkhan dnegan santainya.


“Tinggalkan pekerjaanmu. Plis, kumohon jangan lanjutkan lagi.”


“Aku berhenti atau tidak, jika suatu saat nanti polisi mencatat namaku sebagai DPO, maka nasibku tentu akan sama. Sama-sama berujung di bui.”


“Arkhan!” Zalfa memukul dada bidang Arkhan. “Inikah keinginanmu? Hidup bermewah-mewahan dengan uang yang berasal dari merampok. Aku sama sekali nggak ingin hidup bersama penjahat. Tujuan hidup hanyalah untuk ibadah, mencari keridhaan Tuhan. Lalu apa gunanya aku hidup bersama pria sepertimu? Pria yang kesehariannya hanya membesarkan nafsu untuk kejahatan. Bukan hanya sebatas rasa takutku akan berpisah darimu yang membuatku bersikeras memaksamu berhenti dari pekerjaanmu itu, namun juga rasa takutku pada Tuhan. Baiklah, sekarang aku memberi pilihan. Dan hanya ada dua pilihan untukmu. Kamu pilih aku, atau pekerjaanmu itu?”


Arkhan mengangkat wajah hingga kini wajah keduanya sejajar. “Ulangi lagi pertanyaanmu!” tegas Arkhan.


Sunyi.


Kesal, Zalfa mengeratkan gigi sambil berkata, “Aku nggak mau hidup dengan seorang penjahat. Aku akan memilih untuk pergi dari sini dan menyudahi semuanya jika kamu nggak mau meninggalkan pekerjaanmu itu. aku lebih baik mencari kedamaian hati tanpamu.” Zalfa bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan sofa.


Namun baru lima langkah berjalan, tubuh Zalfa berputar saat pergelangan tangannya ditarik dan membentur dada Arkhan. Pria itu memegangi pergelagan tangan Zalfa kuat-kuat. Tangan lainnya melingkar di pinggang wanita itu.


“Arkhan!” Zalfa menatap wajah Arkhan yang sulit ditebak. Wajah itu tampak tenang. Zalfa menggerakkan tubuhnya yang berada dalam pelukan Arkhan supaya terlepas, namun tenaga Arkhan tidak bisa dilawan. “Jangan begini! Lepasin! Bagaimana kalau dilihat Mama atau Elia.”


“Jangan memberiku dua pilihan!” Arkhan tidak mempedulikan ucapan Zalfa.

__ADS_1


“Arkhan, aku memberimu pilihan karena aku nggak bisa menjalani hidup dengan pria yang memiliki tujuan hidup yang berbeda denganku. Tujuan hidumu adalah kesenangan dunia, dan aku kebaikan akhirat. Bagaimana kita akan bisa bersama?”


“Beri aku waktu.”


Zalfa tertegun. Arkhan sudah bisa diajak bernegosiasi. Itu artinya ada kemungkinan baik.


“Orang berubah nggak butuh waktu, Arkhan. Sekarang kamu udah bisa memulai. Bukan hal sulit bagimu meninggalkan pekerjaanmu itu.”


“Baiklah. Aku pasti meninggalkan pekerjaanku. Aku tidak akan meretas bank lagi, aku juga nggak akan bertransaksi narkoba lagi. Puas?”


“Hei, pria tampan! Jangan hanya sekedar omongan kosong. Aku akan menyentil jantungmu kalau kamu hanya mengelabuiku.”


“Berani kamu mengancamku, hm?” Arkhan mempererat lingkaran lengannya di pinggang Zalfa hingga Zalfa merasa kesulitan bernafas akibat permukaan tubuhnya yang tertekan oleh permukaan tubuh Arkhan.


“Hanya aku yang boleh mengancam suamiku yang tampan ini, enggak untuk orang lain. Kamu sungguh-sungguh akan meninggalkan pekerjaanmu itu, kan?”


“Kau sendiri yang bilang kalau meninggalkan pekerjaanku itu bukanlah hal sulit, bukan? Lalu kenapa kau mempertanyakannya. Aku hanya butuh satu hal saat aku tidak lagi berurusan dengan pekerjaan itu. Yaitu kamu!”


Zalfa mengernyit. “Maksudmu? Aku sitrimu, tentu aku bersamamu.”


“Hm. Tentu.” Arkhan melepas pegangannya di pergelangan tangan Zalfa. Ia mengangkat tangannya itu dan telunjuknya mendarat di pipi kanan Zalfa, lalu telunjuk tersebut bergerak ke hidung, pipi kiri dan berakhir di permukaan bibir Zalfa. “Aku ingin kau selalu ada saat aku membutuhkanmu.”


“Kamu sebutkan aja kapan kamu butuh aku. Bahkan dua puluh empat jam pun aku sanggup mendampingimu.”


Sudut bibir Arkhan tertarik. “O ya? Aku senang mendengarnya. Jangan ingkar janji!” Arkhan mendaratkan kecupan singkat ke bibir Zalfa. “Aku mau mandi.” Ia melepas lengannya dari pinggang Zalfa dan naik ke lantai atas.


Zalfa menoleh dan menatap punggung Arkhan yang berjalan menaiki anak tangga. Tanpa sadar telapak tangannya menempel di permukaan bibir sambil tersenyum.

__ADS_1


BERSAMBUNG


POINNYA BOLEH DIBERIKAN UNTUK ARKHAN? 🤗🤗


__ADS_2