SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
225.


__ADS_3

Tanpa terasa, air mata Zalfa menetes meski matanya telah terpejam. Tanpa adanya Arkhan di sisinya, Zalfa tidak bisa tidur nyanyak. Sebentar-bentar terjaga saat tengah malam. Bahkan malam itu, meski baru tiga jam tertidur, rasanya seperti sudah delapan jam berlalu. Zalfa mengesah setiap kali terjaga, karena waktu terasa lamban berjalan.


Terkadang dia menginginkan sesuatu untuk cemilan saat terjaga, namun tidak ada suami yang mempersiakan untuknya. Bahkan terkadang hanya untuk sekedar ingin minum teh hangat pun, dia harus turun ke bawah dan membuatnya sendiri.


Malam ini, Zalfa kembali terjaga saat jarum jam menunjuk angka satu.


"Sayang!"


Suara itu... Sayup-sayup Zalfa mendengar suara bariton memanggilnya dengan sebutan sayang. Zalfa yang saat itu dalam posisi berbaring miring di ranjang pun, langsung membalikkan badan. Ia menoleh dan mendapati Arkhan berdiri di ambang pintu.


Zalfa sontak mengucek mata untuk meyakinkan. Pandangannya tidak salah.


Masyaa Allah.. itu beneran Arkhan. Jantung Zalfa berdetak kencang. Zalfa menghambur memeluk Arkhan. Ia tidak sedang berhalusinasi, aroma khas tubuh Arkhan yang tanpa parfum merasuk ke pernafasannya saat ia menghirup udara. Ya Allah, keajaiban apa yang Engkau tunjukkan?


Sungguh dahsyat kebesaran-Mu, telah mengembalikan Arkhan ke pelukan Zalfa. Air mata Zalfa mengalir tanpa permisi saat punggungnya merasakan pelukan hangat lengan Arkhan. Alhamdulillah...


“Nyonya Zalfa, buka pintunya!”


Seruan tegas membuat Zalfa tersentak dan langsung membuka mata, terbangun dari tidur.


“Astaghfirullah…” lirihnya. Hanya mimpi. Tapi kenapa dia merasakan seperti mencium aroma khas tubuh Arkhan? Aroma itu bahkan seperti tertinggal di dalam pernafasannya. Ya, dia merasakan aroma khas tersebut.

__ADS_1


Seruan tegas yang bersumber dari luar kamar membuat Zalfa bergegas turun dari ranjang, dia menyambar jilbab dan mengenakannya. Suara itu kedengaran asing, siapa yang datang malam-malam begini?


Zalfa membuka pintu. Ia terkejut melihat beberapa orang berseragam polisi berdiri di ambang pintu, Maria di belakang bapak-bapak polisi tersebut.


“Selamat malam Nyonya! Benar Anda istri Arkhan, bukan?” Tanya salah seorang berseragam dengan tegas.


“Ya, benar,” jawab Zalfa dengan jantung yang berdegub-degub kencang. Wajah-wajah di hadapannya membuatnya benar-benar gugup dan menduga-duga hal buruk.


“Kami sedang mencari keberadaan Arkhan. Dia melarikan diri dari tahanan. Apakah Anda melihat Arkhan?”


Deg! Jantung Zalfa benar-benar seperti ingin meledak. Melarikan diri? Zalfa shock


“Nyonya, tolong kesediaan Anda untuk membantu pihak yang berwajib. Tolong jawab pertanyaan kami, apakah Arkhan kemari?”


“Ijinkan kami menggeledah.”


“Silahkan!” Zalfa menyingkir memberi akses jalan kepada para polisi.


Derap langkah kaki memasuki kamar, menggeledah seisi kamar. Sepanjang penggeledahan, entah kenapa Zalfa merasa sangat cemas. Kemudian mereka pergi setelah memastikan tidak ada Arkhan di sana.


Tinggalah Maria dan Zalfa yang bertukar pandang. Mereka tidak saling bicara, namun sorot mata keduanya seakan sudah bicara, mengungkapkan apa yang sama-sama mereka rasakan.

__ADS_1


“Aku mencemaskan Arkhan. Kenapa dia nggak kooperatif aja? Kenapa dia harus melarikan diri? Ya Allah…” Zalfa menghela nafas berat.


Maria hanya diam. Dia juga seperti terlihat terpukul. “Kau yang sabar!” lirih Maria kemudian melenggang pergi. Namun Zalfa dapat melihat tangisan Maria melalui gerakan tangan wanita paruh baya itu yang mengusap air mata.


Zalfa kembali masuk ke kamar dan menutup pintu. Punggungnya menyandar di pintu. Dia memejamkan mata sambil beristighfar.


“Mas Arkhan, kamu kemana?” lirih Zalfa masih dengan mata terpejam.


“Aku di sini!”


Suara itu… Zalfa mendengar suara bariton yang sangat dia kenal, suara yang selalu dia rindukan. Terdengar sangat dekat di telinga Zalfa. Dan lagi, Zalfa mencium aroma yang sama seperti dalam mimpinya. Wangi khas aroma tubuh Arkhan yang tanpa parfum. Zalfa langsung membuka mata. Jantungnya benar-benar seperti disambar petir melihat Arkhan berdiri tegak di hadapannya. Pria itu mengenakan kaos putih dan celana hitam, rambutnya tidak rapi, wajahnya juga berkeringat. Temaram lampu nakas tidak begitu jelas menerangi wajah itu.


Hampir saja Zalfa menjerit histeris melihat Arkhan sudah berdiri di sana, namun mulutnya yang hampir berteriak langsung terbungkam oleh bibir Arkhan.


BERSAMBUNG


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2