SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
248.


__ADS_3

Sudah satu minggu Arkhan terbebas dan melakukan tugasnya yang berbeda dari sebelumnya. Penuh dengan petualangan, penyamaran, penyelidikan, dan teka-teki. Meski demikian, Arkhan tidak tertekan karenanya. Arkhan adalah sosok yang mudah beradaptasi dimana pun berada. Dia sama halnya dengan sebuah kelereng, yang tidak akan berubah atau pun menjadi lapuk meski dilempar di mana pun.


Hari ini, Arkhan memiliki kesempatan untuk membesuk Reza. Dia duduk berhadapan dengan pria muda berbaju seragam warna biru, sama persis seperti seragam yang dulu pernah Arkhan kenakan.


Ruangan sepi membuat helaan nafas keduanya terdengar cukup keras. Keduanya bertukar pandang.


“Apa kau baik-baik saja di sini?” tanya Arkhan dengan tatapan fokus ke mata Reza.


“Aku baik, Bang.”


“Sungguh?”


“Jangan cemaskan aku. Di sini aku sekarang bisa mengatasi keadaan. Aku paham harus menentukan sikap di situasi yang tepat. Aku ingat saran abang dulu, dan aku mempraktikkannya. Semua itu bermanfaat untukku.”


Arkhan mengangguk. “Good. Kau harus menjadi laki-laki sejati yang kuat.”


“Tentu.”


“Bagaimana dengan Beno? Apa dia sudah kembali ke tahanan setelah dilarikan ke rumah sakit?”


“Sudah,” jawab Reza. “Dia sekarang tidak pernah berurusan denganku lagi, aku juga jarang bertemu dengannya.”


“Lalu bagaimana suasanamu di tahanan sekarang?”


“Tidak ada yang perlu Abang khawatirkan, semenjak kejadian perkelahian antara Abang dan Beno, aku seperti mendapat bagian imbas manisnya. Beno yang menganggapku sebagai teman dekat Abang, sekarang kelihatan enggan untuk mendekatiku.”


“Maaf, aku tidak bisa mengeluarkanmmu dari sini.” Arkhan menepuk pundak Reza singkat.


“Abang tidak perlu minta maaf. Semua yang Abang lakukan udah lebih dari cukup.”


“Aku sudah rekomendasikan ke pihak kepolisian supaya kau direkrut sebagai mitra setelah masa hukuman selama satu setengah tahun yang kau jalani selesai. Kau adalah pria muda yang handal di bidang IT. Kau patut untuk direkrut.”


Reza tersenyum. “Tidak, Bang. Aku tidak mau menerima tawaran itu. Aku sepertinya tidak bisa berkomitmen untuk bekerja sama dengan pihak yang berwajib. Jiwaku berbeda dan tidak searah dengan itu.”


Arkhan mengangguk memahami. “Tidak masalah. Aku tenang saat emndengar kabar darimu ini. sekarang, aku pulang.”

__ADS_1


“Ya, Bang. Makasih Abang masih ingat sama aku dan bersedia menjengukku.”


Arkhan kembali mengangguk. Dia bangkit berdiri dan meninggalkan ruang besuk.


Sebuah taksi membawa Arkhan pulang sampai ke rumah setelah dia berkutat dengan kegiatannya. Arkhan menatap jam di ponselnya, pukul sepuluh malam. Dia berjalan sambil membuka kancing kemeja, menyampirkan kemeja yang baru saja dia lepas ke pundak. Kemudian dia mengernyit melihat Zalfa yang terbaring di sofa ruang tamu. Arkhan mendekati sofa, menepuk pelan pipi Zalfa dua kali.


“Zalfa, bangunlah! Kenapa kau tidur di sini?”


Zalfa tidak bergerak sama sekali. Sepertinya tidurnya pulas sekali. “Zalfa, ayo bangunlah!”


Usaha Arkhan sia-sia, tidak ada gerakan apa pun dari tubuh Zalfa, justru hanya hembusan nafas keras Zalfa yang terdengar.


Arkhan menatap pipi halus Zalfa tanpa polesan make up yang bercahaya, hidung mancung mungil yang menggemaskan, terakhir bibir merah ranum seperti tomat yang tanpa polsesan lipstik. Istrinya itu benar-benar terlihat cantik meski tanpa harus dipoles make up. Dia terlihat alami dan mempesona.


Arkhan mendekatkan wajahnya ke wajah Zalfa dengan psoisi wajah yang miring. Saat bibirnya sudah berada satu centi di hadapan Zalfa, Arkhan menghentikan gerakannya itu. kepalanya mendongak, melirik ke kanan dank ke kiri. Tidak ada siapa pun di sekitar sana. Arkhan menyusupkan lengan tangannya di bawah caruk leher Zalfa, lengan lainnya di belakang lutut Zalfa, lalu dia mengangkat tubuh itu menuju ke kamar. Dia tidak perlu menaiki anak tangga untuk masuk kamar. Sebab sekarang rumah mereka tidak tingkat.


Sebelum Arkhan sempat menutup pintu kamar, terdengar suara batuk dari arah belakang.


Arkhan menoleh dan mendapati Elia melangkah menuju ke arahnya. Gadis cilik itu berdiri memegangi knop pintu kamar Zalfa dan memperhatikan Arkhan yang membopong istrinya.


“Loh, Kak Zalfa ngapain? Kok, mesti digenong begitu? Dia sakit? Tapi keliatannya dia baik-baik aja sejak tadi?” Elia mengamati wajah Zalfa yang tertidur.


“Zalfa tertidur di depan,” jawab Arkhan.


“Kenapa tidak dibangunkan saja? Dia kan bisa jalan sendiri?”


“Sudah kubangunkan, tapi tidak terjaga.”


“Kak Arkhan kurang kuat membangunkannya nggak? Dia jadi kelihatan seperti anak kecil saat harus digendong begitu?”


Elia! Arkhan merutuk dalam hati. Cerewet sekali adiknya itu. dari tadi nanya melulu. Bahkan Elia masih berdiri di pintu sampai sekarang.


Arkhan meletakkan tubuh Zalfa ke kasur.


“Lain kali suruh saja aku untuk membangunkan Kak Zalfa kalau dia nggak bangun-bangun,” ujar Elia yang masih setia di ambang pintu.

__ADS_1


“Kembalilah ke kamarmu. Pergi tidur sana!” titah Arkhan.


“Aku belum mengantuk.”


“Lalu, apa kau mau berdiri di situ sampai pagi?”


Elia mengernyit.


“Kau mau punya keponakan?” tanya Arkhan saking geramnya melihat Elia yang malah terbengong.


Elia mengangguk polos.


“Kalau begitu pergilah sana! Biar kubuatkan keponakan untukmu dulu.” Arkhan melangkah menuju pintu dan meraih knop.


Segera Elia mundur dan menatap pintu yang ditutup di hadapannya. “Membuat keponakan?” lirihnya sambil berpikir bingung.


BERSAMBUNG


Kisah Zalfa dan Arkhan akan tamat. Tapi masih lama sih. hehee. Masih ada banyak kejadian yang mesti diupload. Nah, yang jadi pertanyaan, kalian kepingin endingnya gimana?


Meski ini nggak akan mengubah ending versiku, tapi aku hanya ingin tahu ending versi kalian.


Pertanyaan kedua, aku akan bikin sequel dari cerita ini, dan kalian maunya sequel dari kisahnya siapa?


a. Faisal


b. Aranta Soleh Al Kahfi


c. Arumi


d. Reza


e. Faisal, Arumi, Aranta Soleh Al Kahfi


f. Elia

__ADS_1


Jawab yaaah!


__ADS_2