
Di meja makan, Zalfa, Arkhan, Maria dan Elia sidah duduk berkumpul untuk menikmati makan malam bersama. Semenjak kehadiran Zalfa di rumah itu, mereka jadi sering makan di rumah. Yang menjadi penyebabnya hanya satu, Zalfa selalu mengajak suami, mertua dan adik iparnya makan bersama karena ia sengaja memasak, membuat menu masakan yang dia prediksi sesuai dengan selera lidah keluarga Arkhan. Terbukti keluarga Arkhan tidak pernah menolak ajakannya untuk makan bersama menikmati hasil masakannya. Mereka juga selalu lahap. Termasuk si kecil Elia, yang selalu mencibir masakan Zalfa namun pada kenyataannya setiap makan dia selalu nambah. Hadeeuh…
“Kenapa diem aja, Elia?” Tanya Zalfa yang melihat Elia hanya memangku tangan dengan manik mata mengamati setiap piring berisi lauk yang disajikan.
Elia menatap tajam kepada Zalfa. “Aku nggak mau makanan ini.”
“Memangnya kenapa?” Zalfa mengernyit. Penyakit nih bocah kumat lagi. Suka merajuk, ngambek dan cari-cari pasal. Seperti sedang mencari muka pada Arkhan.
“Nggak enak. Aku nggak mau merusak mood-ku dengan melengketkan makanan itu ke mulutku.”
“Are you sure?” goda Zalfa. “Apa kamu sungguh-sungguh nggak mau mencicipi masakanku? Ini lezat sekali. Hmmm… Nyami…” Zalfa mengunyah makanannya dengan nikmat.
Elia menelan. Menatap sengak kemudian memalingkan wajah.
Zalfa menoleh ke arah Arkhan, mengharap bantuan Arkhan untuk melukakkan hati adiknya. Arkhan balas menatap Zalfa hanya dengan sekali lirik saja.
Pandangan Zalfa kembali tertuju kepada Elia. “Elia, kamu ingat sop di mangkuk yang pernah kamu makan? Hayooo… Jangan lagi kamu sembunyi-sembunyi makan, nanti kelaperan. Mendingan makan bareng-bareng sekarang.”
Elia tidak menjawab. Wajahnya masih tertoleh ke samping.
“Elia, kau belum mencicipi hasil masakan Zalfa hari ini. Ayolah, ini lezat sekali. Zalfa sangat pintar memasak.” Maria tampak lahap.
Elia kembali menelan melihat mamanya menikmati makanan.
__ADS_1
Zalfa sangat tahu kalau Elia sebenarnya ingin ikut makan juga, tapi gengsi.
“Arkhan, bantu aku emmbujuk adikmu,” bisik Zalfa.
Arkhan diam saja, terus melanjutkan menikmati makanannya.
Zalfa melepas sendoknya dan menyentuh paha Arkhan yang berada di bawah meja. Sontak Arkhan menoleh ke arah Zalfa, ia melihat Zalfa menganggukkan kepala sebagai isyarat menegaskan permintaannya tadi.
Arkhan melirik tangan mungil Zalfa yang berada di pahanya, kemudian ia berkata, “Elia, ayo makan! Kau bisa sakit jika terus-terusan telat makan.”
“Huh, tumben kau peduli padaku!” rutuk Elia menatap kesal pada Arkhan.
“Kau akan rugi sendiri menghukum dirimu sendiri dengan cara ini. Ayo, makan!” titah Arkhan.
Mendengar perkataan kakaknya, Elia langsung menaikkan tangannya ke meja dan mulai mengambil nasi.
“Bagaimnaa, enak?” tanya Zalfa sesaat setelah Elia memasukkan sesendok makanan ke mulut.
“Enggak!” ketus Elia.
Sabar, Zalfa. Emang dasarnya Elia adalah bocah galak. Jadi harus bisa memahaminya.
“Setelah ini aku akan ke kamarmu melihat piala milikmu, juga piagam juaramu itu. Aku tahu kau yang terbaik,” ucap Arkhan seperti berusaha mengajak berdamai.
__ADS_1
“Kau berjanji akan melihat hasil kerja kerasku? Kau akan lihat begitu hebatnya aku.” Elia bersemangat sampai keselek akibat makan sambil ngomong.
“Elia, jangan bicara jika sedang menelan makanan,” tegur Maria.
Elia pun tidak lagi bicara.
Zalfa melirik Elia dengan senyum lebar saat melihat bocah itu menambah lauk dan sambal buatan Zalfa ke piringnya.
Eits… Artinya masakan Zalfa dinikmati oleh Elia. Huh, gitu aja pun pakai gengsi segala?
Elia pura-pura tidak melihat Zalfa yang saat itu melirik ke arahnya.
Melihat Elia makan dengan lahap, Zalfa sudah merasa puas sekali. Artinya jerih payahnya memasak tidak sia-sia, bermanfaat untuk orang lain.
TBC
JAN LUPA KLIK LIKE
.
.
.
__ADS_1
.
.