SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
160.


__ADS_3

Setelah kepergian Arkhan yang memang kebiasaan pergi tanpa berpamitan, Zalfa menghabiskan waktu di kafe. Arkhan tidak seperti pria lain, yang mungkin akan berpamitan pada istrinya saat akan bepergian. Atau mungkin butuh salam tangan dari istri saat akan meninggalkan rumah. Pria itu lebih terkesan cuek dan dingin. Meski demikian, Zalfa mengakui kalau suaminya itu memiliki jiwa berkorban yang sangat tinggi.


Tepat pukul dua siang hari, Zalfa memasuki ruang kerjanya. Istirahat sejenak dari kegiatannya yang membuat kaki menjadi pegal akibat mondar mandir membantu pegawainya melayani pelanggan. Zalfa duduk di kursi dan meraih ponsel. Ia teringat Arkhan dan merasa sangat merindukan pria itu. mungkinkah hal wajar jika ia sudah merasa kangen saat setengah hari tak bertemu? Apa yang sedang dikerjakan oleh Arkhan?


Zalfa membuka kontak di ponselnya, kemudian menatap nama Arkhan. Jempol tangannya tanpa sengaja menekan nomer itu. Zalfa ingin mematikannya karena panggilan tersebut terjadi tanpa disengaja. Namun urung, alih-alih Zalfa malah meletakkan ponsel ke telinga dan mendengarkan nada panggilan tersambung.


Nada panggilan terputus dan Arkhan tidak menjawab teleponnya.


Zalfa pun mengetik di kotak chat dengan tujuan nama Arkhan. Setelah kata-kata diketik rapi, Zalfa enggan mengetuk tanda send. Namun ia ekat, jempolnya mengetuk tanda send dan chat pun terkirim ke nomer Arkhan.


Zalfa


Arkhan, kamu lagi ngapain?


Apakah kamu belum pulang?


Zalfa mengalihkan perhatian ke laptop, ia menggeser mouse dan menggerak-gerakkan kursor ke arah file yang diinginkan. Sesekali pandangannya tertuju ke ponselnya, menunggu balasan dari Arkhan. Namun hingga lima belas menit berlalu, tidak ada balasan dari Arkhan.


Tak bosan dengan ulahnya, Zalfa kembali mengirim pesan.


Zalfa

__ADS_1


Arkhan, bisakah kamu menjemputku di kafe?


Aku gk bawa mobil


Zalfa mengesah. Chatnya terkirim namun Arkhan tidak membacanya. Bahkan teleponnya tadi juga tidak direspon oleh Arkhan. Apakah mungkin Arkhan tidak melihat ponselnya? Apakah pria itu jauh dari ponselnya? Atau memang Arkhan kurang begitu peduli dnegan hal-hal yang demikian?


Mungkin Zalfa salah jika berharap bisa romantisan, bermesraan dan kangen-kangenan melalui telepon, saling berbalas chat bersama Arkhan seperti yang terjadi dengan rumah tangga teman-temannya. Arkhan bukanlah tipe pria seperti yang dia harapkan. Mungkin Zalfa salah menempatkan harapannya.


Zalfa memilih pergi ke rumah Ismail dengan mengendarai taksi. Di perjalanan, ia mengirim pesan kepada Arkhan.


Zalfa


Aku udah ke rumah mas Ismail


Aku akan pulang sendiri.


Sesampainya di rumah ismail, Zalfa di depan pintu mengucap salam namun tidak ada yang menjawab. Ia menoleh ke rumah tetangga, menatap Soleh yang sedang membersihkan taman.


Zalfa tergelak menatap Soleh yang jatuh terperosok ke arah bunga-bunga akibat lehernya yang terus menoleh ke arah Zalfa sehingga posisinya berdiri pun tidak seimbang sesaat setelah tersandung pot bunga.


“Ya ampun, sial banget nasib cowok rajin kayak kamu. Ngurusin taman malah kejungkang,” celetuk Zalfa.

__ADS_1


“Iya, nih. Ngeliatin bidadari surga malah begini.”


Senyum Zalfa menghilang begitu mendnegar kata-kata Soleh. “Bidadari surga? Aku bahkan nggak tahu apakah aku ini pantes untuk bisa menatap surga atau enggak.”


Soleh meletakkan gunting pangkas ke lantai. Ia berjalan mendekati pagar pembatas. “Maafin aku Ya Allah, kalau aku menginginkan wanita yang sudah menjadi milik orang untuk menjadi istriku. Aku salah kan, Zalfa? Aku berdosa atas keinginanku itu, kan?”


Zalfa agak bingung menjawabnya. “Kalau kamu tahu itu dosa, kenapa kamu kerjakan?”


“Aku justru ingin menghindarinya, tapi sulit. Sekarang ini aku sedang berusaha. Dan aku berharap akan mudah melaluinya.”


Zalfa hanya mengangguk diiringi senyum tipis.


“Aku masuk dulu,” pamit Zalfa.


“O ya, Mas Ismail sedangsakit. Sejak kemarin beliau nggak masuk kerja. Itukah yang menyebabkanmu kesini untuk menjenguknya?”


Zalfa terkejut. “Mas Ismail sakit? Kok, dia nggak ngabarin aku?”


“Loh?”


TBC

__ADS_1


__ADS_2