
“Atau jangan-jangan… kamu balas dendam sama aku gara-gara kamu tadi merasa dicuekin sama aku?” tebak Zalfa.
Arkhan mengangkat alis. “Tidak sperti itu.”
“Lalu kenapa kamu merokok saat bersamaku? Jelas-jelas aku sedang hamil, dan asap rokok sudah dipastikan sangat berbahaya untuk ibu hamil, tapi kamu malah melakukannya.”
“Aku lupa soal itu.”
“Hah?” Zalfa membelalak kaget. “Lupa? Kamu lupa kalau aku hamil? Kita bahkan baru aja keluar dari klinik dokter loh untuk cek kehamilan.”
“Maksudku… aku lupa kalau asap rokok tidak baik untuk ibu hamil,” jawab Arkhan tenang.
“Kamu tahu kan kalau rokok itu terbuat dari bahan-bahan yang tidak sehat. Bahkan di bungkus rokoknya pun sudah menjelaskan segala kerugian yang akan dialami jika merokok. Sama sekali tidak ada manfaat dan kebaikan yang ditimbulkan dari merokok. Kalau memang kamu ingin emlanjutkan merokok, maka sebutkan satu saja kebaikan dari merokok! Jika kamu bisa menyebutkannya, maka aku ikhlas kamu merokok lagi.”
Arkhan menghela nafas. Masih diam.
“Nggak ada satu pun manfaat dari merokok. Jelas-jelas membuat kantong kering, juga menciptakan penyakit. Tidak hanya merugikan si perokok, bahkan orang di sekitar perokok pun mendapatkan efek yang jauh lebih buruk dari asap yang dia sebarkan. Satu tarikan nafas saja yang dihirup oleh perokok pasif, itu sama aja kamu berbuat zolim kepadanya karena udah membuatnya menderita dengan menghisap asap rokokmu. Dan satu tarikan nafas saja yang dihirup akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti, bagaimana jika puluhan, ratusan, atau ribuan tarikan nafas yang dihirup orang akibat asap rokokmu?” Zalfa geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Arkhan menarik sudut bibirnya sedikit. “Kehidupanku di penjara sangat keras, Zalfa. Dan aku membutuhkan rokok untuk ketenanganku. Kau tidak akan mengetahui jika kujelaskan.”
“Mas Arkhan, ketenangan bukan didapatkan dari merokok, tapi dengan zikir, beristighfar dan shalat.”
Untuk kalimat itu, Arkhan tidak bisa lagi mengomentari. Dia kalah telak. Dia paham dengan maksud ucapan Zalfa. Dan untuk menuju ke arah sana, Arkhan masih perlu banyak belajar dan menggali kesadaran diri.
“Sudah?” Arkhan menatap Zalfa.
“Apanya yang sudah?”
“Ngomel-ngomelnya.”
“Kalau masih mau lanjut lagi, aku dengarkan! Dan kalau sudah selesai, aku mau putar musik,” sambung Arkhan.
Zalfa tidak mau menjawab, dia mengubah posisi joknya menjadi setengah berbaring. Kemudian dia memejamkan mata. Arkhan melirik Zalfa dan tersenyum tipis. Dia menekan power pada monitor dan menyalakan musik.
Alunan musik bernada hard rock mengalun cukup kuat.
__ADS_1
“Telingaku pengang denger musiknya, Mas Arkhan. Kecilin dikit, dong!” titah Zalfa.
Arkhan langsung mengurangi volume musik.
Tidak butuh waktu lama untuk Zalfa tertidur. Sejuknya Ac ditambah alunan musik serta kondisi tubuh Zalfa yang entah kenapa mudah mengantuk, membuatnya dengan mudah berlari ke alam mimpi.
Sesampainya di sebuah rumah, Arkhan turun dan memutari mobil. dia membuak pintu mobil di sisi Zalfa. Niatnya ingin menggendong Zalfa masuk ke rumah. Tapi talat, Zalfa sudah bangun lebih dulu saat Arkhan membuka pintu.
Suara hentakan pintu tertutup saat Arkhan turun dari mobil, membuat Zalfa kaget dan terbangun. Dia sudah duduk dan mengucek mata. Lalu turun dari mobil.
“Ayo!” ajak Arkhan yang melangkah menuju ke rumah.
Zalfa menutup mulutnya yang menguap sambil berjalan mengikuti Arkhan. Matanya masih mengantuk, belum sempurna terbuka. Sesekali dia mengucek mata.
TBC
.
__ADS_1
.
.