SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
151.


__ADS_3

“Ini sudah larut malam. Istirahatlah! Kau harus menjaga kesehatan.” Maria menepuk dua kali lengan Zalfa kemudian ia bangkit berdiri dan pergi.


Zalfa melepas nafas panjang. Ditengah perasaan gundah atas kepergian Arkhan, namun ia juga merasa bahagia karena mertuanya menaruh kepercayaan besar terhadapnya. Begitu besar rasa cinta Maria untuknya. Terima kasih.


Zalfa masuk ke kamar. Ia duduk di sisi ranjang. Tangannya mengelus bantal yang biasa dipakai untuk Arkhan tidur.


“Ya Tuhan, bantulah aku untuk melunakkan hati Arkhan. Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Arkhan, pulanglah. Aku menunggumu.” Zalfa menatap setetes bundar air yang menetes membasahi bantal. Kemudian ia menghapus air matanya dengan punggung tangan. Hatinya tak henti mengucap zikir dan doa, berharap Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Arkhan.


***


Zalfa membuka mata, yang pertama dia lihat adalah jam dinding. Sudah jam setengah enam. Zalfa melirik kasur di sebelahnya. Kosong. Arkhan tidak ada di sisinya. Lengannya menjulur meraba permukaan kasur di sisinya. Arkhan, kamu kemana?


Rasa kantuk menyerang begitu dahsyat sampai ia lupa jam berapa matanya terpejam setelah menanti kepulangan Arkhan tadi malam. Sepertinya ia hanya tertidur sekitar dua jam saja. Ia bahkan sampai tidak mendengar suara adzan yang biasanya bersahut-sahutan saking lelapnya tidur.


Zalfa melaksanakan rutinitasnya sehari-hari, gosok gigi, wudhu’, shalat subuh dan menghabiskan watu cukup lama di atas sajadah untuk berdzikir, berdoa, kemudian mengaji. Setelah itu ia mandi dan bergegas keluar kamar. Ia berpapasan dengan Elia di lantai satu.


“Kak Arkhan mana?” tanya Elia dengan tatapan tertuju ke mata Zalfa.

__ADS_1


“Pergi,” jawab Zalfa.


“Kemana?”


“Nggak tahu.” Batin Zalfa sedang gundah sehingga ia hanya bisa menjawab pertanyaan Elia seperlunya.


“Memangnya dia nggak bilang mau kemana?”


Duuh... bocah ini seperti wartawan saja. Zalfa berjalan menuju ke ruangan lain dan Elia mengikutinya.


Senjata makan tuan. Perkataan Elia sepertinya direkam oleh Zalfa. Elia masih terus mengikuti Zalfa yang saat itu sedang menuju ke ruang makan. “Kau adalah istrinya. Kupikir kau tahu.”


“Apa kamu ada perlu dengannya?”


“Semenjak dia dekat denganmu, dia jarang menjumpaiku.”


“Hanya itu?”

__ADS_1


Elia mendengus. Pertanyaan Zalfa membuatnya merasa sedang disudutkan.


Zalfa tersenyum menatap Elia berusaha mengusir kekalutan dalam dirinya yang merasa gundah atas kepergian Arkhan. “Kalau begitu biar kutelpon dia.” Zalfa mengangkat ponsel di tangannya dan menghubungi Arkhan. Raut wajahnya mendadak resah mendengar suara operator yang mengatakan kalau nomer yang dihubungi sedang tidak aktif.


“Ponselnya mati,” singkat Zalfa sambil terhempas duduk di kursi meja makan.


Elia ikut duduk. Ia menyambar buah apel dan menggingitnya sambil mengamati wajah Zalfa.


“Nggak perlu secemas itu juga kalik, baru aja nomer ponsel Kak Arkhan nggak aktif kamu udah sesedih itu. Gimana kalo dia beneran ilang? Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?” Elia mengernyit memperhatikan ekspresi wajah Zalfa yang ditekuk.


Zalfa kembali tersenyum berusaha menampilkan ekspresi tenang meski hatinya resah. “Aku nggak apa-apa.” Ia kemudian bangkit berdiri karena niatnya untuk sarapan gagal akibat nafsu makannya yanglenyap entah kemana.


Zalfa melangkah henda ke lantai atas. Namun ia mendengar suara bel pintu berbunyi saat melintas di ruangan utama. Zalfa mengubah arah langkah kakinya, ia pun membuka pintu.


“Polisi?” kejut Zalfa melihat dua orang berseragam yang berdiri di depan pintu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2