
Zalfa ikut menuruni ranjang. Ia memeluk Arkhan erat sambil mengusap-usap punggung pria itu. senyumnya mengembang. “Mungkin kamu nggak asing dengan kisah Asiyah binti Muzahim, yang keteguhannya dalam mempertahankan keimanannya diabadikan Allah dalam Al Qur’an. Asiyah, satu dari empat wanita penghuni surga berkat keteguhan imannya. Dia adalah istri Fir’aun, raja zalim di jaman nabi Musa, keteguhan dan imannya patut ditauladani. Kejadian yang menimpaku belum seberapa jika dibandingkan Asiyah yang diberi hukuman dan siksaan yang berat oleh Fir’aun, kedua tangan kaki Asiyah diikat, tubuhnya ditelentangkan di atas tanah yang panas, wajahnya dihadapkan ke terik sinar matahari. Kemudian atas Kuasa Allah, malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak terasa oleh Asiyah. Nggak cukup sampai di situ, Asiyah juga dijatuhi sebongkah batu besar di dadanya. Itu sungguh siksaan yang amat berat dan sangat tidak manusiawi. Ketika Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhkan padanya, beliau pun berdoa, ‘Wahai Allah Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di surga’. Hingga keajaiban itu pun diperlihatkan Allah, yaitu sebuah gedung di surga, lalu ruhnya keluar dan barulah batu besar dijatuhkan di tubuhnya. Asiyah tidak merasa sakit karena jasadnya sudah tidak memiliki nyawa. Inilah keajaiban dari sebuah keyakinan akan adanya dzat maha dahsyat yang menciptakan dan mengatur urusan manusia. Bukan manusia yang satu yang harus mengurusi manusia lainnya. Ujian untuk menaikkan derajat manusia itu sangat berat, tapi akan mudah saat meyakini kebesaran Tuhan.”
Jantung Arkhan yang berdetak kencang, kini mulai kembali normal.
“Kita shalat dhuhur, yuk. Waktunya udah masuk.” Zalfa mengangkat wajah menatap wajah tampan Arkhan.
Arkhan mengangguk.
Alhamdulillah… batin Zalfa bersyukur, usahanya meredam kekesalan suaminya berhasil.
Arkhan memiringkan wajahnya dan mendaratkan kecupan ke bibir Zalfa.
Wejangan yang dilontarkan Zalfa sepertinya membuahkan hasil. Arkhan tidak keluar rumah hari itu. Usai shalat, dia tidur sampai sore. Makan malam pun di rumah karena Zalfa sudah memasak untuk dinner bersama keluarga.
Arkhan mengakui kalau Zalfa adalah istri yang rajin, supel, baik hati dan segala-galanya. Sudah memiliki asisten rumah tangga pun, dia masih bersedia masakin suami demi menyenangkan hati suami dan tentunya juga demi mengais ladang pahala seperti yang dia ungkapkan tempo hari.
Malamnya, seperti biasa, Arkhan meminta waktu untuk bercinta dengan Zalfa. Setelah mandi, keduanya kembali naik ke ranjang dan tidur.
Zalfa mengernyit saat Arkhan memiringkan tubuh menghadapnya dengan satu tangan menopang kepala. “Ada apa?”
“Aku ada satu pertanyaan, jawab oke!”
“Apa itu?” Kerutan di dahi Zalfa semakin menguat. Penasaran.
“Di tubuhmu, bagian mana yang sensitif?”
__ADS_1
“Arkhan, jangan bercanda!”
Sudut bbir Arkhan tertarik lebar. “Aku bertanya, kenapa tidak dijawab?”
“Aku nggak mau jawab.” Zalfa sebenarnya senang sekali melihat Arkhan yang dingin dan diam, kini mulai banyak bicara. Tapi ia harus jual mahal, kan malu kalau buka rahasia.
“Apakah di sini?” Arkhan mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibir ke leher Zalfa.
“Jangan!” Zalfa mendorong kepala Arkhan hingga menjauh.
“Atau di sini?” Arkhan mengelus permukaan perut Zalfa.
“Arkhan!” Zalfa memegang tangan Arkhan hingga gerakan tangan Arkhan terhenti. “Tadi kan udah, jangan lagi. Kita udah mandi. Ini malem, kan dingin.”
“Semua yang kamu lakukan udah cukup membuatku senang.”
Arkhan menaikkan alis.
“Jangan tatap aku seperti itu, Mas!”
Kali ini alis Arkhan semakin terangkat tinggi. Zalfa memanggilnya dengan sebutan Mas. Panggilan itu terasa menyentuh hatinya. Rasanya lebih romantis dan menenangkan hati.
“Ya, panggil aku dengan panggilan itu, sayang!” Arkhan menjatuhkan kepala di bantalnya.
Ah, panggilan sayang kembali disebutkan oleh Arkhan. Hati Zalfa senang sekali.
__ADS_1
“Tidurlah!” Arkhan memejamkan mata.
Zalfa melirik Arkhan yang sudah terpejam. Rasanya dia ingin tidur sambil memeluk suaminya, tapi enggan, takut Arkhan malah nakal lagi. Ya sudah, Zalfa menahan diri. Ia menarik selimut sampai ke leher dan terpejam.
Entah kenapa perasaan bahagia dalam diri Zalfa membuatnya malah jadi tidak nyenyak tidur. Setelah panggilan sayang yang dilontarkan Arkhan dan hati Zalfa berbunga-bunga, sebentar-bentar ia pun terjaga. Beberapa kali ia terjaga dan mengawasi wajah tampan suaminya yang terpejam. Terakhir kali ia terjaga, tepat jam dua belas malam, ia tidak mendapati Arkhan di sisinya.
Mungkin Arkhan di kamar mandi. Pikir Zalfa. Ia mencoba untuk memejamkan mata namun tidak bisa tertidur pulas. Bayangannya melayang entah kemana-mana. Setelah lama berkutat dengan bayangan yang tidak jelas, ia baru sadar sudah setengah jam berlalu dan Arkhan belum juga kembali ke ranjang.
Arkhan kemana malam-malam begini? Zalfa bangun dan menyingkap selimut, menatap bantal di sisinya yang kosong.
BERSAMBUNG
Masih setia kasih poin untuk ArZa kaaan? 😘😘😘
.
.
.
.
.
.
__ADS_1