
“Meski Reza pernah berkhianat, tapi kesetiannya tidak diragukan. Pengorbanannya tinggi. Dia rela mati demi diriku. Inilah yang membuat toleransiku tinggi terhadapnya.”
Zalfa hanya menatap Arkhan tanpa mengomentari. Ia merasa perutnya melilit karena lapar. Tadi ia tidak sempat makan karena Arkhan datang saat ia baru saja hendak memulai makan. Apakah Arkhan tidak tahu kalau dia sedang lapar sedangkan Arkhan tahu kalau tadi makan malamnya batal. Kenapa Arkhan tidak mengajaknya makan? Apa perlu ia yang mengajak Arkhan makan? Baiklah, Zalfa mengalah.
“Arkhan, aku…” Zalfa menghentikan kalimatnya saat ia melihat Arkhan melepas sealtbelt. Dan ia baru sadar kalau mobil ternyata sudah berhenti.
“Ayo turun!” ajak Arkhan kemudian turun duluan.
Pandangan Zalfa tertuju ke depan, menatap kelap-kelip lampu yang menjadi penghias papan nama sebuah restoran. Astaga, mobil berhenti tepat di depan restoran. Zalfa tersentak saat kaca di sampingnya diketuk dari luar. Ia melihat Arkhan sedikit membungkukkan tubuh menatap ke dalam mobil.
Zalfa buru-buru membuka pintu mobil dan turun. Kemudian ia mengikuti Arkhan memasuki restoran.
Keduanya duduk berhadapan.
Zalfa menatap wajah Arkhan yang terlihat semakin tampan disinari lampu-lampu terang benderang yang bersumber dari plafon restoran. Sungguh sempurna, Arkhan yang dilahirkan dengan fisik gagah dan ketampanan yang luar biasa, dihadiahi IQ tinggi yang begitu mudahnya menghafal ayat-ayat suci. Dia dikaruniai banyak anugerah. Seharusnya Arkhan bersyukur dan menjadikan dirinya mulia seperti caranya membaca ayat-ayat yang juga mulia. Ya, tugas Zalfa masih panjang, menjadikan Arkhan sebagai suami yang taat ibadah dan menjauhi segala larangan-Nya.
__ADS_1
“Kau mau makan apa?” tanya Arkhan dengan sorot matanya yang tegas.
Zalfa menatap kertas menu yang dipegangi di tangan Arkhan, manik matanya sedikit melirik ke arah pelayan yang berdiri di sisi meja. Entah sejak kapan pelayan datang hingga ia tidak menyadarinya, sepertinya ia terlalu fokus memperhatikan Arkhan.
“Aku …” Zalfa bingung mau jawab apa. Makanan apa yang ada di sana? Ini adalah kali pertamanya ia ke sana.
“Pie rasa lobster,” ujar Arkhan sambil terus menatap manik mata Zalfa tanpa melepaskan pandangannya itu.
“Mm… Iya. Itu aja,” jawab Zalfa meski tidak mengenal jenis makanan yang disebutkan. Entah apa itu Pie? Zalfa belum pernah merasakannya.
Pelayan pergi setelah mendapatkan menu dari pelanggan.
“Kamu sering makan di sini?” Tanya Zalfa yang langsung mengalihkan pandangan ke meja saat menyadari tatapan mata Arkhan yang terus fokus ke wajahnya. Ia jadi grogi duduk berhadapan begini, efek dipandangi oleh Arkhan.
“Tidak. Ini pertama kalinya.”
__ADS_1
Zalfa sontak kembali mengangkat wajah dan menatap Arkhan dengan mata terbelalak. “Jika kamu belum pernah ke sini, lantas kenapa kamu membawaku ke sini? Bagaimana jika makanan di sini bukan seleramu?”
“Tidak ada tempat yang perlu dipesan untukku bisa duduk berdua denganmu. Kalau aku mau, aku bisa duduk di manapun aku mau bersamamu, tanpa harus booking tempat terlebih dahulu.” Arkhan melirik cincin di jari manis Zalfa, cincin kawin yang dia sematkan di sana. “Anggap saja ini susulan proses pernikahan kita yang tidak pernah terjadi. Jika kau mau, lepaskan cincinmu dan aku akan kembali memasangkannya di jari manismu. Mungkin momennya akan terasa lebih terkesan betulan.”
Zalfa tertawa. “Enggak perlu. Makasih, Arkhan. Kamu sedang ingin membuatku merasa senang dengan caramu itu, tapi ini udah cukup bagiku.”
“O ya?”
“Ya.”
Perbincangan terhenti saat pelayan menyajikan hidangan. Zalfa mengamati makanan yang disajikan. Pertama kalinya ia melihat pie yang aromanya tercium khas di hidungnya.
TBC
JANGAN LUPA KLIK VOTE DI SETIAP CHAPTER
__ADS_1