SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
241.


__ADS_3

Selesai makan, mereka pulang. Arkhan langsung menemui Maria yang saat itu sedang membaca majalah di kamar. Maria terkejut melihat kedatangan Arkhan. Awalnya dia menduga kalau Arkhan melarikan diri lagi dari tahanan, namun saat melihat Zalfa tersenyum mengiringi kedatangan Arkhan, Maria pun menganggap kalau dugaannya salah dan meyakini kalau Arkhan datang menemuinya dengan jalan yang benar.


Maria berdiri dan memeluk puteranya, mengusap kepala putranya itu dan menjambaknya pelan hingga membuat Arkhan menatap heran pada mamanya. Setelah dipeluk, dia malah dijambak.


“Zalfa, katakana apa yang terjadi? Kenapa Arkhan pulang dengan terang-terangan begini?” Maria menanyai Zalfa, namun pandangannya tertuju ke wajah Arkhan.


“Mama, Mas Arkhan bebas, Ma. Dia sekarang di hadapanmu untuk kembali tinggal bersama kita lagi,” jelas Zalfa membuat Maria tersenyum haru.


“Syukurlah. Aku tidak akan bertanya apa alasan dibalik kebebasanmu. Sudahlah, itu cukup menjadi beban pemikiranmu, Arkhan. Aku hanya perlu merasa bahagia atas kebebasanmu ini. Sudah, cukup itu saja.”


Arkhan merapikan kembali rambutnya yang sempat dijambak oleh Maria.


“Jangan Tanya kenapa aku menjambakmu. Kau sudah banyak berulah dan memberikan beban pikiran padaku, seharusnya kau tidak hanya mendapat jambakan rambut saja, tapi lebih dari itu.” Maria menatap kesal pada Arkhan sekaligus terharu.

__ADS_1


“Ya, Mama hukum saja aku. Lakukan apa saja!” ucap Arkhan.


“Bagaimana lagi aku harus menghukummu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku sadar kalau ini tidak mutlak kesalahanmu, sebab aku memang kurang peduli pada anak sejak kau kecil sampai sebesar ini. Dan inilah yang harus kuhadapi.” Maria memegang tangan Arkhan. “Kau sudah banyak melakukan hal di luar yang kuketahui. Kuharap sekarang kau berubah. Jadilah manusia yang baik, yang tidak merugikan orang lain, yang selalu berbuat hal baik pada siapa pun. Hanya itu yang kuinginkan darimu.”


Zalfa tersenyum mendengar pesan Maria yang ditujukan kepada Arkhan.


“Zalfa!” panggil Maria sambil menyentuh tangan Zalfa, kemudian menyatukan tangan itu dengan tangan Arkhan. “Aku minta padamu supaya membimbing dan mengarahkan Arkhan. Dia membutuhkanmu. Aku yakin kau akan mampu membawa Arkhan ke jalan yang baik.”


“Iya, Mama. Inshaa Allah.” Zalfa mengangguk.


“Ya.” Arkhan mengangguk singkat. “Baiklah Mama, sekarang akuke kamar dulu. Aku gerah dan ingin mandi.”


Maria menatap keringat yang mengalir di leher Arkhan. Puteranya itu kepanasan karena hanya ada kipas angin di kamar Maria. Hanya kamar Zalfa saja yang ada AC-nya karena Zalfa belum bisa membeli AC untuk kamar Maria. Jika mendapat rejeki, Zalfa tentu akan membelikan AC untuk kamar Maria dan Elia.

__ADS_1


Arkhan berjalan menuju kamarnya, Zalfa mengikutinya. Pria itu langsung membuka kaosnya dan menyalakan AC. Dia menuju ke lemari dan mencari handuk.


“Mas Arkhan!” panggil Zalfa membuat gerakan tubuh Arkhan terhenti.


Arkhan menoleh dan mendapati Zalfa menjulurkan handuk ke arahnya. Arkhan sampai lupa kalau dia memiliki istri yang sangat perhatian, peduli dan sangat berharap bisa melayani dirinya. Sesaat Arkhan tertegun menatap handuk yang dijulurkan ke arahnya.


“Ini handuknya, kamu mau mandi, kan?” ucap Zalfa dengan seulas senyum. Senyuman manis yang membuat Arkhan terkesima menatapnya.


“Oh…” Arkhan meraih handuk tersebut. Kemudian dia bergegas memasuki kamar mandi. Air yang mengguyur tubuhnya terasa meluruhkan penat di raganya. Dia memejamkan mata menikmati air shower yang mengguyur kepalanya. Sudah lama dia tidak merasakan guyuran air sesegar itu. meski dia terlihat tenang-tenang saja, namun di kepalanya telah disumpal dengan berbagai niat dan trik untuk dapat menjalankan tugasnya menjadi mitra kepolisian. Satu nama terlintas di kepalanya. Mario.


...Bersambung....


.

__ADS_1


.


__ADS_2