
Zalfa melenggang menuju ke luar. Sepanjang langkah kakinya, batinnya berbunga-bunga, shalat berjamaah dengan Arkhan menjadi alasannya. Tidak butuh banyak permintaan untuk Zalfa bisa merasa bersyukur, dengan diberi kesempatan untuk bisa shalat berjamaah bersama Arkhan saja, sudah cukup membuatnya merasa bahagia.
“Zalfa!”
Tunggu dulu, ada yang memanggil. Zalfa menoleh ke sumber suara. Ia melihat Faisal berjalan ke arahnya. Ada apa Faisal datang ke sana? Apa dia akan menemui Arkhan?
“Jam besuk Arkhan udah habis.” Zalfa berucap, otaknya mengatakan kalau tidak ada tujuan lain bagi Faisal ke sana kecuali untuk membesuk Arkhan.
“Aku nggak sedang ingin menemui Arkhan.”
Muka Zalfa sedikit memerah karena tebakannya salah. Dia terlalu ke pe-de an.ya ampun, malu banget. Ampun deh. Jangan lagi main tebak-tebakan deh, bisa jadi nuduh kalau begini kan? Ini efek perasaan bahagia jadi pikirannya ke Arkhan melulu.
“Jadi, kamu mau ngapain ke sini?” Kening Zalfa mengerut.
“Menanyakan sampai dimana perkembangan kasus pembunuhan ibuku.”
“Ooh…”
__ADS_1
“Aku benar-benar ingin tahu siapa pelakunya.” Faisal tampak sangat geram saat mengucapkannya, giginya sampai menggertak.
“Sal, Bu Fatimah memang ibumu, tapi bukan berarti kamu merasa dendam pada pelakunya bukan? Akan ada jalan dan hukuman setimpal yang Tuhan jatuhkan kepada pelaku, percayalah!”
“Aku yakin dugaanku tidak meleset, dan aku sudah mengantongi nama pelaku. Setelah polisi menyebutkan nama pembunuhnya, maka kujamin pelakunya tidak akan pernah lagi bisa menghirup udara segar.” Faisal terlihat gedeg. Dia meyakini sepenuhnya, bahwa dugaannya tidaklah meleset.
“Kamu masih berpikir bahwa pelakunya adalah Arkhan?”
“Ya.” Faisal menjawab tegas. “Seluruh bukti dan dugaan sudah mengarah kepadanya. Bahkan polisi juga sudah mencatat nama Arkhan sebagai salah satu saksi yang mungkin bisa berbalik menjadi tersangka.”
“Faisal, semua ini belum terbukti dan emmang belum ada bukti yang menunjukkan kalau Arkhan menghabisi Bu Fatima. Tidak ada sidik jari yang menjadi bukti, juga tidak ada jejak apapun yang menunjukkan kalau Arkhan pelakunya.”
“Arkhan tidak bod*h, andai saja dia memiliki niat jahat untuk membunuh Bu Fatima, dia tentu nggak akan melakukan dengan cara sebod*h ini. Kalau perlu dia nggak usah menemui Bu Fatima sebelum pelenyapan itu terjadi, sehingga nggak ada satu pun orang yang akan menduga kalau dia adalah pelakunya. Coba pikirkan itu!”
“Kau percaya kalau suamimu itu bukan pelakunya?” faisal menatap mata Zalfa intens.
“Ya,” tegas Zalfa. “Aku yakin bukan Arkhan pelakunya.”
__ADS_1
Ekspresi wajah Faisal tampak berbeda saat mendengar pengakuan Zalfa. “Kamu belum lama mengenalnya, tapi kamu sudah sangat mempercayai kata-katany, luar biasa!”
“Sekarang jawab jujur, kamu begitu antusias menuduh Arkhan atas dasar bukti-bukti atau kecemburuan?”
Muka Faisal kembali berubah, ia kemudian memalingkan pandangan. Mencari objek pemandangan lain, selain mata Zalfa.
“Kamu benar-benar masih menarih amarah pada Arkhan atas pernikahanku dengannya?” Tanya Zalfa. “Aku sangat mengenalmu sebagai pria baik, jangan nodai hatimu itu dengan kebencian dan dendammu pada Arkhan. Itu hanya akan mengubah dirimu menjadi Faisal yang nggak berakhlak, hanya akan mengotori hatimu sendiri. Kamu bahkan sudah meninggalkan ibumu karena kemarahanmu padanya, lalu sekarang kamu begitu antusias mencari pelaku pelenyapan ibumu karena nama yang menjadi terduga adalah Arkhan.”
Faisal menghela nafas. “Aku pastikan Arkhan nggak akan keluar dari tahanan setelah polisi membuktikan bahwa dialah pelaku pelenyapan ibuku. Aku yakin dialah pelakunya.” Faisal melangkah masuk meninggalkan Zalfa yang menatap kepergiannya.
***
TBC
KLIK LIKE HAYOO.
.
__ADS_1
.
.