
Zalfa masih diam terpaku. Ia tidak percaya jika ternyata Arkhan adalah seorang peretas bank. Rasanya seperti mimpi di siang hari. Jika perkataan Atifa benar, berarti hal itukah yang dirahasiakan Arkhan terhadapnya selama ini? inikah alasan ketidakjujuran Arkhan terhadapnya?
Zalfa menatap Ismail. Pria itu mendekatinya sambil tersenyum getir. Ismail memegang tangan Zalfa dan membimbingnya duduk ke dofa. Ia masih menggenggam tangan asiknya seperti sedang memberi kekuatan.
Zalfa balas menatap tatapan kosong kakaknya. Entah siapa yang sekarang harus dikuatkan, bahkan Ismail sendiri pun sedang membutuhkan sandaran untuk menguatkan dirinya sendiri.
“Mas, kamu harus kuat dan tabah.” Zalfa hanya bisa mengucapkan kata-kata itu.
Ismail tersenyum. “Mas udah tahu resikonya sejak awal. Dan inilah yang terjadi. Mas mengira kalau Atifa benar-benar akan berubah, tapi ternyata tidak. Dan kamu Zalfa, jangan jadikan kejadian antara Mads dan Atfa menjadi pedoman, bukan berarti nasib Mas ini juga akan menimpamu. Belum tentu Arkhan akan sama seperti Atifa yang nggak bisa mengubah akhlaknya menjadi lebih baik. Percayalah, Tuhan akan membantumu. Kalaupun Atifa nggak bisa berubah setelah semua yang Mas lakukan, bukan berarti Tuhan nggak sayang sama Mas kan? Justru Tuhan sayang karena Dia menunjukkan hal yang ebnar. Ini ujian dan kita harus tetap bersabar dan bersyukur. Ada hikmah baik di balik semua ujian yang Tuhan berikan.”
“Ya Tuhan, aku bersyukur memiliki sosok kakak lelaki yang berhati lapang seperti Mas.”
Ismail mengusap punggung tangan Zalfa sekilas.
Zalfa kemudian bergegas meninggalkan Ismail saat ingat roti Pak Maman yang ada di mobilnya. Maria pasti sudah lama menunggunya. Zalfa langsung menuju kamar Maria saat sudah sampai ke rumah Arkhan. Ia membawa serta roti pesanan dengan perasaan tak menentu, ia yakin Maria sudah kelaparan akibat menunggunya terlalu lama.
Namun tidak seperti yang Zalfa bayangkan, Maria justru tersenyum menyambut kedatangannya. Tidak sedikitpun terlihat ekspresi kesal meski wanita itu harus menahan lapar.
__ADS_1
“Maaf, Ma. Aku lama. Tadi ada sedikit urusan sehingga terlambat pulang,” ujar Zalfa sambil memberikan roti tersebut.
“Tidak apa-apa.” Maria menerima roti tersebut.
“Mama pasti sudah sangat lapar gara-gara aku.” Zalfa merasa sangat sungkan.
“Tidak juga. Aku baik-baik saja. Ayo, kemarilah, kita makan bersama.” Maria menarik lengan Zalfa dan mengajak wanita itu duduk di ruangan depan kamar, pada sebuah sofa. Maria meletakkan ponselnya ke meja. Kemudian ia membuka kotak makanan dan mulai menyantapnya. “Ayo, makanlah!” titahnya melihat Zalfa yang hanya terdiam karena masih merasa bersalah.
“Iya iya.” Zalfa akhirnya ikut makan. “Hmm... enak sekali.”
“Benarkah? Kau menyukainya?”
Maria tersenyum. “Kalau begitu makan saja semuanya. Kamu pasti akan suka.”
“Eh, enggak, Ma. Mama makan aja. Ini kan ada dua porsi.”
“Untukmu saja. Aku sudah mencicipi sebagian. Au senang melihatmu berselera makan.” Maria melihat cara Zalfa menyantap roti dengan senyum lebar. “Ponselku sepertinya rusak. Sejak tadi tida bisa untuk mengirim pesan,” ujar Maria.
__ADS_1
“Coba kulihat.” Zalfa meraih ponsel Maria.
“Ya, periksa saja. Siapa tahu kau bisa mengatasinya.” Maria berjalan emmasuki kamarnya.
Zalfa mengecek ponsel Maria. Namun tanpa sengaja ia melihat sebuah pesan keluar yang gagal terkirim. Sekilas ia membaca pesan yang ditulis oleh Maria dan ditujukan ke pusat restoran delivery.
Tolong antar makanan ke rumah saya
Saya sudah sangat lapar
Saya sedang tida enak badan, malas keluar
Zalfa menahan nafas saat membaca pesan tersebut. Ya Allah, ternyata begitu mulia hati mertuanya tersebut. Hatinya entah terbuat dari apa, selalu saja rela mengorbankan dirinya demi orang lain.
Zalfa melirik jam di pergelangan tangannya. Belum terlalu siang, dan ia sudah sangat menunggu kepulangan Arkhan dan meminta penjelasan tentang pembobolan bank seperti yang dikatakan Atifa.
BERSAMBUNG
__ADS_1
AYO, beri dukungan dengan poin biar aku update terus karena semangat. Jagain SN supaya tetap berada di rank 10 besar