
Malam itu, Zalfa menatap meja makan yang dipenuhi oleh aneka ragam lauk-pauk lengkap dengan makanan penutup serta pencuci mulut. Sore tadi ia sudah memasak banyak lauk untuk makan malam. Selama ini keluarga Arkhan kerap makan di luar, atau delivery. Mereka jarang menginjakkan kaki di ruang makan. Kursi dan meja makan seperti hanya sebuah simbol, pemanis dan pelengkap ruangan.
Zalfa menghabiskan waktu selama dua jam di dapur untuk bisa menyulap meja makan menjadi seperti restoran. Tentu saja dibantu oleh Mbak Yen.
“Lauk, lengkap. Selada, timun, tomat, buah. Trus apa lagi?” Zalfa meneliti piring-piring yang tersaji. Merasa sudah lengkap, Zalfa menuju ke kamar Maria. Terdengar suara musik yang volumenya tidak begitu keras bersumber dari kamar Maria, diiringi suara merdu Maria yang menyanyi menggunakan mikrophon.
Melalui pintu yang setengah terbuka Zalfa melihat Maria yang tampak asik menyanyikan lagu kuno dengan satu tangan memegangi mikrophon dan tangan lainnya bergerak-gerak seperti sedang menikmati lagu yang diedndangkan. Wanita tengah baya itu berdiri membelakangi.
“Mama!” Zalfa memasuki kamar.
Maria menoleh melihat Zalfa yang masuk ke kamarnya. Ia kemudian mengecilkan volume musik dan bertanya, “Ada apa, Zalfa?”
“Aku mengganggu ya, Ma?”
“Tidak. Kenapa?”
“Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Aku masak banyak tadi. Kuharap Mama akan menyukai masakanku,” tutur Zalfa dengan senyum lebar.
__ADS_1
“Kebetulan sekali. Aku sedang lapar sekarang.” Maria mematikan vcd. “Aku ke kamar kecil sebentar.” Maria berjalan menuju kamar mandi.
“Kutunggu di ruang makan.” Zalfa keluar kamar Maria dan langsung menuju kamarnya. Begitu membuka pintu, ia langsung disambut dengan pemandangan yang membuat kepala geleng-geleng. Arkhan tidur pulas di ranjang dengan selimut menutup separuh tubuh bawahnya.
Zalfa melirik jam dinding, masih terlalu cepat untuk seorang Arkhan tidur. Bahkan saat itu masih jam tujuh.
Zalfa mendekati ranjang. Menatap wajah Arkhan yang sedang tertidur pulas. Pria itu terlihat seperti bayi besar dengan posisinya yang miring memeluk bantal guling. Zalfa menyentuh lengan Arkhan pelan. Pria itu tidak bergerak, sama sekali tidak terganggu dnegan sentuhan lembut Zalfa.
“Arkhan!” Zalfa menggguncang pelan lengan Arkhan dengan penuh kehati-hatian.
“Bangunlah! Ini masih petang dan kamu udah terlelap. Arkhan!”
“Hm,” gumam Arkhan dengan suara malas dan mata yang masih terpejam.
“Sore tadi kita udah sepakat untuk makan bersama malam ini, bukan? Aku udah masak banyak, kamu harus memakannya.” Zalfa meletakkan dagunya di atas lengan Arkhan.
“Hm.”
__ADS_1
Meski menjawab, Arkhan masih tidak bergerak dari posisinya. Pria itu bahkan malah membenamkan wajahnya ke bantal.
“Arkhan! Ayolah! Apa kamu akan membuatku merasa sia-sia dengan hasil masakanku?” Zalfa gemas sekali melihat Arkhan yang sulit dibangunkan. “Jam segini kamu udah tidur, ini bukan waktu yang baik untuk tidur.”
Arkhan tidak menggubris ucapan Zalfa.
Kesal, Zalfa menarik lengan Arkhan hingga tubuh kekar itu meletentang.
“Ayo, bangun!” Zalfa memelas.
Arkhan membuka sedikit kelopak matanya, menatap waah Zalfa sebentar lalu matanya kembali terpejam.
“Ya ampun!” Zalfa mengesah kesal. Aha… ia punya ide. Ia membingkai pipi Arkhan dengan kedua telapak tangannya. Lalu ia memajukan wajahnya mendekati wajah Arkhan.
Deg! Jantung Zalfa berdetak tak menentu saat wajahnya sudah berada di jarak satu centi dari wajah Arkhan. Dia berniat ingin mencium Arkhan, namun saat jarak wajah mereka sudah sangat dekat, mendadak perasaan Zalfa kalang kabut sendiri. Ia merasa canggung dan deg-degan.
TBC
__ADS_1