
Zalfa menatap ke sekeliling sambil berkata, “Maaf, Bapak-bapak ibu-ibu, itu tadi mantan istrinya Mas Ismail yang seperti sedang ingin mengacaukan pernikahan ini. Mohon maaf untuk kejadian barusan.” Zalfa menoleh ke arah penghulu. “Pak, acara bisa dimulai kembali.”
Ismail menghela nafas saat bersitatap dengan Zalfa.
Zalfa mendekati Ismail kemudian mendekatkan mulutnya dengan telinga Ismail dan berkata lirih, “Mas tetap tenang ya, semua akan baik-baik aja. Tetap fokus dengan ijab qobul. Biar aku yang urus Mbak Atifa.”
Ismail mengangguk. “Makasih.” Ia kembali duduk di sisi Tini. Tangannya diletakkan di atas punggung tangan Tini. “Maaf atas kejadian barusan.”
“Aku nggak apa-apa, kok,” lirh Tini dnegan kepala menunduk.
Ismail menghadap penghulu dan memulai kembali ijab qobul.
Zalfa menyusul ke luar, mengejar Atifa yang diseret oleh beberapa orang. Ia berdiri tepat di hadapan Atifa, membuat langkah Atifa beserta orang-orang yang menyeret pun turut berhenti.
“Mbak Atifa, makasih atas kedatanganmu ke sini di waktu yang tepat. Sebab kemunculanmu ini justru membongkar kebusukanmu sendiri di hadapan umum,” geram Zalfa dengan gigi menggemeletuk. “Kau yang berselingkuh dengan laki-laki lain setelah Mas Ismail mengangkat derajatmu dari lembah hitam, duniamu yang dulunya sebagai wanita malam, tapi itu kau sia-siakan. Dan sekarang kau ingin kembali padanya setelah semua kebaikan yang dilakukan Mas Ismail? Malulah pada dirimu sndiri!”
__ADS_1
“Heeei…. Kamu pikir kamu udah hebat dengan bicara begitu padaku? Aku ini kakak iparmu, sembrono sekali kamu sampai bicara begitu sama aku,” gertak Atifa dengan sorot mata tajam. Namun kemudian tatapannya itu berubah teduh, ekspresi wajahnya pun berubah mendung. Air matanya lalu berderaian. “Zalfa, kamu adik iparku, jangan marahi aku. Aku masih sangat mencintai Mas Ismail. Biarkan aku hidup bersamanya. Dia satu-satunya laki-laki yang aku cintai. Hu huuuu…” Atifa sesenggukan.
“Mbak, udah ya! Tinggalkan tempat ini! Jangan bikin kekacauan, atau kulaporin ke polisi!” ancam Zalfa.
“Tega kamu! Tega kamu sama kakak iparmu sendiri. Hu huuu… aku sedih diginiin. Mas Ismail, tolong belain istrimu!”
“Kamu adalah manusia yang nggak pantas dikasihani, yang kulakukan ini belum seberapa dibanding dengan perbuatanmu padaku. Perbuatan kakak ipar yang tega pada adik iparnya hanya demi sejumlah uang. Pergilah!” tegas Zalfa sambil menunjuk kea rah jalan.
“Enggak. Aku nggak mau pergi, aku mau ketemu Mas Ismail. Hiks…” Tangis atifa mendadak ebrhenti. Wanita itu kemudian terkekeh. “Aku Cuma ingin mendapat cium dari Mas Ismail, kok. Jangan pisahin aku dari dia, ya. Nanti kamu kukasih permen deh. Cepetan suruh Mas Ismail nemuin aku, ya. Aku kangen sama dia. Ssst… jangan bilang siapa-siapa, Mas Ismail itu suka banget sama jari kelingkingku. Tuuuu… jarinya cantik gini.” Atifa memutar-mutar jari kelingking yang dia taruh di dekat matanya.
Zalfa menghela nafas melihat tingkah laku Atifa yang nyeleneh. Ia mulai sadar jika ada yang tidak beres dengan Atifa. Mungkin isi kepala Atifa tidak kuat memikul beban yang terasa menyumpal penuh, hingga akhirnya justru menjadi seperti sekarang. Zalfa sampai terkejut saat melihat Atifa tertawa keras. Suaranya seakan memecah gendang telinga.
“Udah, lepasin! Jangan pegang-pegang. Biar aku cari Mas Ismail sendiri.” Atifa melpaskan lengannya dari pegangan bapak-bapak dengan cara menghentakkannya. Kemudian ia berjalan keluar sambil menggerutu sendiri. Entah apa yang dia katakan.
“Gila tuh orang!” seseorang menyeletuk.
__ADS_1
Zalfa hanya bisa menatap setiap langkah Atifa hingga menghilang dari pandangan. Begitu mudahnya Tuhan memperlihatkan keburukan seseorang, begitu ringannya Tuhan menunjukkan rendahnya seseorang, begitu entengnya Tuhan membuka aib seseorang. Dan dengan mudah pula Tuhan membuat harga diri orang menjadi rendah, sesuai dengan balasannya.
BERSAMBUNG
Terus dukung cerita ini dengan bagi-bagi poin yah.
Sekali lagi buat yg mau kepoin instagramku, boleh follow @emmashu90
.
.
.
.
__ADS_1