
Di sebuah klinik, Arkhan duduk di kursi tunggu dengan tidak sabar. Tidak ada lagi kumis tebal yang menghias atas bibirnya. Tidak ada lagi topi di kepalanya. Hembusan nafasnya yang kasar, tangannya yang sesekali mengusap wajah, serta tingkahnya yang bolak-balik berdiri dan duduk, menunjukkan betapa dia sangat tidak sabar menunggu hasil pemeriksaan Zalfa di dalam ruangan.
“Apa saja yang diperiksa dokter? Lama sekali!” Arkhan menggerutu saking tak sabar. Kakinya pun sampai bergerak-gerak terus menunjukkan ketidaksabarannya.
“Namanya juga pemeriksaan kandugan, pasti lama.” Seseorang menyeletuk di sisi Arkhan.
Mendengar celetukan itu, sontak Arkhan menoleh, menatap wanita yang mengomentari perkataannya. Sial, berani sekali dia menjawab. Arkhan tidak membutuhkan komentar siapa pun atas gerutuannya. Sepertinya tadi Arkhan berbicara dengan volume kecil, tapi ternyata terdengar juga oleh sosok yang duduk di sisinya.
“Lagi nungguin istri, kan?” tanya wanita itu.
Arkhan mengangguk kecil, kemudian berpaling dan fokus pada pemikirannya.
“Kenapa nggak ikutan masuk ke dalam aja?” tanya wanita itu lagi.
Kenapa wanita di sisinya itu bawel sekali? Arkhan menggaruk caruknya yang tidak gatal.
“Apa kau tidak ditunggui oleh suamimu?” Arkhan balik tanya.
“Suamiku ada, kok.”
“Mana dia? Kenapa tidak di dekatmu?”
__ADS_1
“Dia sedang ke toilet.”
Nah, apa rasanya diinterogasi oleh orang asing? Sengaja Arkhan yang balik serang dengan interogasi tidak penting. Tapi tidak seperti yang Arkhan harapkan, bukannya kesal, wanita itu malah tersenyum.
Arkhan malas menanggapi, dia kembali berpaling.
Beberapa pasang suami istri memenuhi ruangan, menunggu dnegan sabar. Mayoritas ibu-ibunya sudah hamil besar.
Tak lama kemudian, Zalfa keluar. Denting bel berbunyi dan terdengar pengeras suara memanggil daftar nama pasien berikutnya.
Arkhan langsung berdiri menyambut Zalfa. “Bagaimana?” tanyanya penuh harap.
“Zalfa, aku bertanya dan kau tidak menjawabnya.” Arkhan menyentuh lengan Zalfa.
“Maafin aku, Mas Arkhan. Aku…”
“Kau tidak bersalah dan kau minta maaf padaku. Jangan katakan itu lagi!” potong Arkhan tampak panik. Ekspresi Zalfa yang murung membuat Arkhan menerka jawaban dari pertanyaannya sendiri. Hanya untuk mendengar penjelasan Zalfa saja, dia mesti harus perang batin dulu. Zalfa pun malah bicara ngalor ngidul. “Aku butuh jawaban, Zalfa!”
“Aku kira jika udah telat datang bulan adalah sebuah tanda-tanda bagi wanita kalau aku sedang hamil. Tapi kata dokter hal itu bisa saja terjadi pada wanita yang sedang stres. Kamu jangan kecewa ya, dokter bilang aku memang udah telat datang bulan, dan katanya aku hamil.”
Arkhan terkejut mendengar kata-kata di ujung kalimat Zalfa. Awalnya Zalfa sengaja membuat pernyataan untuk menggiring pemikiran Arkhan seakan-akan Zalfa tidak hamil, namun pada akhirnya cukup mengejutkan.
__ADS_1
“Jadi…”
Kata-kata Arkhan terputus saat Zalfa menghambur dan langsung memeluk tubuh Arkhan erat-erat.
“Aku hamil, Mas Arkhan,” bisik Zalfa di telinga Arkhan.
Arkhan balas memeluk Zalfa. Dia benamkan wajahnya di pundak wanita itu. Hatinya mendadak terasa dingin, kabar yang disampaikan Zalfa entah kenapa menghadirkan rasa yang berbeda dalam dirinya. Sebuah harapan yang dulu tertanam saat menanti sang buah hati, kini kembali tercipta dalam benaknya. Namun harapan itu terasa lebih besar dari yang dia rasakan dulu.
“Aku hamil. Aku hamil. Akhirnya penantian kita terwujud juga.” Suara Zalfa bergetar, dia terharu dan ingin menangis. Tapi tidak, Zalfa tidak mau menangis. Dia hanya ingin tersenyum.
Arkhan melepas pelukan, menatap Zalfa dengan intens. Senyuman di wajah Zalfa membuatnya terpaku sesaat. Keningnya mengernyit dan kemudian dia berkata, “Ooh… jadi kau sengaja mengerjaiku?” Ia memperlihatkan ekspresi kesal bercampur bahagia.
Zalfa tergelak karena merasa berhasil ngerjain Arkhan.
“Maaf.” Zalfa mengangkat dua jadi tanda berdamai. Entah kenapa dia jadi hobi ngerjain Arkhan.
TBC
.
.
__ADS_1