SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
224.


__ADS_3

Zalfa menoleh ke arah Mbak Yen yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya. Senyum Zalfa mengembang ditujukan kepada pembantu itu.


“Eh, Mbak Yen, ngagetin aja,” ungkap Zalfa. “Loh, kok Mbak Yen belum pulang? Jam segini kan seharusnya Mbak Yen udah di rumah?”


“Saya ingin menjaga Nona. Nona kan sedang hamil. Biarkan saya mengurusi Nona,” jawab Mbak Yen tulus.


“Ya ampun, Mbak Yen, aku bisa kok mengurusi diriku sendiri. Nggak ada yang mesti Mbak Yen lakukan untukku.” Zalfa tersenyum manis.


“Biasanya tuh orang hamil pasti butuh pendampingan, Non. Butuh banyak hal untuk kepentingannya. Apa lagi kondisi Nona sekarang lemes begitu. Saya lihat, Nona sering muntah-muntah. Perut jarang diisi. Kalu Nona nggak diperhatiin, Nona bisa sakit lagi.”


“Ada Mama Maria yang perhatiin aku, kok. Mbak Yen jangan cemas.”


“Nyonya Maria kan sudah tua dan beliau juga kadang sakit, beliau nggak bisa full memperhatikan Nona. Lihatlah muka Nona pucat.” Mbak Yen memperhatikan kulit wajah Zalfa.


Tak lama, Zalfa menyentuh pelipisnya sementara tangan lainnya menutup mulut. Detik berikutnya, dia menghambur menuju westafel, mengeluarkan apa saja di dalam perutnya meski sebenarnya isi perutnya sudah kosong. Beberapa kali dia sudah muntah saat di perjalanan menuju pulang hingga dia sebentar-bentar berhenti di jalan. Sungguh, perutnya terasa mual sekali. Kepalanya keliyengan. Badannya juga terasa dingin.

__ADS_1


“Ya ampun, Non. Kondisi Nona begini, kan?” Mbak Yen mengambil minyak kayu putih, tangannya masuk ke jilbab belakang Zalfa dan mengolesi minyak kayu putih ke caruk leher wanita itu. “Saya biar di samping Nona aja, pengganti Tuan Arkhan. Biasanya orang hamil kan maunya dimanja-manaja sama suami. Anggep aja saya ini Tuan Arkhan.”


Zalfa kumur-kumur. Lalu mengelap sekeliling mulutnya dengan tisu. Dia melirik Mbak Yen yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. “Sebenernya aku laper, Mbak.” Zalfa berucap lirih.


“Nah, tuh kan. Akhirnya ngaku juga.”


“Tapi aku nggak mau makan apa-apa.”


“Ya udah, biar Mbak masakin aja. Nona mau dimasakin apa sekarang?


Zalfa menggeleng. “Nggak tau, Mbak. Mulutku rasanya nggak enak makan. Mencium bau makanan aja rasanya mual.”


Zalfa tersenyum samar. Di saat begini pun Mbak Yen malah sempat berseloroh.


“Aku minatnya makan sosis,” ucap Zalfa.

__ADS_1


“Lah, nggak malah mual mencium baunya, Non?”


“Nggak tau. Tapi aku pinginnya itu.”


“Ya udah, biar saya gorengin sosisnya. Saya ambil di kulkas dulu.” Mbak Yen menuju ke kulkas. Mukanya mendadak seperti orang beg* sesaat setelah membuka kulkas, ia tidak mendapati sosis di sana. “Yaah… stok sosis di kulkas habis, Non. Giman, dong? Eeee… ya udah biar saya belikan di luar.”


Zalfa tersenyum. “Minimarket agak jauh dari sini, bair aku aja sendiri yang beli keluar.”


“Nggak usah, Non. Biar saya keluar naik motor sebentar. Nona tunggu di rumah aja.” Mbak Yen menghambur pergi. Dia kembali setelah lima belas menit berlalu. Dia membuat sop sosis sesuai permintaan Zalfa.


Zalfa sedang tidak minat makanan yang digoreng-goreng. Dia hanya ingin makanan berkuah. Tak butuh waktu lama hingga sop disajikan di meja makan. Zalfa menyantap hanya beberapa suap saja. Setelah itu dia meminta supaya Mbak Yen menghabiskan sisa sop. Mubajir jika dibuang.


“Apa masakan saya nggak enak, Non?” Mbak Yen pesismis. “Kok, nggak dihabisin? Itu kan hanya seporsi saja.”


“Cukup merasakan beberapa kunyah aja udah ngilangin kepingin, Mbak.” Zalfa tersenyum kemudian melangkah meninggalkan ruang makan. Dia menuju kamar. Pertama yang menjadi pandangannya adalah bantal kosong dimana tempat Arkhan dulu berbaring. Zalfa berbaring di ranjang. Tangan mungilnya menjulur dan menyentuh bantal.

__ADS_1


Arkhan… Aku kangen.


TBC


__ADS_2