
“Ini pegang dulu!” Zalfa memberikan keranjang belanja ke tangan Arkhan, membuat Arkhan membelalak kaget meski ia tidak menolak keranjang tersebut. Kenapa selalu saja Arkhan merasa takluk kepada Zalfa? Dia kini terlihat seperti pria sayang istri dengan memegangi keranjang belanja. Pria tampan berbadan gagah ke pasar membawa keranjang belanja. Sungguh ironis.
Netra mata Arkhan sekilas menatap ke sekitar. Mayoritas orang menatapnya dengan snyum. Bahkan banyak gadis yang membicarakannya.
“Duuh... menggemaskan sekali cowok itu. udah ganteng banget, rela bawa keranjang belanja istri.”
“Aku juga mau punya suami kayak dia.”
“Rasanya pingin kucubit pipinya. So sweet banget.”
“Gantengnya kebangetan.”
Arkhan akhirnya memilih untuk sedikit menjauh dari keramaian pasar supaya tidak merasakan desakan hebat yang mungkin saja bisa membuatnya eneg.
“Ayo, sini!” Zalfa yang sudah berjalan beberapa meter hampir memasuki kepadatan pasar, kembali lagi mendekati Arkhan dan menggelandang tangan pria itu. “Aku mau belanja. Keranjangnya aja kamu yang bawa. Ikut aku!”
Astaga! Arkhan mengikuti Zalfa memasuki area penjualan ikan yang begitu padat dan berdesakan. Cipratan air ikan yang menggelepar mengenai kaos Arkhan.
“Apakah kau tidak bisa berbelanja sendiri saja?” Arkhan masih setia mengikuti Zalfa meski sejujurnya dia merasa ingin segera melarikan diri dari sana.
__ADS_1
“Aku harus belanja banyak hari ini. aku mengajakmu supaya kamu membantuku membawakan barang-barang belanjaan,” jawab Zalfa dengan suara setengah berteriak supaya Arkhan mendengar suaranya. Ditengah keramaian dan hiruk-pikuknya pasar, Zalfa harus mengeraskan volume suara agar suaranya tidak tertelan keramaian.
“Jadi, aku harus mengikutimu, begitu?” Arkhan mengernyit.
“Ya itulah gunanya kamu ikut ke pasar.”
Oh Tuhan. Arkhan menghela nafas panjang. Hatinya tak henti merutuk. Jika bukan karena Zalfa, dia tentu tidak akan sudi membawa keranjang belanja dan menyusuri pasar kumuh seperti itu. berkali-kali dia merutuk saat terkena cipratan air dari ikan hidup yang dijual.
Zalfa berhenti menghampiri penjual daging sapi.
Tabrakan kuat dari arah belakang membuat Zalfa terkejut dan menoleh. Arkhan mengangkat alis mendapat tatapan kaget dari Zalfa setelah ia menjadi tersangka aksi tabrak barusan. Dia tidak tahu jika Zalfa akan berhenti, sehingga dia menabrak Zalfa di depannya. Pandangan matanya berkeliling entah kemana, akibatnya main seruduk sekenanya.
Arkhan dengan setia menunggui Zalfa membeli daging. Arkhan rasanya tidak sabar mendengar percakapan antara Zalfa dan penjual daging yang berlangsung cukup lama. Zalfa tak henti menawar harga daging meski penjual ngotot dengan harga yang dia tentukan.
“Kurang lima ribu aja deh kalau gitu,” tawar Zalfa.
“Nggak bisa, Mbak. Mbak boleh keliling pasar ini dan cari harga yang lebih rendah dari ini, saya jamin disinilah harga termurah, Mbak.”
“Zalfa, ayolah! Bayar saja harga segitu. Apa lagi?” Arkhan berbisik.
__ADS_1
“Kalau mau kurang kan lumayan, aku bisa beli dua kilo,” balas Zalfa yang juga berbisik.
Ugh... Arkhan benar-benar gemas dengan makhluk yang namanya wanita. Lima ribu saja dipersoalkan. Zalfa adalah tipe orang yang dermawan dan suka berbagi, tapi dalam hal berbelanja, dia sangat memperhitungkan. Sungguh aneh. Arkhan semakin tidak mengerti dengan yang namanya wanita. Semakin ke sini, semakin unik.
“Ya sudah, Pak. Berikan saja harga seratus lima belas ribu per kilo, dua kilonya jadi dua ratus tiga puluh ribu,” kata Arkhan dengan entengnya.
Tentu saja si penjual menatap Arkhan kesal tanda menolak. Sejak tadi dia berdebat dengan Zalfa mengenai harga yang tidak akan dia turunkan dan sekarang Arkhan malah berkata begitu.
Arkhan mengambil uang dua ratus tiga puluh ribu yang sudah digenggam di tangan Zalfa dan memberikannya kepada penjual daging. Lalu Arkhan mengambil daging yang sudah dikantongi sebanyak dua kilo dan memasukkannya ke keranjang belanja. Setelah itu, dia merogoh uang dari saku kantong celananya, dia menarik uang sepuluh ribu dan menyerahkannya kepada penjual. “Itu kekurangannya,” kata Arkhan sambil mendorong tubuh Zalfa menjauh dari sana.
Zalfa tidak banyak bicara lagi. Arkhan bisa aja. Pikirnya tertawa. Ia kemudian berkeliling pasar mencari perlengkapan belanja. Arkhan masih setia mengikuti Zalfa membawakan keranjang belanja meski tak ada habisnya hatinya mengutuk sepanjang waktu.
Sumpah demi apa, Arkhan benar-benar kapok dan tidak akan sudi melakukan kegiatan itu lagi. jika bukan demi Zalfa, wanita yang dia cintai, tentu dia akan membuang keranjang belanja itu di tengah jalan.
...Bersambung...
Bantu Arkhan naik ranking lagi ke 10 besar yuk. kasih vote yaaaa 🥰🥰🥰
.
__ADS_1
.
.