
Jantung Zalfa berdesir mendengar pengakuan Arkhan bahwa dirinya adalah sumber pelemah diri Arkhan. Entah kenapa ia bahagia sekali menjadi satu-satunya alasan kelemahan Arkhan? Tapi yang jelas, pengakuan itu membuatnya merasa menjadi paling penting di mata Arkhan. Dan pengakuan itu seperti emas yang menghunaji hatinya. Apakah itu artinya kini Arkhan sudah menduduki tahta kerajaan di hatinya?
Zalfa menghambur dan menubruk dada Arkhan. Ia melingkarkan kedua lengannya ke tubuh pria itu. Arkhan yang mendapat pelukan dadakan itu pun terkejut dan membeku di tempat, bingung.
“Arkhan, aku mencintaimu.” Zalfa memejamkan mata saat mengucapkannya. Dia membenamkan pipinya ke dada Arkhan. Dan ia tiba-tiba merasakan dentuman kuat dari detakan di dada yang menempel di pipinya. Zalfa juga merasakan urat-urat tubuh yang menegang dalam pelukannya itu perlahan kembali normal.
Zalfa memundurkan tubuh untuk memberi jarak kemudian mengangkat wajah, ia menatap wajah pria yang lebih tinggi darinya dengan pipi merah ranum.
Arkhan membalas tatapan Zalfa datar. Kemudian tangan pria itu terangkat dan menyentuh belakang kepala Zalfa.
“Apa katamu? Aku mau mendengarnya sekali lagi,” tukas Arkhan dengan tatapan intens.
“Aku… Aku mencintaimu,” ulang Zalfa.
“Aku bukan pria baik-baik, dan kau mencintaiku?” Suara Arkhan berbisik.
__ADS_1
“Aku juga bukan manusia baik, kita sama-sama belajar untuk menjadi baik.”
“Kamu nggak akan mungkin mau mengatakannya jika mengetahui aku yang sebenarnya.” Arkhan menarik kepala Zalfa seiring dengan kepalanya yang maju, lalu mendaratkan bibirnya di hidung wanita itu.
“Aku nggak akan menuntut kejujuran darimu, kamulah yang harus jujur padaku tanpa kuminta. Siapa pun dirimu, aku tetap istrimu. Ini adalah kenyataan dan kita nggak bisa memungkirinya lagi.”
Tatapan mata Arkhan semakin dalam. Ia maju selangkah hingga jarak diantara mereka terkikis habis. Satu lengan Arkhan melingkar erat di punggung Zalfa hingga membuat posisi mereka pepet maksimal. Tangan lainnya memegang jilbab dan menariknya hingga lolos dari kepala Zalfa. Tampaklah rambut hitam berkilau.
“Aku nggak menjamin kau akan mengulang kalimat yang sama setelah kau ketahui semua tentangku,” bisik Arkhan sambil mengusap-usap rambut Zalfa yang masih dalam posisi diikat.
“Sudah kukatakan, kamu pasti akan mengatakan dengan sendirinya, tanpa aku menuntutnya.”
“Mungkin sifatmu yang mudah emosi, mungkin juga ketidakjujuran yang katamu masih kamu sembunyikan, dan entahlah.”
“Aku tidak bisa marah sungguhan padamu. kau jadikan aku seperti batu saat kau tantang kemarahanku. Dan aku tidak berdaya setelahnya.” Arkhan melanjutkan aksinya hingga gamis milik Zalfa telah teronggok di lantai.
__ADS_1
“Kamu suamiku, Arkhan. Aku berhak untuk menguasai emosimu.” Zalfa tersentak saat tanpa sadar ia sudah terbaring di atas kasur. Entah kapan Arkhan membimbing tubuhnya hingga kini ia sudah berada di kasur empuk itu. Kedua telapak tangannya kemudian menahan dada Arkhan saat pria di atasnya itu hendak maju.
“Apa?” bisik arkhan.
“Katakan satu hal padaku, bagaimana perasaanmu terhadapku sekarang?” Zalfa menatap lekat bola mata hitam di hadapannya.
Arkhan terdiam, ekspresinya sulit ditebak. Sorot matanya bercahaya. “Dalam keadaan normal, aku tidak akan mau menyentuh wanita jika tanpa cinta.”
Nyes!
Entah kenapa, mendengar ucapan Arkhan, hati Zalfa terasa sejuk seperti disiram air es. Rona merah wajahnya membuktikan bahwa ucapan Arkhan memiliki pengaruh besar dalam dirinya.
“Jangan tanyakan hal itu lagi padaku, Zalfa! Aku tidak bisa membuktikannya.” Arkhan melepas kancing kemejanya dan melempar ke sembarang arah. “Pejamkan matamu, ini akan terasa nikmat.”
Seperti diremot, Zalfa menuruti ucapan Arkhan, matanya terpejam dan ia merasakan sensasi indah yang diciptakan oleh Arkhan.
__ADS_1
***
TBC