
Zalfa sedang sibuk memakaikan baju Shanum. Bayi mungil itu diam saja, matanya yang bulat menatap satu titik, yaitu wajah mamanya. Dia memang bayi yang pintar dan baik hati, tidak rewel, dan tidak banyak tingkah.
Dia diam saat dimandikan, juga diam saat dipakaikan pakaian, jarang menangis, dan sangat mudah saat hendak tertidur. Dia mempermudah Zalfa melakukan aktifitas. Shanum juga tidak menangis saat bangun dari tidur, dia diam saja dan hanya menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Bahkan terkadang sudah dalam posisi menelungkup saat Zalfa mendatanginya.
Zalfa melirik Arkhan yang sibuk menyusun pakaian ke dalam koper. Bukan hanya satu koper, tapi dua koper. Satu koper berukuran kecil diisi dengan pakaian milik Shanum. Ada berbagai macam perlengkapan yang dia susun di koper tersebut. Mulai dari handuk, mainan, tempat tidur bayi, selimut, sampai kepada perlengkapan mandi dan bedak untuk Shanum.
Meski Arkhan adalah pria yang tidak luwes dalam mengurus bayi, namun perhatiannya kepada bayinya dengan cara seperti itu sudah cukup membuktikan kalau dia ayah yang perhatian kepada anak. Terbukti dia memahami barang apa saja yang dibutuhkan bayi saat akan bepergian.
Sedangkan koper lainnya yang berukuran besar diisi dengan pakaian Arkhan dan juga pakaian milik Zalfa.
Zalfa mengamati Arkhan yang sedang sibuk memilih pakaian milik Zalfa. Pria itu tampak cekatan saat memilihkan pakaian untuk istrinya. Bukan itu saja, dia juga menyiapkan jilbab, make up yang sering dipergunakan oleh Zalfa, serta seluruh perlengkapan istrinya dnegan detil.
Luar biasa, Zalfa dibikin geleng-geleng kepala atas tingkah suaminya. Kali ini bukan istri yang sibuk melayani suami, justru suami yang sibuk mengurus keperluan istri. Dan yang mengagumkan, tidak satu pun barang yang terlewatkan oleh Arkhan. Semuanya komplit dan tersusun dengan rapi di dalam koper.
“Mas Arkhan, biar aku saja yang menyelesaikannya,” kata Zalfa yang merasa iba melihat suaminya sibuk menyusun pakaian.
“Aku bisa melakukannya.”
__ADS_1
“Seharusnya kita packing-packing sejak semalam. Tapi kamu nggak bilang kalau jadwal penerbangan kita hari ini.” Zalfa menyesalkan proses dadakan itu. “Kalau kita packing sejak semalam, hari ini tentu kita nggak sibuk begini.”
“Kau percayakan saja semuanya kepadaku.”
Zalfa tersenyum tipis mendengar perkataan suaminya. “Oke, deh. Aku percayakan sama kamu. Tapi nanti kalau ada yang ketinggalan gimana?”
“Gampang. Kita beli saja di sana.” Alan menatap Zalfa. Kemudian dia menyebutkan semua perlengkapan Zalfa yang sudah dia susun di dalam koper. Setelah dia menyebutkan perlengkapan istrinya satu per satu, dia pun bertanya, “Bagaimana, apakah masih ada yang tertinggal?”
“Waw, luar biasa, mengagumkan. Menurutku sudah lengkap.” Zalfa menatap Arkhan kagum.
“Oke. Waktu penerbangan masih ada beberapa jam lagi. Kita berangkat sekarang saja, nanti kita bisa menunggu di executive lounge.” Arkhan menarik gagang koper di kedua tangan kiri dan kanannya. Dia kemudian mendekati Zalfa lalu membungkukkan tubuhnya untuk dapat menjangkau wajah Shanum lebih dekat.
Shanum hanya menatap wajah Arkhan saja. Dia masih bayi dan belum bisa mengekspresikan apa yang sedang dia rasakan.
“Comon!” Arkhan memerintah Zalfa berjalan duluan.
Zalfa pun menuruti, dia melangkah di depan dan Arkhan mengikuti di belakang. emy sudah menunggu di bawah, sebuah tas teronggok di dekat kakinya yang berdiri di lantai satu.
__ADS_1
“Kita berangkat sekarang, Non?” Tanya Emy melihat Zalfa yang menuruni anak tangga..
“Ya, apa kamu udah siap?” Zalfa balik Tanya.
“Sudah.”
Maria dan Elia yang sejak tadi sudah menunggu di lantai bawah, langsung berdiri saat melihat Zalfa dan Arkhan. Mereka mengantar Zalfa sampai ke teras. Maria menyampaikan sederet pesan yang mungkin jika ditulis bisa dijadikan sebuah novel, pesan itu panjang sekali. Mulai dari harus berhati-hati, waspada terhadap bahaya, jangan lengah pada tindak kejahatan yang siap mengincar kapan pun, sampai kepada urusan jangan telat makan dan kesehatan Shanum harus benar-benar diperhatikan.
Zalfa tersenyum dan menganggukkan kepala mendengar serentetan pesan mertuanya. Maria begitu perhatian kepadanya.
Zalfa, Arkhan dan Emy memasuki taksi online saat sebuah mobil memasuki halaman rumah.
Elia melambaikan tangan sambil melompat-lompat di tempat dan senyum yang cukup lebar.
“Hati-hati di jalan! Jangan lupa bawakan aku oleh-oleh!” teriak Elia.
Zalfa balas melambaikan tangan. Arkhan meletakkan satu lengannya di pundak Zalfa berusaha membuat posisi istrinya senyaman mungkin.
__ADS_1
Kaca mobil ditutup saat Elia hilang dari pandangan dan mobil sudah bergerak melaju di jalan raya.
TBC