SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
Godaan Istri Kedua (2)


__ADS_3

Tatapan Bu Rena menerawang jauh ke depan, dia sedang mengenang sesuatu. “Anak saya itu namanya Devan. Dia pendiam dan penurut. Tapi sayang sekali malah nasibnya buruk. Dia berpamitan pergi untuk menemui pria yang katanya bernama Bustan. Setelah itu dia tidak kembali. Dia hilang entah kemana. Hanya jam tangannya yang tertinggal dan ditemukan polisi di tempat kejadian. Bustan waktu itu menjadi tersangka, namun tetap saja tidak ada bukti akurat yang menunjukkan bahwa Bustan sudah melenyapkan putra saya. Sedih sekali rasanya.”


Penjelasan Bu Rena membuat jantung Sabiya seperti disengat listrik. Tubuhnya membeku seketika. Jadi benar, pria yang dia nikahi adalah seorang mafia besar? Jika bukan mafia kelas besar, mana mungkin dia bisa membunuh dengan menghilangkan jejak, semuanya bersih dibuatnya.


Tubuh Sabiya lemas sekali rasanya. Pria yang dia nikahi adalah seorang penjahat. Sabiya jadi ketar- ketir sekarang.


“Sebelum Devan menghilang, dia mengaku menjadi saksi kejahatan transaksi barang haram. Sehari setelah itu, Devan berpamitan akan menemui orang yang bernama Bustan. Sampai sekarang, anak saya tidak ditemukan. Padahal awalnya pihak yang berwajib telah menetapkan Bustan sebagai tersangka, tapi entah kenapa Bustan sudah bebas sekarang. Dia berbahaya. Saya sedih sekali. Padahal Devan adalah tulang punggung saya. Dia yang menafkahi saya. Sekarang saya harus menjadi buruh cuci baju untuk menyambung hidup,” jelas Rena dengan mata berkaca- kaca.


“Ibu yang sabar!” Sabiya berusaha memberikan kekuatan dengan kata- kata, juga dengan elusan singkat di punggung tangan ibu Rena yang sudah mengeriput.


“Makasih ya, Bia. Kamu sudah datang dan menghibur Saya! Saya jadi merasa punya teman.”


Sabiya mengulum senyum. Ia pun tak tahu harus tertawa atau menangis sekarang, sejak tadi ia masih merasa lemas karena baru tahu bahwa suaminya adalah mafia.


***


Bab 4. Takut


Bia melangkah masuk rumah dengan langkah lemas. Tubuhnya kontradiksi dengan pikiran yang menyerang tentang Bustan. Sama sekali tak menyangka jika ia menikah dengan seorang pria jahat.


Sabiya kembali ke rumah Bustan. Rumah yang baru dibeli oleh pria itu khusus untuk tempat tinggalnya bersama dengan Bia.


Deg!


Jantung Sabiya berdetak keras menatap Bustan yang duduk di sofa dengan kaki menyilang di atas meja, kedua tangan asik memainkan hape.


Ya Rabb… mendadak organ tubuh Sabiya menjadi semakin lemas. Apakah ini karena Bia takut menjadi korban mati berikutnya?


Blug klontang dung!


Tas yang sejak tadi diremas oleh tangan Sabiya terjatuh, benda- benda di dalam tas sampai berhamburan keluar. Mulai dari bedak, lipstick dan kotak bedak pun meluncur keluar. Efek nyali mendadak ambyar, Sabiya jadi gemetaran. Sejak tahu bahwa Bustan adalah seorang pria kejam, Sabiya jadi merasa seperti ditodong senjata api saat bertemu dengan Bustan.


Sabiya bergegas memungut benda- benda miliknya yang berserakan dengan tangan gemetar. Terutama kotak bedak yang di dalamnya terdapat rahasia yang harus dijaga oleh Sabiya. Tak boleh Bustan sampai tahu. Dia tadi membeli benda yang dia selipkan dan disembunyikan di dalam kotak bedak itu. jangan sampai Bustan mengetahuinya.


"Sudah pulang?" tanya Bustan masih dengan pandangan tertuju ke ponsel.


Bruk! Prak!


Tas kembali terjatuh dan isinya berhamburan keluar lagi.


Yasalam. Gara- gara mendengar suara Bustan menanyai, Sabiya sampai jadi kaget begitu. Semua barang di tangannya terjatuh. Ini efek jantung kaget jadinya sampai begini.


“Dari mana kamu?” tanya Bustan.

__ADS_1


“Dari pasar. Pondok. Warung. Eh, cangkir!”


Loh? Kok malah kesebut cangkir segala? Sabiya bingung mau jawab apa. Jika bilang dari pasar, tapi tak ada satu pun barang yang dia beli di pasar. Mau bilang pondok menjenguk adik, tapi kejauhan, sebab pondok adiknya itu jauh sekali. Ada di luar kota. Dan terakhir malah cangkir.


Bustan bangkit berdiri, berjalan mendekati Sabiya yang baru saja selesai memungut benda- benda miliknya dan dimasukkan kembali ke dalam tas.


Sabiya menelan, menatap wajah tampan yang dulu terlihat manis, namun kini wajah tampan itu membuat Sabiya merasa ketakutan.


Sebenarnya tak ada raut kejam di wajah Bustan, wajah itu tampak sangat maskulin dan teduh. Tapi Sabiya sudah terkecoh dengan pengetahuannya tentang Bustan, pria itu menakutkan sekali.


Sabiya kembali menelan, menyadari bahwa dia sudah menjadi istri seorang mafia jahat.


“Yang benar dari mana? Pasar? Pondok? Warung? Atau cangkir?” tanya Bustan.


“Warung,” jawab Sabiya agak gugup. Ya Tuhan, kenapa ia harus merasa setakut ini pada Bustan? Hati Sabiya sedang berperang melawan ketakutan, supaya bisa menghadapi Bustan dengan tenang, namun benaknya tak bisa dibohongi.


“Lama sekali? Apa yang kau cari di warung?”


“Aku tadi membeli sembako, lalu aku berikan kepada warga yang nggak mampu untuk sedekah.”


Jawaban Sabiya membuat Bustan terdiam. Sedekah?


Sabiya melangkah masuk menuju ke ruangan lain. Perasaan cemas membaur dalam benaknya. Kesal, takut, emosi, juga ingin menangis.


Mudah saja bagi Bustan mengatakan supaya Bia menikmati kekayaan dengan senang, tapi nyatanya tidak. Rasanya Bia malah menjadi sesak dan memuakkan.


Tak pernah terpikir bagi Bia untuk hidup menjadi orang ketiga dalam kehidupan orang lain. Lalu kenapa ia dipaksa menjadi pelakor begini?


Brrrrt...


Getaran ponsel membuat Bia segera meraih benda itu.


"Halo!" sapa Bia pada Fahri, tetangganya yang sejak kecil menjadi teman baiknya itu. Mereka dulu senasib, sama- sama menjadi orang susah.


Sekarang Fahri sudah terlihat mapan dengan menjadi chef di restoran ternama dengan gaji yang juga cukup besar. Berbeda dengan Bia yang malah terjerumus ke dalam pernikahan gila.


"Hei, apa kabar Bia? Bagaimana pernikahanmu? Semua okey kan?" Fahri terdengar girang.


“Enggak.” Bia sadar bahwa satu- satunya sahabat yang bisa dipercaya, yang paling mengerti dirinya adalah Fahri. Berbicara dengan orang yang tepat dan bisa dipercaya bukanlah bermaksud mengumbar aib, namun mencari solusi, mengurangi beban dan mengharap kebaikan.


“Enggak? Maksudmu?” Fahri agak kaget.


Dada Bia terasa sesak. Rasanya ingin mengungkapkan semuanya supaya plong. “Mas Bustan sudah punya istri. Istrinya nggak bisa punya anak dan aku dinikahi hanya untuk menghasilkan anak. Ini pernikahan yang sama sekali nggak aku inginkan.”

__ADS_1


Fahri terdiam. Tak ada balasan suara di seberang sana.


“Fahri!” panggil Bia setelah cukup lama lawan bicaranya itu terdiam.


“E eeh.. I iya? Kok, bisa begitu? Maksudku, kenapa suamimu setega itu?” Fahri terdengar belepotan. “Jadi sekarang kamu maunya bagaimana?”


“Aku mau minta cerai. Tapi Mas Bustan nggak mau menceraikan aku. Yang aku hadapi ini bukan orang sembarangan. Aku nggak berkutik, Fahri.” Bia geregetan. “Aku harus bagaimana?”


Terdengar suara Fahri melepas napas panjang.


“Bia, jangan gegabah. Kamu harus pikirkan masalah ini matang- matang. Ini bukan masalah kecil. Jika ini menyangkut keselamatan ayahmu, akan lebih baik kamu berhati- hati.”


“Justru itu, aku nggak bisa berbuat banyak. Ya udahlah. Kamu menelepon di saat yang nggak tepat. Lain kali aja kita bicara. Aku sedang pusing.” Bia mengucap salam dan menutup sambungan telepon.


Bia tidak sudi mendampingi pria kejam itu. Pembunuh. Dia harus berpisah dari Bustan. Harus! Jangan sampai ia terjebak di dalam pernikahan ini.


Sabiya tentu ingin mengabdi dan menghabiskan waktu bersama dengan pria yang bisa menjadi imamnya, penuntunnya menuju surga, bukan pria seperti Dajjal yang tega menghabisi nyawa manusia serta pekerjaannya adalah segala sesuatu yang haram.


“Bia!”


Panggilan itu membuat Sabiya terkejut hingga hp di tangannya melompat dan terjatuh ke lantai. Lagi- lagi suara Bustan membuat Bia seperti hampir diterkam singa.


Bia memungut hp dan mengangkat wajah, menatap Bustan dengan rasa takut.


Pria yang memiliki tubuh gagah dan dada bidang itu melangkah masuk mendekati Sabiya yang duduk di sofa. Ia mengawasi ekspresi wajah Sabiya dengan seksama.


“Ada apa denganmu? Kau kelihatan seperti sedang syok begitu?” tanya Bustan.


Sabiya menggeleng. “Aku nggak apa- apa. Aku hanya sedang pusing dan merasa stress” ia bangkit berdiri. Meletakkan tas ke meja. Kini posisinya membelakangi Bustan. Ia sedang mengumpulkan nyali untuk bicara.


“Mas, kalau kamu nggak mau menceraikan aku, maka aku yang akan mendatangi kantor agama untuk mengajukan perceraian. Aku mau pisah!”


Tubuh Bia berputar dan menghadap Bustan ketika ia mendapat tarikan kuat dari tangan pria itu. mereka bersitatap dalam jarak dekat. Bahkan hembusan napas keras Bustan terasa menampar keras di wajah Sabiya.


Bustan semakin maju hingga membuat jarak mereka terkikis habis. Sabiya merasakan permukaan tubuh mereka saling menempel. Percayalah, Sabiya merasakan seluruh permukaan tubuh pria itu menempel dan ia dapat merasakan segala lekuk dan tonjolan pada pria itu.


"Berapa lama lagi aku harus menunggu keturunanku terlahir? Kau tidak boleh pergi dariku!"


Ya Tuhan, Bustan berharap mempertahankan Bia hanya karena ingin secepatnya mendapat keturunan. Peduli apa Sabiya dengan keturunan Bustan?


Bersambung


Ayuuk silakan menjadi saksi kisah cinta Bustan dan Bia di bab selanjutnya. jangan sampai ketinggalan loh

__ADS_1


__ADS_2