SALAH NIKAH

SALAH NIKAH
245.


__ADS_3

Zalfa menoleh saat mendengar suara langkah kaki memasuki dapur, dia melihat Elia yang muncul dari arah kamar.


“Kamu nggak ke sekolah?” Zalfa menatap pakaian Elia yang menggunakan pakaian sehari-hari.


“Enggak. Aku diskors,” jawab Elia enteng sekali.


“Loh? Kenapa?” Zalfa memotong ikan.


“Berantem.”


“Ya ampun.” Zalfa geleng-geleng kepala.


Elia mengambil minuman dingin dari kulkas lalu meneguknya.


“Kalau minum jangan berdiri, duduk, dong!” Zalfa melirik Elia yang minum dari botol dengan posisi berdiri.


Seperti diremot, Elia langsung menghempaskan tubuh ke kursi dekatnya berdiri.


Zalfa senang sekali melihat perubahan sikap Elia, gadis itu tidak lagi menampilkan ekspresi sangar di hadapannya. Bahkan Elia kini cenderung menurut meski masih suka marah-marah.


“Kamu mau sarapan enak nggak?” Tanya Zalfa.


“Maulah.”

__ADS_1


“Ayo, bantuin kakak masak.”


“No no no! Aku nggak mau masak. Mendingan deliv atau makan di luar dari pada disuruh masak. Kak Zalfa aja yang masak, masakan Kak Zalfa kan diakui enak sama mama.” Elia berbicar dengan tegas.


Zalfa hanya tersenyum meski sebenarnya hatinya bertanya, tidakkah Elia tahu jika kini ekuangan tidak sebaik dulu? Bahkan untuk urusan listrik, air, makan, biaya sekolah Elia, uang jajan Elia dan lain sebagainya menggunakan uang milik Zalfa. Lalu bagaimana bisa Elia akan bolak-balik deliv atau makan di luar dan bergaya hidup seperti dulu lagi dengan kondisi seperti sekarang? Bahkan keuangan Arkhan di perusahaan tempatnya menanam saham pun macet setelah Arkhan tersandung masalah hukum. Saat ini, satu-satunya pemasukan hanyalah kafe kecil milik Zalfa.


Sepanjang Zalfa memasak, Elia hanya menonton. Dia senang sekali saat diberi tugas mencicipi masakan. Kemudian dia lari ngibrit memanggil Maria untuk diajak sarapan setelah hasil masakan Zalfa sudah disajikan di meja makan.


Zalfa menuju ke kamar, tujuannya ingin membangunkan Arkhan. Tapi pintu kamar terbuka sebelum dia menjamahnya. Arkhan menyembul ke luar dengan penampilan yang sudah rapi. Pria itu terlihat terburu-buru, dia mengancing kemja sambil berjalan dengan langkah lebar, bahkan ikat pinggangnya juga masih tersamping di pundak. Setelah selesai mengancing kemeja, Arkhan tampak disibukkan dengan gerakan memasang ikat pinggang.


“Mas Arkhan, kamu mau kemana?” Zalfa mengikuti Arkhan yang melangkah menuju ke luar.


Arkhan berhenti dan menoleh, menatap Zalfa. Lagi-lagi, Arkhan merasa dirinya masih sendiri di saat begini. Dia main selonong bepergian tanpa memberi tahu kepada Zalfa arah tujuannya.


“Ooh…”


Arkhan menatap tangan Zalfa yang bergerak dengan cekatan memasang ikat pinggangnya.


“Kamu pergi naik apa?” Tanya Zalfa.


“Entahlah, yang jelas aku pakai kendaraan umum. Jika jumpa taksi, maka aku akan naik taksi. Jika jumpa ojek, aku pun naik ojek.”


Zalfa mengangkat alis mendengar penjelasan Arkhan. “Ada uangmu? Kalau nggak ada, biar kuambilin.”

__ADS_1


“Hei hei, jangan meremehkanku! Tanpa uang pun aku masih bisa bepergian. Jangan menganggapku tidak mampu berbuat apa-apa.” Ekspresi wajah Arkhan tampak berbeda saat mengatakannya. Dia merasa seperti tidak berguna saat harus diberi uang oleh istrinya. Baginya itu adalah hal memalukan. Seharusnya dialah yang memberi uang kepada istri, bukan sebaliknya.


“Mas Arkhan, bukan begitu maksudku. Aku hanya…”


“Kau jangan menjelaskan apa pun. Aku tidak butuh uangmu. Simpan saja uangmu untuk dirimu sendiri, tidak masalah bagiku jika Elia dan mama membutuhkannya, berikan saja.” Arkhan mengubah nada bicaranya yang sedikit meninggi menjadi lebih lembut, dia tidak bermaksud menyakiti Zalfa dengan cara bicaranya. Dia hanya tidak ingin terlihat lemah di mata wanita. “Zalfa, doakan aku. Setelah semua ini selesai,aku berharap bisa mengembalikan keadaanmu seperti dulu lagi, tidak hidup seperti ini.”


Zalfa tersenyum. “Aku udah merasa cukup bahagia dengan kondisi seperti ini. Jangan memikirkan hal itu. aku nggak masalah, kok.”


Arkhan melepas nafas panjang.


“Ya sudah, pergilah! Hati-hati!” Zalfa mengelus sebentar dada arkhan kemudian menyalami tangan Arkhan dan mencium punggung tangan itu.


Arkhan mengangguk kemudian berlalu pergi dengan langkah lebar.


Hati Zalfa dipenuhi dengan sederet doa, mendoakan semoga Arkhan selalu dilindungi oleh yang Maha Kuasa serta dapat menjalankan tugas dengan sangat baik.


...BERSAMBUNG...


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2