
Zalfa merasakan sapuan sejuk Ac yang membelai kepalanya mengingat jilbab sudah melayang entah kemana. Dia menikmati elusan di rambut serta kecupan di seluruh wajahnya, bibir Arkhan terasa dingin menyapu kulit wajahnya.
“Angkat dagumu!” bisik Arkhan.
Zalfa menggeleng.
“Kenapa?” Arkhan memberi jarak antara wajahnya dengan wajah Zalfa. Keduanya bersitatap dan merasakan hembusan nafas masing-masing.
Muka Zalfa mendadak merah merona ditatap Arkhan seperti sekarang. Tatapan suaminya itu terlihat berbeda saat menginginkan dirinya begini, terkesan lebih mengggigit.
“Enggak apa-apa.” Zalfa bingung harus menjawab apa.
Arkhan menarik sudut bibir melihat pipi istrinya yang merah ranum. Dia tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
Melihat tingkah Zalfa, dia baru tahu kalau wanita sering kali bersikap malu-malu tapi mau.
Dengan tanpa Zalfa mengangkat dagu, Arkhan pun melakukan aksinya, memberikan sentuhan manja di leher wanita itu.
“Awh!” pekik Zalfa saat merasakan sesuatu yang menekan pahanya.
“Kenapa?” bisik Arkhan menatap wajah Zalfa di bawahnya yang merintih.
“Ini!” Zalfa menunjuk pahanya.
“Oh, maaf.” Arkhan mengangkat lututnya. Dia terlalu bersemangat sampai tidak sadar telah membuat Zalfa menahan sakit di paha.
Pagi itu menjadi pagi yang penuh semangat bagi pasangan sejoli itu. dan Zalfa mendapatkan kembali sentuhan yang selama ini dia rindukan. Setiap kecupan, sentuhan dan gerakan pria itu membuat Zalfa semakin mendamba.
Benar apa kata Arkhan, dalam urusan ranjang, pria itu memang selalu hebat. Dia pria yang kuat. Benar-benar mengagumkan.
Nyaris sempurna, itulah yang Zalfa ketahui pada sosok seperti Arkhan.
Arkhan kini berbaring miring menghadap Zalfa yang juga berbaring miring ke arahnya. Mereka bertukar pandang setelah menyelesaikan adegan panas yang membuat keduanya merasakan keindahan.
Keringat yang membanjir sudah disapu bersih oleh sejuknya Ac.
“Zalfa, aku ingin mengajakmu pergi ke Singapura,” ucap Alan setelah keduanya hanya membisu.
__ADS_1
Bagaimana Zalfa tidak membisu, isi kepalanya sedang asik membayangkan dan mengulang adegan yang baru saja terjadi. Dia mengagumi sosok pria di hadapannya. sosok yang dulu penuh arogan dan mudah terpancing emosi, kini berubah menjadi sosok yang mengagumkan. Bukan hanya sikapnya saja yang berubah untuk bisa dikagumi, sosok di hadapannya itu memiliki banyak kelebihan yang patut dikagumi. Dalam hal bekerja, memanjakan wanita, bahkan dalam urusan ranjang pun mengagumkan, dia selalu mengutamakan wanita.
“Zalfa!” panggil Arkhan lagi.
“Eh? Ya?” Zalfa tergagap.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Maaf, kamu ngomong apa tadi?”
“Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau pikirkan sehingga tidak mendengarku?” selidik Arkhan.
Zalfa tersenyum tipis. “Aku mengingat kehebatanmu tadi.” Pipi Zalfa benar-benar memanas setelah mengucapkan itu.
Arkhan menarik sudut bibirnya. “Apa kau ingin mengulangnya lagi?”
Zalfa membelalak. “Udah, ah.”
Arkhan tersenyum melihat Zalfa kikuk akibat mendapat godaan darinya.
“Aku ingin mengajakmu ke Singapura,” ulang Arkhan.
“Ngapain?”
“Jalan-jalan.”
“Bulan madu?”
Lagi-lagi Arkhan tersenyum tipis. “Kita akan pergi bersama Shanum.”
“Serius?” Zalfa tampak girang.
“Sejak kapan aku bicara sembarangan? Tentu saja ini serius.”
“Baiklah. Tentu aku senang sekali. Kapan kita pergi?”
“Dalam waktu dekat ini. Aku akan mengambil cuti.”
__ADS_1
“Oke.” Zalfa menyentuh punggung tangan Arkhan dan mengelusnya pelan, lalu menggenggam tangan kokoh itu. dia merasakan sesuatu mengalir dalam peredaran darahnya saat menggenggam tangan kokoh suaminya.
“Kau menyentuhku begini, juniorku hidup lagi,” bisik Arkhan membuat Zalfa sontak melepas genggaman tangannya.
Arkhan bangkit bangun lalu menggulingkan tubuhnya dan kini berada di atas Zalfa. “Kau yang memulainya, jangan salahkan aku menagihnya lagi.”
Zalfa tidak bisa protes. Dia membiarkan saja saat Arkhan menyibakkan selimut yang sejak tadi menutupi tubuh mereka dan mengulang adegan panas itu. Sampai akhirnya keduanya membelalak saat terdengar suara nyaring Elia dari luar kamar memanggil Zalfa.
“Kaaaak… kak Zalfa, Shanum nangis, tuh. Cepetan ambil Shanum!” jerit Elia.
Zalfa tampa kelabakan, namun Arkhan terlihat tidak peduli.
“Mas Arkhan!” lirih Zalfa.
“Kita selesaikan dulu, nanggung!” balas Arkhan mempercepat gerakannya.
“Kak Zalfa, kakak ngapain di dalam? Ayo, keluar. Shanum di bawah nangis, tuh!” jerit Elia sambil menggendor pintu.
“Ya, Zalfa akan keluar!” seru Arkhan sambil melompat turun dan menyambar pakaiannya.
TBC
.
.
.
Akan ada kabar terbaru mengenai Shanum, mau tau?
Cek instagramku @emmashu90
aku akan umumin di sana.
Love,
Emma Shu
__ADS_1